Breaking News:

WISATA LINGGA

Tempat Wisata di Lingga, Museum Linggam Cahaya Jadi Pusat Informasi Sejarah

Museum Linggam Cahaya termasuk destinasi wisata sejarah di Lingga. Tempat ini menyimpan benda peninggalan sejarah lebih kurang sebanyak 5.569 koleksi

Penulis: Febriyuanda | Editor: Dewi Haryati
Prokopim Lingga/Arpa Aindi
Wisatawan asal Malaysia saat mengunjungi Museum Linggam Cahaya di Daik, Kabupaten Lingga, Provinsi Kepri, Selasa (6/9/2022) 

Hewan dengan ukuran 12,40 meter ini pada awalnya ditemukan pada 13 Januari 2005 di Pantai Dungun, Desa Teluk, Kecamatan Lingga Utara berdekatan setelah peristiwa Tsunami Aceh.

Hewan ini memiliki panjang ekor 1,80 meter, panjang gading 2,40 meter, tebal kulit 10 sentimeter, panjang sirip bawah 78 sentimeter, dan lebar sirip bawah 47 sentimer.

Ciri lainnya dari gajah laut ini memiliki rambut, belalai, dan ekor seperti ikan.

Selain itu, sebelum memasuki Museum, pengunjung akan melihat ribuan kendi yang terpajang di halaman depan.

Dari ruang depan lantai dua, ribuan kendi ini membentuk sebuah tulisan bertuliskan 'Musuem Linggam Cahaya'.

"Kemarin ada 1346 buah (kendi-red), cuma ada yang pecah kini tinggal lebih kurang 1150 kendi.

Kendi ini dikumpulkan dari bangsal gambir atau bekas dapur gambir di kaki bukit," kata Pemerhati Sejarah dan Budaya Lingga, Lazuardy kepada tribunbatam.id, Sabtu (17/9/2022).

Pria yang merupakan ASN dari Dinas Kebudayaan Lingga ini menjelaskan, bahwa proses pembangunan Museum Linggam Cahaya ini dimulai pada Agustus 2002 hingga selesai pada 7 Mei 2003.

Namun pada awalnya, Musuem ini masih dinamakan Musuem Mini Linggam Cahaya.

"Pada 2001 sudah mulai mengumpulkan barang-barang koleksi dan 2002 juga masih mengumpulkan barang sekaligus tahap pembangunan. Selanjutnya 2003 baru dibuka untuk kunjungan," kata Lazuardy.

Baca juga: Lestarikan Permainan Tradisional, Museum Linggam Cahaya Lingga Gelar Lomba Kasti

Selanjutnya dibangun kembali Museum lebih besar dan pemerintah akhirnya meresmikan dan membuka Museum Linggam Cahaya ini bagi masyarakat umum.

Sejauh ini Dinas Kebudayaan Lingga, masih banyak menerima laporan masyarakat terkait barang sejarah yang masih bisa ditemukan di lingkungan penduduk.

Hal itu, seperti meriam dan juga barang-barang peninggalan sejarah lainnya.

"Untuk mengambil barang itu dari penduduk kita juga perlu anggaran sebagai imbalan. Dan itu (barang peninggalan) masih banyak baik di Daik dan Dabo," ungkap Kepala Bidang (Kabid) Pelestarian Cagar Budaya, Sejarah, dan Permuseuman Disbud Lingga, Abdul Manaf.

(Tribunbatam.id/Febriyuanda)

Baca juga Berita Tribun Batam lainnya di Google

Sumber: Tribun Batam
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved