Jumat, 8 Mei 2026

PILPRES 2024

Persaingan Panas Prabowo Subianito vs Anies Baswedan di Debat Perdana Capres 2024

Persaingan panas Anies Baswedan vs Prabowo Subianto di debat capres 2024, saling sindir soal penguatan demokrasi sampai polusi udara

Tayang:
IST
Muncul aura persaingan yang kuat antara Anies Baswedan dengan Prabowo Subianto dalam debat perdana capres, Selasa (13/12/2023). 

TRIBUNBATAM.id - Muncul aura persaingan yang kuat antara Anies Baswedan dengan Prabowo Subianto dalam debat perdana capres, Selasa (13/12/2023).

Tiga calon presiden yakni Anies Baswedan, Prabowo Subianto, dan Ganjar Pranowo telah menjalani debat perdana capres.

Dari ketiga paslon, persaingan kuat terlihat justru pada Anies Baswedan dan Prabowo Subianto.

Baik Anies Baswedan maupun Prabowo Subianto sering melontarkan sindiran.

Di sesi awal debat, Anies Baswedan langsung tancap gas dengan menyatakan penegakan hukum yang bengkok.

Anies kemudian mencontohkan kasus Mega Suryani Dewi yang tewas akibat KDRT.

"Ada peristiwa seperti peristiwa Ibu Mega. Ibu Mega Suryani Dewi, seorang ibu rumah tangga yang mengalami kekerasan rumah tangga, tidak diperhatikan, diam-diam meninggal (karena) korban kekerasaan. Apakah akan dibiarkan? Tidak, ini harus diubah," kata Anies tegas dalam siaran langsung Debat Capres-Cawapres sebagaimana disiarkan di laman Youtube KPU.

Prabowo mendapatkan giliran selanjutnya. Prabowo menyebutkan memang masih banyak kekurangan.

Namun harus bersyukur karena di tengah dunia terjadi ketidakpastian, banyak negara terjadi perang saudara.

"Tapi Indonesia masih aman. Karena apa karena kemimpinan karena manejemen negara yang berhasil. Di tengah 200 juta rakyat, masak tidak ada kekuarangan. Tetapi kita harus arif, harus dewasa, dan tidak boleh munafik," ujarnya.

Saling sindir antara Prabowo Subianto dengan Anies Baswedan kembali terjadi ketika membahas tema penguatan demokrasi.

Awalnya, Anies menjawab pertanyaan panelis tentang kepercayaan publik terhadap partai politik yang rendah dan apa yang akan Anies lakukan.

Dalam penjelasannya, Anies menyebut bahwa kepercayaan publik yang rendah bukan hanya pada partai politik atau parpol, tetapi juga terhadap proses demokrasi.

“Saya kira lebih daripada parpol, rakyat tidak percaya pada proses demokrasi yang sekarang terjadi, itu jauh lebih luas dari parpol,” kata Anies menjawab pertanyaan panelis di Gedung KPU.

“Parpol perlu mengembalikan kepercayaan, yang mendasar adalah parpol memerlukan biaya,” lanjutnya, dipantau dari tayangan Live KompasTV.

Menurut Anies, sudah saatnya pembiayaan politik dihitung dengan benar.

Menanggapi hal itu, Prabowo mengatakan bahwa pernyataan Anies agak berlebihan karena mengeluhkan tentang demokrasi.

“Mas Anies, Mas Anies, saya berpendapat Mas Anies ini agak berlebihan. Mas Anies mengeluh tenteng demokrasi ini dan itu. Mas Anies dipilih jadi Gubernur DKI menghadapi pemerintah yang berkuasa.”

“Saya yang mengusung Bapak. Kalau demokrasi kita tidak berjalan, tidak mungkin Anda jadi gubernur. Kalau Jokowi diktator Anda tidak mungkin jadi gubernur. Saya waktu itu oposisi, Anda ke rumah saya, kita oposisi, Anda terpilih,” beber Prabowo.

Anies pun kemudian menjawab bahwa Prabowo tidak tahan menjadi oposisi.

Begitu juga saat Prabowo Subianto mempertanyakan kebijakan Anies Baswedan soal pengurangan polusi.

Prabowo mempertanyakan saat Anies Baswedan menjadi Gubernur DKI Jakarta, polusi udara di Jakarta tinggi. Padahal Jakarta memiliki APBD Rp 80 triliun.

"Mas Anies pernah jadi Gubernur 5 tahun di DKI, anggaran DKI setahun sekitar Rp 80 triliun, jumlah penduduk DKI 10 juta.. tetapi selama Mas Anies memimpin sering kali DKI menerima indeks polusi tertinggi di dunia, bagaimana dengan anggaran Rp 80 triliun Pak Anies sebagai Gubernur tidak dapat berbuat sesuatu yang berarti untuk mengurangi polusi?" cecar Prabowo ke Anies.

Anies menjawab masalah polusi di kota Jakarta ini disumbang transportasi.

"Kalau problem dalam kota, maka konsisten tiap waktu kita punya masalah polusi, kita lakukan pengendalian dari uji emisi yang sekarang wajib, yang kedua elektrifikasi kendaraan umum, ketiga konversi kendaraan umum. Jadi itu kita kerjakan sekarang untuk tangani polusi udara Jakarta," ungkap Anies.

Prabowo tidak puas dengan jawaban Anies. Menurutnya tidak bisa hanya menyalahkan angin dalam persoalan polusi, sebab harusnya pemerintah daerah mengambil langkah mitigasi.

"Ya susah kalau kita menyalahkan angin dari mana saja," ujar Prabowo.

Atas tanggapan tersebut Anies kemudian menyebut Prabowo fiksi.

"Inilah bedanya yang bicara pakai data dan fiksi, saya pakai data," kata Anies membalas.(ath)

 

 

 

Sumber: Tribun Batam
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved