Breaking News:

Cegah Stunting, Kemenkominfo Imbau Remaja untuk Jalani Pola Hidup Sehat dan Hindari Pernikahan Dini

Anak stunting secara fisik akan terlihat lebih pendek, memiliki daya intelektual dan nalar yang rendah sehingga sulit bersaing.

Penulis: Dwi Nur Hayati | Editor: Sheila Respati
DOK. Kemenkominfo
Koordinator Informasi Komunikasi Kesehatan Direktorat Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (IKPMK), Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), Marroli J Indarto, dalam acara Diseminasi Informasi dan Edukasi Percepatan Penurunan Stunting bertajuk Kepoin GenBest: Remaja Sadar Gizi, Cegah Stunting Sejak Dini di Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, Kamis (15/9/2022). 

TRIBUNBATAM.ID - Koordinator Informasi Komunikasi Kesehatan Direktorat Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (IKPMK), Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), Marroli J Indarto mengatakan, edukasi mengenai pencegahan stunting harus dimulai dari kalangan remaja.

Pasalnya, kurangnya asupan gizi baik sejak usia ibu masih remaja dan pernikahan dini menjadi penyebab anak yamg dilahirkan mengalami stunting

Tindakan preventif, kata Marroli, dapat dilakukan oleh kalangan remaja. Selain menjaga pola hidup sehat dengan mengonsumsi makanan bergizi, pencegahan pernikahan dini perlu dilakukan.

“Remaja diimbau menjalani pola hidup sehat dan menghindari pernikahan dini, agar saat mereka menjadi orangtua bisa melahirkan generasi sehat bebas stunting,” imbuhnya dalam keterangan pers yang diterima Tribunbatam.Id, Sabtu (17/9/2022).

Hal itu disampaikan Marroli dalam Diseminasi Informasi dan Edukasi Percepatan Penurunan Stunting bertajuk “Kepoin GenBest: Remaja Sadar Gizi, Cegah Stunting Sejak Dini” di Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau (Kepri), Kamis (15/9/2022).

Pada kesempatan tersebut, ia menjelaskan bahwa anak stunting secara fisik akan terlihat lebih pendek, memiliki daya intelektual dan nalar yang rendah sehingga sulit bersaing.

Terkait pernikahan pada usia remaja, Marroli menyampaikan bahwa masalah tersebut masih menjadi persoalan. Tingkat pernikahan dini di Indonesia masih tinggi. 

“Hal ini menjadi concern atau fokus pemerintah agar pernikahan dini dapat ditekan,” jelasnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah pernikahan dini atau pernikahan anak pada 2020 berada di angka 10,18 persen. Angka ini masih di atas target Strategi Nasional Pencegahan Perkawinan Anak (Stranas PPA, yaitu 8,74 persen di akhir 2024.

Meski demikian, Marroli mengaku, angka prevalensi stunting di Indonesia terus membaik dari tahun ke tahun.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved