KECELAKAAN KERJA DI BATAM
Kecelakaan Kerja di Batam Tewaskan Hasbun, Warga Minta Perlindungan Pekerja Bangunan Lebih Serius
Kecelakaan kerja di Batam renggut nyawa buruh bangunan setelah jatuh dari lantai 7 proyek. Warga minta perlindungan pekerja lebih serius.
Penulis: Beres Lumbantobing | Editor: Septyan Mulia Rohman
TRIBUNBATAM.id, BATAM – Kecelakaan kerja di Batam yang merenggut nyawa buruh bangunan karena terjatuh dari lantai 7 di komplek pertokoan Palm Spring, Selasa (17/6) mendapat sorotan warga.
Masyarakat yang mempertanyakan komitmen pemerintah dalam memberikan perlindungan keselamatan kerja terkait kecelakaan kerja di Batam itu, khususnya bagi buruh sektor informal seperti tukang bangunan.
Kematian buruh harian bernama Hasbun (52), korban kecelakaan kerja di Batam itu tidak hanya meninggalkan duka bagi keluarga yang ditinggalkan.
Tetapi juga membuka luka lama tentang lemahnya jaminan sosial ketenagakerjaan, apalagi bagi pekerja proyek dan konstruksi yang rentan.
"Itu gunanya Disnaker sebenarnya, bukan cuma urus buruh pabrik. Buruh bangunan juga butuh perlindungan. Jangan nunggu korban dulu baru ribut," ujar seorang buruh bangunan, Erwan, Kamis (19/6/2025).
Baca juga: Buruh Bangunan di Batam Tewas Usai Terjatuh dari Lantai 7, Lokasi Kecelakaan Kerja Tampak Lengang
Ia merespons kematian buruh bangunan di Komplek Palm Spring itu.
Kematian di proyek ruko Palm Spring Batam Center ini, menurutnya menimbulkan satu pertanyaan krusial.
Sejauh ini, belum diketahui apakah korban terdaftar sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan, khususnya program JKK (Jaminan Kecelakaan Kerja) dan JKM (Jaminan Kematian).
Banyak proyek konstruksi di Batam yang masih menggaji pekerja secara harian tanpa kontrak kerja resmi, apalagi perlindungan sosial.
Padahal, kata dia merujuk sesuai UU Nomor 24 Tahun 2011 tentang BPJS, setiap pekerja, termasuk buruh bangunan dan sektor informal, berhak atas perlindungan sosial ketenagakerjaan.
"Tanpa buruh bangunan, rumah dan kantor para pejabat Disnaker itu gak bakal berdiri. Mereka berhak dilindungi, meskipun cuma digaji harian," tegasnya.
Baca juga: Polresta Barelang Tangani Kasus Kecelakaan Kerja di Batam Renggut Nyawa Buruh Bangunan
Erwan mengaku hingga kini tak begitu aktif menjadi buruh bangunan lantaran punya usaha kecil-kecilan. Namun menjadi buruh bangunan telah ia lakoni sejak merantau ke Batam belasan tahun lalu.
Dalam bidang proyek bangunan, menurut dia mandor dan pengelola proyek seharusnya mendaftarkan para tukang dan buruh ke program BPJS secara mandiri meskipun tidak ada ikatan kerja tetap.
"Iuran pun sangat terjangkau, bahkan cuman seharga sebungkus rokok per hari," katanya.
Namun kenyataannya, banyak pekerja tidak tahu informasi ini. Disisi lain, sebagian besar pengusaha dan mandor pun mengabaikan kewajiban perlindungan tenaga kerja asalkan proyek jalan dan target selesai.
"Kalau sudah begini, siapa yang salah? Semua salah, mandor, pengusaha, pemerintah, bahkan pekerja yang tidak mau cari tahu haknya. Tapi yang paling rugi tetap keluarga di rumah, istri dan anak-anak yang kehilangan tulang punggung,” tambah warga lainnya.
