BATAM TERKINI
Debu Sanblasting Galangan Kapal Bikin Warga Tanjungriau Resah, Ada yang Rasakan Sesak
Usman, mengatakan semenjak pandemi Covid-19 berakhir kondisi galangan kapal di wilayah mereka memiliki produksi meningkat. "Kita lihat memang produksi
TRIBUNBATAM.id, BATAM - Warga Tanjungriau, Kecamatan Sekupang, resah. Hal ini dikarenakan kondisi debu sanblasting dari aktifitas perusahaan yang ada di wilayah Tanjungriau.
Debu sanblasting tersebut membuat warga merasa sesak saat bangun tidur, dan kulit terasa kesat. "Biasanya perusahaan itu melakukan blasting kapal malam hari, kalau siang hari jarang," kata Usman, warga Tanjungriau, Kamis (27/7/2023).
Usman, mengatakan semenjak pandemi Covid-19 berakhir kondisi galangan kapal di wilayah mereka memiliki produksi meningkat. "Kita lihat memang produksi kapal tongkang sudah mulai banyak, seperti di KTU Sekupang," katanya.
Dia menceritakan galangan kapal yang terbuka jadi bisa terlihat dari laut."Kita kalau turun ke laut, bisa lihat kapal-kapal yang diproduksi di dalam galangan," katanya.
Dia juga mengatakan belakangan perusahaan galangan kapal di Tanjungriau sering melakukan sanblasting, "Jadi debunya sangat meresakan warga. Apalagi saat angin berhembus ke wilayah pemukiman,"kata Usman.
Dia mengkhawtirkan jika dibiarkan berlarut bisa menimbulkan gatal-gatal atau penyakit kulit lainnya. "Yang paling kita khawatirkan anak-anak,"kata Usman.
Di kutip dari Wikipedia, bahwa Sand blasting adalah satu cara untuk membersihkan permukaan logam dari berbagai macam kotoran. Seperti debu, cat, oli, karat dan sebagainya. Yaitu dengan menyemprotkan pasir jenis tertentu ke seluruh permukaan logam. Sehingga terjadi gesekan dengan kecepatan tinggi. Lalu permukaan logam tampak bersih. Seperti baru.
Masih dari laman Wikipedia. Sand blasting ditemukan oleh seorang tentara warga Amerika, yang bernama Benjamin Chew Tilghman. Pada tahun 1870. Kemudian mengajukan paten untuk proses sand blasting, beserta teknik aplikasi untuk berbagai benda. Seperti mengasah file, mengukir botol, membersihkan boiler, dan mengerluarkan biji-bijian dalam kayu.
Mengenai dampak dari Aktifitas Sanblasting di perusahaan yang ada di Tanjungriau tersebut, Anggota Komisi III DPRD Kota Batam, Tumbur Hutasoit, mengatakan pihaknya sudah mendapat keluhan dari masyarakat.
"Kita masih dalami memgenai keluhan dari masyarakat tersebut. Kita juga meminta kepada masyarakat agar membuat aduan kepada DPRD," katanya.
Tumbur, menjelaskan kondisi perusahaan galangan kapal di Kota Batam yang berada di lokasi terbuka sangat rentan meresahkan masyarakat sekitar."Apalagi galangan kapal sudah tentu berada di pinggir laut, otomatis angin kuat, jadi debu dari perusahaan akan berdampak terhadap masyarakat sekitar dalam radius ribuan meter," kata Tumbur.
Dia juga mengatakan seharus perusahaan galangan kapal harus memiliki workshop khusus untuk pelaksanaan sanblasting."Sanblasting ink sangat berbahaya. Dimana debu bercampur karat. Jika terhirup bisa sesak napas," kata Tumbur.
Dia juga mengatakan pihaknya juga sudah berencana akan melakukan Sidak ke Pt. KTU yang berada di Tanjungriau."Kita sangat mendukung perusahaan terus berkembang di Kota Batam, tetapi kita juga meminta agar perusahaan menaati aturan dan peduli terhadap lingkungan," kata Tumbur.(Tribunbatam.id, Ian Sitanggang)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/galangan-kapal.jpg)