Jumat, 10 April 2026

Juanda, Pelaku Pelempar Bom di Samarinda Ini Bandel dan Tidak Mau Dibina

"Kami benar-benar tidak tahu, mengapa Juhanda bisa memperoleh bahan membuat bom," kata Dia menyesal

Editor: Mairi Nandarson
Infobencana-Polsek Loajan
Pria yang diduga sebagai pelaku pelemparan molotov di depan gereja Oikumene Samarinda 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, SAMARINDA - Sebelum melemparkan bom molotov dan meledak di halaman Gereja Okuimene, Samarinda Seberang, keberadaan Juhanda sudah terdeteksi.

Kepala Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme Kalimantan Timur, Hasyim Miradjie, mengungkapkan pihaknya sudah tahu Juhanda sejak masuk Samarinda.

"Sejak tiba di Samarinda kami pantau, dan memang kami sudah monitor.

Saat itu ada informasi Juhanda sudah lepas dari penjara dan menuju serta tinggal di Kaltim," ungkap Hasyim usai pembahasan pascapeledakan bom molotov di Kesbangpol Kaltim, Senin (14/11/2016).

"Tapi, memang kami kecolongan, hingga dia bisa berbuat seperti itu (melemparkan bom).

Kami benar-benar tidak tahu, mengapa Juhanda bisa memperoleh bahan membuat bom," kata dia menyesal.

Kedatangan Juhanda ke Kaltim bermula saat dirinya menjadi tahanan di Lapas Tangerang.

Dia harus mendekam di sana karena terlibat aksi bom buku pada 2011 lalu.

Di Lapas Tangerang, Juhanda bertemu Agung Prasetyo pelaku teror di Poso. Setelah masa tahanannya selesai, Agung merekomendasikannya untuk tinggal di rumah ayahnya di Samarinda Seberang.

Juhanda tak terdaftar sebagai warga di desa yang dituju, seperti anjuran Agung. Polisi saat itu sudah memantau tapi tak ada alat bukti untuk menangkapnya.

"Kami memang tak bisa menangkap pelaku saat itu, karena tanpa ada alat bukti, aparat tak bisa menangkap," ujar Kapolda Kaltim Irjen Safaruddin menambahkan.

Sejak kedatangan Juhanda ke Kaltim, aparat keamanan sudah memantau gerak-geriknya.

Babinsa, FKPT, BIN, Polda dan unsur lainnya memantau dia.

FKPT sudah mengajak, membina agar Juhanda kembali menjadi normal, layaknya warga biasa.

"Kami dekati terus, tetapi belum bisa. Dia bandel, dan tak mau ikuti pembinaan dari kami.

Berbeda dengan delapan mantan napi pelaku bom lainnya yang sudah bisa kami bina. Delapan orang itu juga ada di Kaltim," jelas dia.

Tim Densus 88 masih memproses untuk mencari tahu apa motif aksi bom di depan Gereja Oikumene tersebut, termasuk mencari jaringannya seperti apa. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved