Jumat, 10 April 2026

May Day

Inilah Cerita Kehidupan Buruh Batam di Tahun 2012

Kehidupan Buruh di Batam


Laporan Tribunnews Batam, Dewi Haryati

TRIBUNNEWSBATAM.COM, BATAM- Batam tak lagi menjadi primadona mencari pekerjaan. Setiap tahun banyak pendatang baru mencoba peruntungan. Namun tak sedikit di antara mereka hanya mendapat angin segar.

Kesejahteraan buruh tak terlalu diperhatikan. Seolah jalan di tempat. Tingkat pengeluaran yang tinggi tak diimbangi dengan peningkatan pendapatan. Stagnan. Diperparah dengan pelayanan kesehatan yang tak optimal.

Meskipun pemerintah kota Batam sudah menaikan Upah Minimum Kota Batam tahun lalu menjadi Rp 1, 4 juta. Tetap saja hal itu dinilai kurang. Masih banyak buruh yang mengeluh. Pendapatan yang mereka terima, tak sesuai dengan tenaga yang mereka keluarkan. Ditambah risiko pekerjaan di lapangan.
  
"Kehidupan buruh itu mengerikan," ucap Umi Hesti, karyawan sebuah PT di Tanjung Uncang kepada Tribun saat melakukan demonstrasi peringatan May Day di gedung PEMKO, Selasa (1/5).

Selama 7 tahun bekerja, Hesti hanya mendapatkan gaji pokok. Sedangkan uang transport, konsumsi, tunjangan tempat tinggal, ia tak pernah mendapatkannya. Setiap hari Hesti harus bangun pukul 4.30 pagi. Di jam itulah ia berbenah diri, menyiapkan bekal makanan untuk ia, suami, dan seorang anaknya yang masih kecil. Di tempat kerjanya, setiap karyawan harus menggunakan dana sendiri untuk keperluan konsumsi.

Pukul 6.15 pagi, Hesti sudah keluar dari rumahnya dan baru pulang pukul 4 sore. Jika over time, ia pulang pukul 7 malam. Anak tunggalnya dititipkan pada tetangga. Tak ada anggota keluarga lain di rumah. Sebenarnya ia ingin merawat sendiri anaknya yang masih berumur 5 tahun lebih. Karena masih haus dengan kasih sayang orangtua.

Jika ia tak bekerja, tak ada penghasilan yang didapat. Sedangkan kebutuhan perut ia, dan anaknya harus diisi dengan makanan. Mengharap gaji suami juga tak akan bertahan lama. Suaminya hanya buruh outsourching di Tanjung Uncang. Jika ada panggilan bekerja, ia baru mendapat penghasilan. Jika tidak, suaminya terpaksa mencari pekerjaan lain.

Hesti menjadi tulang punggung keluarganya. Sedangkan gaji perbulannya hanya sebatas UMK, Rp 1.402.000. Jika OT, ia baru mendapat gaji Rp 2 juta.

"Kalau dibilang kurang, pastinya kurang, tapi harus dicukupkan," beber Hesti yang bertugas sebagai teknisi ini.

Setiap mendapatkan gaji, ia sudah menjadwal keperluan hidup keluarganya selama sebulan. Uang Rp 500 ribu sudah disisihkan untuk membayar kontrak rumahnya di Tanjung Uncang, listrik Rp 250 ribu. Upah menitip anak ke tetangga, Rp 400 ribu, membayar uang mengaji anaknya di TPQ, Rp 50 ribu, keperluan makan selama sebulan Rp 1 juta.

Gajinya habis untuk keperluan pokok sehari-hari. Lebih sering sering tak cukup. Mensiasati itu, Hesti melakukan beberapa usaha lain. Kelelahan sehabis pulang kerja, tak dihiraukannya. Ia membuka pelayanan laundry di rumahnya setiap Sabtu dan Minggu bagi tetangga dekatnya. Terkadang di hari kerja, ia juga menerima pakaian kotor untuk dilaundry.  

"Saya gali lubang, tutup lubang. Sebagai perempuan, saya tak ingin keluarga saya kelaparan," tegasnya.

Selain membuka jasa laundry, untuk menambah penghasilannya. Hesti terkadang menjadi penjual kacang tojin di PT-nya. Penghasilan yang didapat, tak seberapa. Hanya Rp 200 ribu untuk setiap 20 bungkus kacang tojin yang habis terjual. Jika menggunakan jasa penitipan, ia hanya mendapat penghasilan Rp 160 ribu.

Kelelahan bekerja, terkadang membuat Hesti, yang merupakan Sarjana Teknik ini jatuh sakit. Namun untuk pengurusan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan, berupa MC, sangat sulit ia dapat dari rumah sakit rujukan PT-nya. Ia lebih sering menggunakan RS lain untuk mengeluarkan MC, yang memungkinkannya dapat istirahat di rumah tanpa dipotong gaji.

"Dulu masih boleh pakai MC dari RS lain, tapi sekarang nggak boleh," ungkapnya. Hal itu membuat Hesti terpaksa bekerja meskipun dalam kondisi sakit. Jika terpaksa tak bekerja karena sakit, gaji Hesti harus dipotong sekitar Rp 50 ribu perharinya.

Memperingati hari buruh internasional, Hesti berharap perjuangan ia dan teman-temannya untuk mendapatkan beberapa tunjangan di luar gaji pokok PT-nya dapat terealisasi.

"Saya ingin ada tambahan insentif bagi kami. Karena '0' insentif, cuma gaji pokok saja. Kalau nggak ada OT, nggak cukup," tutup Hesti yang membawa serta anaknya pada demo buruh kemarin. (dewi haryati)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved