Puisi - puisi Khotibul Umam
Khotibul Umam, Pegiat Sastra asal Bondowoso, kini berkuliah di Magister Sastra UGM menulis puisi yang berjudul Mimpi al-Bushiri, Mimpi Yusuf
Penulis: Renhard Patrecia Sibagariang | Editor: Dewi Haryati
Mimpi al-Bushiri
Malam jadi teruk di keningnya
dan di tepi mimpi
ia berjumpa Nabi.
“Ucapkanlah, wahai penyair,
Dialah khairu khalqillah.”
Lalu tangan yang lembut itu
mengusap letih di wajahnya,
diselendangkannya pada tubuh yang rapuh,
dan sakit pun jadi luruh.
Burdah menjadi jubah.
Sejak itu, syairnya mengalir
dari Andalus di pesisir
sampai pasar-pasar di Mesir
menjadi sulur di bibir yang ajam
menjadi kawākib di dada yang sakit
membuhul zaman dengan zamzam.
“Yā amāna al-khā’ifīn”
Salam bagi Engkau
selendang yang menyelubungi
luka di leherku malam itu
luka di leherku malam itu.
Mimpi Yusuf
Pada kelam tanpa pelita,
kita tak boleh buta.
Pada hutan terbakar,
kita tak boleh hilang.
Malam datang dengan bahasa-bahasa.
Langit menyimpan pertanyaannya-pentanyaan.
Kupeluk tubuh sendiri.
Mengusir dingin dan sepi.
Tiba terbangun Subuh di dasar sumur mati.
Aku tak boleh di sini.
Aku tak boleh di sini.
Melihat dinding ini rubuh.
Tak ada hutan yang terlalu lebat bagi yang bersahabat dengan serigala.
Tak ada belantara yang terlalu rimba bagi yang dibuang saudara.
Ayahku, jika hilang dunia,
itu berarti saat hanya ada yang di genggaman.
Jika yang di genggamanku hilang,
itu seumpama Ibrahim bertanya,
“Engkau kah itu yang terbit dan tenggelam?”
Qabil dan Habil
Dari tanah liat pertama jejak api terakhir telah tertulis,
sehingga ruam biru tangannya tentu akan getih melihat lebam wajah yang berdebam di gurun itu
Dahi yang menyadap retak di pipi tembikar itu membuka selapis jantung dan mengganti lembar kulitnya dengan lidah yang getas, sebelum menelan bara ludah yang masih menyala. “Siapa yang membunuh siapa?” suara Qabil pecah, namun ingatannya telah dilumuri umpama abu-abu.
Duri yang tersipu malu itu hanya memberi pasir hisap. Seperti merambati akar yang tak henti menjalar,
sebilah pisau dan luka mengaga, dan Habil berkata: “Selama sesal masih sesap dalam dada, dosa pun terus menguning.”
Dari jembatan putus itu gerimis menulis interval panjang. Kelam mempercepat bayang di tanah hilang. Dan tanpa bertanya ia melangkah, tanpa bertanya dia tergesa ke arah yang entah. (adv)
Khotibul Umam, Pegiat Sastra asal Bondowoso, kini berkuliah di Magister Sastra UGM
| Dentuman Keras 2 Motor Kecelakaan Maut di Bondowoso, 1 Tewas dan 1 Luka-luka |
|
|---|
| Bondowoso Digelontor Dana Transfer ke Daerah 2025 Rp 1,3 Triliun, DAU Terbesar |
|
|---|
| Realisasi Belanja APBD 2025 Bondowoso 62.44 Persen Jelang Akhir Tahun |
|
|---|
| Bondowoso Digelontor Dana Transfer ke Daerah 2025 Rp 1,2 Triliun Per Desember, DAU Terbesar |
|
|---|
| Bondowoso Digelontor Dana Transfer ke Daerah 2025 Rp 1.158,04 M, Dana Alokasi Umum Terbesar |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/puisi-puisi.jpg)