LINGGA TERKINI
Ramadan di Lingga, Mengenal Tradisi Likuran di Tanah Melayu
Tradisi Likuran selalu dinanti warga saat Ramadan di Lingga. Seperti apa tradisi itu? Berikut laporannya.
Penulis: Febriyuanda | Editor: Septyan Mulia Rohman
LINGGA, TRIBUNBATAM.id - Ramadan di Lingga semakin semarak dengan Tradisi Likuran.
Tradisi Likuran saat Ramadan di Lingga boleh dibilang sangat dinanti masyarakat yang kental dengan budaya Melayu itu.
Saat Ramadan di Lingga, tepatnya di 10 hari terakhir bulan suci umat Islam itu, disemarakkan dengan tradisi likuran saat malam hari.
Hampir setiap masing-masing desa/kelurahan di beberapa wilayahmembangun pintu gerbang atau gapura untuk menyemarakkan Tradisi Likuran di Lingga ini.
Bahkan di Kecamatan Singkep melombakan pintu gerbang saat Ramadan di Lingga ini.
Bagi masyarakat, tradisi likuran di Lingga ini dianggap spesial.
Karena, momen ini menjadi nilai kebahagiaan sendiri bagi masyarakat di sana.
Mulai malam 21 Ramadan di Lingga sudah dimulai dengan sebutan satu likur, hingga sampai ke puncaknya di malam 27 Ramadan, yakni Tujuh Likur.
Pada malam ini, di halaman rumah warga memasang lampu pelita sesuai hitungan malam likuran.
Tidak hanya itu, di sepanjang jalan utama, warga juga menghidupkan pelita yang terbuat dari kaleng atau bambu.
Pemerhati Sejarah dan Budaya Lingga, Lazuardi mengatakan, tradisi likuran ini masih lestari di wilayah Ibukota Daik hingga seluruh wilayah Kabupaten Lingga.
Tradisi ini menurutnya, tidak menyurutkan minat masyarakat untuk mempertahankannya.
Lazuardi menuturkan, Tradisi ini sangat ditunggu oleh Masyarakat.
Terlebih lagi buat para warga akan pulang dari perantauan, karena hanya bisa dijumpai 1 kali dalam setahun.
Pria yang juga bekerja di Dinas Kebudayaan Kabupaten Lingga juga mengatakan, bahwa tradisi malam Tujuh Likur dan pintu gerbang sudah masuk dalam Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) di Lingga sejak 2019 lalu.
Bagi warga, malam Tujuh Likur ini selalu dikaitkan dengan malam Lailatul Qadar.
"Malam Tujuh Liko yang terdapat pada malam 27 Ramadan ini selalu dikaitkan dengan malam Lailatul Qadar yang terdapat pada malam ganjil, di mana malam itu lebih baik dari seribu bulan.
Makanya dari awal malam 21 Ramadhan masyarakat Lingga sudah memasangkan lampu penerangan," kata Lazuardy kepada TribunBatam.id, Kamis (6/4/2023).
Lazuardi menjelaskan, bahwa peringatan malam tujuh likur ini juga mengingatkan, bahwa sebelumnya umat Islam berada pada zaman kegelapan atau malam kebodohan hingga sampai kepada zaman yang terang benderang yang penuh dengan kemajuan.
"Tujuh Likur ini juga yang dimulai pada tahun 80-an, mereka mempererat silaturahim, berkunjung, berbagi rezeki, hingga merayakan berbuka bersama," ucapnya.
Dulu pada masa 70-an, dia menceritakan, masyarakat Melayu Lingga memanfaatkan bahah-bahan bekas atau seadanya untuk membuat pintu gerbang.
Namun sekarang, sudah ada pakai triplek, terpal, maupun lampu penerangan dari listrik yang biasanya hanya dibuat dengan lampu minyak tanah atau pelita.
"Semoga sampai kapanpun tradisi yang ada ini tetap lestari oleh generasi ke generasi," tambahnya.(TribunBatam.id/Febriyuanda)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/Ramadan-di-Lingga-dan-Tradisi-Likuran-di-Tanah-Melayu.jpg)