Baca juga: Saksi Mata Ungkap Kecelakaan Kerja di Batam Renggut Nyawa Buruh Bangunan Usai Jatuh dari Lantai 7
Polresta Barelang Tangani Kasus Kecelakaan Kerja di Batam
Lokasi kecelakaan kerja di Batam yang menewaskan seorang buruh bangunan setelah terjatuh dari lantai 7 tampak lengang, Rabu (18/6/2025).
Bangunan lantai 7 yang belum siap di Blok B3 Nomor 15 kawasan pertokoan Palm Spring Batam Center tampak tersegel garis polisi (police line).
Tak ada aktivitas pekerja di lokasi kecelakaan kerja di Batam pada Selasa (17/6) itu.
Yang ada, hanya tumpukan material bangunan.
Proyek lokasi lakakerja di Batam itu memiliki tujuh lantai.
Tempat tinggal pekerja berada di lantai pertama.
Baca juga: Kondisi Lokasi Kecelakaan Kerja di Batam Center, Buruh Bangunan Tewas Usai Jatuh dari Lantai 7
Di sana, terlihat tumpukan kain di jemur layaknya hunian rumah.
Sementara lantai dua hingga tujuh, masih tahap pengerjaan.
Bangunan baru tahap lantai, belum tembok.
"Dari pagi, tak ada aktivitas disana. Katanya mereka dibawak ke kantor polisi untuk diperiksa. Biasa orang kerja disitu rame," ujar sekuriti komplek pertokoan, Ari yang ditemui tak jauh dari lokasi kecelakaan kerja di Batam itu, Rabu (18/6/2025).
Biasanya lokasi proyek itu akan ramai, setiap hari ada belasan pekerja di sana.
Para pekerja menurutnya tinggal di lokasi.
Terkait kecelakaan kerja di Batam itu, Kapolresta Barelang, Kombes Pol Zaenal Arifin, S.I.K tak berkomentar banyak.
Ia menyarankan agar kasus tersebut langsung di konfirmasi ke Satreskrim Polresta Barelang.
"Silahkan diskusi ke Reskrim, ya," jawabnya melalui pesan singkat.
Tribun Batam kemudian berupaya mengonfirmasi Kasat Reskrim Polresta Barelang, AKP M Debby Tri Andrestian.
Namun ia enggan berkomentar banyak terkait kasus lakakerja di Batam itu.
Sore itu, AKP Debby Tri tampak tiba di Polresta Barelang menggunakan mobil Toyota Fortuner yang dikemudikan ajudan.
Debby lantas turun, kemudian dihampiri sejumlah awak media.
Namun tak ada satupun kalimat yang ia jawab untuk merespons pertanyaan sejumlah awak media.
"Aduh, leher lagi sakit. Nanti dulu, kurang sehat," jawabnya memasuki gedung Satreskrim Polresta Barelang. (TribunBatam.id/Bereslumbantobing)
Baca juga Berita TribunBatam.id lainnya di Google News
| Disnakertrans Kepri ke Batam Investigasi Kecelakaan Kerja di PT Citra Shipyard Nongsa |
|
|---|
| Kecelakaan Kerja di PT ASL Shipyard Batam, Polisi–Disnaker Masih Dalami Kematian Ramli |
|
|---|
| "Beliau Orang Baik", Doa Mengalir untuk Ramli Korban Kecelakaan Kerja di ASL Shipyard Batam |
|
|---|
| Kronologis Kecelakaan Kerja di PT ASL Shipyard Indonesia di Batam Renggut Nyawa Pekerja Subkon |
|
|---|
| Polisi Periksa Tiga Saksi Kasus Dugaan Pekerja Kawasan PT ASL Tewas Tersengat Listrik |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/Bangunan-proyek-ruko-7-lantai-di-kawasan-pertokoan-Palm-Spring-dipasang-keliling-garis-polisi.jpg)