Breaking News:

TRAGEDI KANJURUHAN

TERUNGKAP Penyebab Suporter Meninggal Dalam Tragedi Kanjuruhan, Terinjak dan Berdesakan

Banyak yang tewas karena keinjak-injak saat hendak keluar dari Stadion dalam Tragedi Kanjuruhan. Mereka terlihat panik karena terkena Gas Air Mata

Editor: Eko Setiawan
SURYA/Purwanto
Kerusuhan setelah pertandingan Arema FC vs Persebaya di Stadion Kanjuruhan Malang, Sabtu (1/10/2022) malam. 

TRIBUNBATAM.id - Tragedi Kanjuruhan menjadi salah satu sejarah kelam Sepakbola Indonesia.

Dalam Tragedi Kanjuruhan diketahui sebanyak 174 orang meninggal dunia.

Mereka meninggal karena banyak yang berdesakan kelaur dan ada juga yang terinjak-injak penonton lain saat menyelamatkan diri.

Sejauh ini Ada 17 jenazah korban meninggal akibat kerusuhan di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, belum teridentifikasi.

Tujuh belas jenazah tersebut berada di Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang, Jawa Timur.

Demikian disampaikan Plt Direktur RSSA Malang Kohar, seperti diberitakan Kompas.com, Minggu (2/10/2022).

Baca juga: Sepakbola Indonesia Disorot Dunia Usai Tragedi Kanjuruhan, Gas Air Mata Jadi Sorotan

Baca juga: Live Streaming MotoGP Thailand 2022, Jadwal Start Ditunda Karena Hujan

Menurut dia, penyebab kematian korban rata-rata adanya trauma di bagian kepala dan dada karena benturan yang disebabkan setelah terinjak, terjatuh atau berdesakan.

"Insya Allah nanti ketemu dengan keluarga, dan diidentifikasi dengan sesuai agamanya, disholatkan, dimandikan (bagi muslim), dikafani baru disholati," kata Kohar saat diwawancarai pada Minggu (2/10/2022).

Dia juga mengimbau kepada masyarakat yang merasa hilang anggota keluarganya karena setelah melihat pertandingan Arema FC Vs Persebaya kemarin (1/10/2022) bisa melapor atau mendatangi RSSA.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa berharap untuk penanganan korban dapat dimaksimalkan oleh petugas medis di masing-masing rumah sakit.

Pihaknya juga saling melakukan koordinasi di tingkat Forkopimda Provinsi Jawa Timur bersama Bupati Malang dan Wali Kota Malang. Kerja sama antarrumah sakit juga dilakukan.

Dia mengatakan masing-masing rumah sakit yang melakukan penanganan terhadap korban telah menggelar zoom meeting.

"Untuk menentukan rujukan ke mana bagi yang membutuhkan tindakan tertentu, maka tindakan yang mengalami luka berat ke RSSA, juga rujukan ke jenazah belum teridentifikasi, selain itu satunya di RSUD Kanjuruhan," kata Khofifah saat diwawancarai.

Total data yang dia terima, untuk data korban hingga pukul 09.30 WIB tadi berjumlah 129 orang meninggal dunia.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved