GUNUNG MARAPI MELETUS
Kesaksian Korban Selamat Erupsi Gunung Marapi, Tanah Bergetar dan Hujan Batu
Dalam erupsi Gunung Marapi yang viral, sejumlah korban selamat memberikan kesaksian mereka. Berikut kisahnya.
TRIBUNBATAM.id - Korban selamat erupsi Gunung Marapi menceritakan detikdetik gunung setinggi 2,891 meter di atas permukaan laut itu meletus, Minggu (3/12) sore.
Sebanyak 75 pendaki diketahui terjebak saat erupsi Gunung Marapi tersebut.
Kepala Basarnas Padang, Abdul Malik mengatakan jika korban meninggal dunia menjadi 22 orang hingga Selasa (5/12).
Gunung Marapi yang berada di wilayah administrasi Kabupaten Agam dan Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat meletus tepat pada pukul 14.54 WIB.
Muhammad Afif (19) dan Zhafirah Zahrim Febrina (19), dua dari 52 pendaki yang berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat, mengisahkan kengeriannya saat Gunung Marapi meletus.
Baca juga: Berikut Nama 10 Orang Korban Erupsi Gunung Marapi Sumbar yang Sudah Teridentifikasi
Afif menceritakan, ia dan dua temannya, Lingga Duta Andrefa (19) dan Muhammad Faith Ewaldo (19), mendaki Marapi, Minggu siang sekira pukul 11.00 WIB.
Menurutnya, kondisi saat itu masih aman dan cuaca cerah.
Namun, empat jam kemudian, situasi berubah mencekam.
Rombongan Afif yang waktu itu sudah sampai di dekat pintu angin Gunung Marapi, tiba-tiba dikejutkan dengan suara gemuruh yang kuat.
Tanah yang ia pijak pun bergetar.
"Tak lama setelah itu ada hujan batu," ujarnya, Senin (4/12).
Baca juga: Mahasiswi Padang yang Jadi Korban Erupsi Gunung Marapi Sebut Kaki Serasa Mau Patah
Kepanikan langsung melanda Afif dan dua temannya.
Mereka lantas berlari ke arah "jalan tikus" yang banyak pepohonan. Berlindung dari hujan batu.
Hujan batu itu, ujarnya berlangsung sekitar 10 menit.
"Alhamdulillah, kami bertiga tidak yang ada kena batu," ucap pemuda asal Kabupaten Kampar, Riau, ini.
Masih dalam keadaan panik, mereka pun berupaya turun secepat-cepatnya, hingga akhirnya berhasil mencapai posko dan langsung dievakuasi.
Kengerian juga diungkapkan Zhafirah.
Meski berhasil turun dengan selamat, ia mengalami luka-luka.
Hingga kemarin, ia masih dirawat di Rumah Sakit Ahmad Mochtar (RSAM) Bukittinggi. Terbaring lemah dengan luka bakar di area wajah. Tangannya patah.
Baca juga: Gunung Marapi Sumbar Erupsi, Warga Cium Bau Belerang Akibat Semburan Abu Vulkanik
Meski begitu, Zhafirah sudah mulai bisa kembali berbicara.
"Alhamdulillah, bisa ngomong sedikit-sedikit," ujarnya.
Zhafirah diketahui selamat menyusul rekaman video yang ia kirimkan beberapa saat setelah Gunung Marapi meletus.
Dalam rekaman video itu tubuh Zhafira sudah dipenuhi abu vulkanik.
Terlihat ia sudah dalam keadaan lemas saat meminta pertolongan.
Rani Radelani, bibi Zhafirah, mengatakan video itu diambil dan dikirimkan keponakannya dengan menggunakan telepon seluler pendaki lain yang tercecer di jalur pendakian.
Baca juga: Cerita Mahasiswi Asal Padang Terjebak Erupsi Gunung Marapi, Minta Segera Diselamatkan
“Barang dia hilang semuanya, jadi ada handphone orang dapat sama dia. Ada sinyal dan bisa dibuka handphone-nya. Tangannya patah, luka-luka. Tidak kuat lagi katanya,” ungkapnya.
Berkat rekaman video itu pula petugas SAR dapat dengan segera menemukannya.
"Kami berterima kasih kepada tim yang mencari dengan cepat, sehari sudah ketemu anak-anak kami," ujar Rani.
Zhafirah, ujar Rani, adalah mahasiswa jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Padang. Zhafirah juga seorang atlet silat.
"Mendaki ke Gunung Marapi ini merupakan pengalaman pertamanya," ujar Rani.
Yasirli Amri (21), mahasiswi Politeknik Negeri Padang lainnya, yang Minggu itu juga mendaki Marapi, juga sempat menelepon ayahnya, beberapa jam setelah letusan.
Dalam teleponnya, Yasirli mengaku haus dan sudah tidak sanggup lagi berjalan.
Hingga kemarin, ia belum berhasil dievakuasi. Kondisi terakhirnya belum diketahui. Teleponnya sudah tak lagi berfungsi.
Sepupu Yasirli, Ahmad Gandi Sabri (28) mengatakan, adik sepupunya berangkat ke Gunung Marapi sejak Jumat (1/12).
Saat pamit, Yasirli mengatakan menuju Gunung Marapi bersama rombongan berjumlah 18 orang.
"Di telepon itu, ia menyebut bahwa dirinya haus, kakinya rasa mau patah dan tidak sanggup lagi berjalan," ujar Sabri, kemarin melansir TribunJabar.id.
Seperti halnya Zhafirah, ini juga kali pertama Yasirli mendaki gunung.
Sabri dan keluarga berharap Yasirli berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat.
"Kami akan menunggu sampai adik kami turun," ujarnya.
Dua dari tiga jenazah yang sudah berhasil dibawa ke RS Ahmad Mochtar Bukittinggi, sudah berhasil diidentifikasi oleh tim DVI Ante Mortem Biddokkes Polda Sumbar.
Mereka adalah Muhammad Adan (21) mahasiswa UIR asal Pekanbaru dan Muhammad Teguh Ananda (20) mahasiswa Politeknik Negeri Padang asal Padang. Satu jenazah lainnya masih dalam proses identifikasi.
Hingga Selasa (5/12) malam, korban meninggal akibat erupsi Gunung Marapi di Sumatera Barat, bertambah menjadi 22 orang.
Sebelumnya, Basarnas Padang melaporkan ada 13 korban yang meninggal dunia hingga Selasa pagi.
Dengan ditemukannya sembilan korban baru, maka tinggal satu korban yang dinyatakan masih hilang.
"Total yang meninggal dunia menjadi 22 orang, bertambah sembilan orang setelah tadi kita dapatkan informasi," kata Kepala Basarnas Padang Abdul Malik saat dihubungi Kompas.com, Selasa malam.
Abdul mengatakan, 13 korban sudah berhasil dievakuasi dari atas Gunung Marapi.
Sementara korban lainnya masih dalam proses. Adapun lokasi para korban telah diketahui.
"Jadi masih ada sembilan jenazah lagi yang sedang kita proses evakuasi. Mudah-mudahan secepatnya bisa diturunkan," kata Abdul.
Evakuasi terkendala hujan abu akibat Marapi yang masih mengalami erupsi.(TribunBatam.id) (TribunJabar.id) (KompasTV)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/Korban-erupsi-Gunung-Marapi-berhasil-dibawa-ke-Posk.jpg)