Senin, 13 April 2026

BATAM TERKINI

Warga Kampung Panau Batam Datangi PT Blue Steel Industries, Soroti Penimbunan Laut

Perusahaan diketahui menyepakati keluhan warga Kampung Panau Batam soal penimbunan laut.

TribunBatam.id/Pertanian Sitanggang
DEMO WARGA KAMPUNG PANAU NONGSA BATAM - Sejumlah warga Kampung Panau, Kelurahan Kabil, Kecamatan Nongsa, Kota Batam, Provinsi Kepri membentangkan spanduk saat unjukrasa depan PT Blue Steel Industries Nongsa, Kamis (30/11/2023). Mereka resah dengan aktivitas penimbunan laut oleh perusahaan yang berada dekat dengan tempat tinggal mereka. 

TRIBUNBATAM.id, BATAM - Manajemen PT Blue Steel Industries yang berlokasi dekat Kampung Panau, Kecamatan Nongsa, Kota Batam sepakat menghentikan sementara penimbunan laut.

Poin kesepakatan itu setelah sejumlah warga Kampung Panau mendatangi perusahaan dan berunjuk rasa, Kamis (30/11).

Mereka gusar dengan aktivitas penimbunan di laut oleh perusahaan dekat kampung mereka.

Kondisi ini membuat air keruk serta nelayan tak bisa lagi mencari ikan dekat kampung.

Jurnalis TribunBatam.id melaporkan jika perwakilan perusahaan bernama Feri dalam pertemuan bersama warga menyepakati penghentian sementara penimbunan itu sampai ada surat izin yang bisa ditunjukkan ke masyarakat.

Selanjutnya perusahaan akan melakukan sosialisasi kepada masyarakat, dan yang terakhir pertemuan akan dilakukan pada 6 Desember 2023 yang akan datang.

Sebelum ada pertemuan dan kesepakatan dengan masyarakat, perusahaan memyepakati untuk menghentikan sementara penimbunan laut.

Unjuk rasa di Batam mendapat pengawalan ketat dari anggota Polsek Nongsa dan Koramil setempat.

Sementara seorang warga Kampung Panau, Mak Ngah mengatakan sejak adanya aktivitas penimbunan laut itu, mereka tidak bisa lagi mencari udang dan juga kepiting di pantai saat air surut.

Ini karena lumpur sudah sangat tebal di pantai.

"Kalau air surut tak ada lagi pasir apalagi karang yang nampak, semunya sudah tertutup lumpur," katanya.

Sementara kepiting dan udang serta ikan yang mereka peroleh, menurutnya biasa dijadikan lauk untuk sehari-hari.

"Kalau mau mencari ikan, harus jauh ke tengah laut, sementara kami ini hanya nelayan tradisional, alat kami pun masih tradisional," ucapnya.

Dia mengatakan sejak adanya penimbunan laut yang dilakukan oleh Perusahaan tersebut mereka sudah tidak bisa lagi mencari nafkah.

"Kami tak bisa lagi bantu suami. Suami kami kalau melaut bisa tiga sampai empat hari baru pulang, sebelum suami pulang kami mau makan laut apa," katanya lagi.(TribunBatam.id/Ian Sitanggang)

Sumber: Tribun Batam
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved