PROGRAM MBG
Batam Terbanyak Kasus Program MBG Bermasalah, Serpihan Kaca, Ulat, Jangkrik Hingga Mual
Batam terbanyak kasus program MBG bermasalah. Catatan Tribun Batam mengungkap, setidaknya terdapat 9 kasus di Provinsi Kepri. Berikut ini rangkumannya
Menurutnya, setelah mendapat penanganan, siswa tersebut bukan keracunan, melainkan sakit perut karena memiliki pantangan mengonsumsi makanan pedas.
"Karena anaknya tadi katanya dia tak pernah makan cabai. Tapi tiba-tiba dikasih makan cabai, jadi sakit perut," ujarnya.
Kepala Satuan Pelaksana Program Gizi (SPPG) Summerland, Yayasan Sinergi Inklusi Akses Pangan, Cyntia Yunica Putri, mengungkap fakta mengejutkan.
Dalam klarifikasinya, Cyntia mengungkap ada dua keterangan berbeda yang diterima tim SPPG.
"Setelah konfirmasi dengan sekolah, pihak sekolah mengatakan pada hari itu (Rabu, 24 September 2025), anak tersebut tidak memakan makanan MBG. Mungkin pada saat itu dia sudah tidak enak badan," ungkap Cyntia di SMPN 8 Batam, Kamis (25/9/2025).
Namun, keterangan berbeda ditemukan ketika tim SPPG melakukan investigasi ke Puskesmas Kampung Jabi di Nongsa.
"Tim kami turun ke Puskesmas. Informasinya mereka bilang, memang benar anak itu makan dari MBG. Yang dia katakan sendiri," lanjut Cyntia.
Menurutnya yang lebih mencengangkan, dari total 3.956 porsi MBG yang diproduksi dapurnya dan tersebar di lima sekolah serta empat posyandu di Kecamatan Nongsa, hanya satu siswa yang melaporkan keluhan kesehatan.
"Dan itu juga yang satu sakit perut, hanya satu saja. Dan sudah dipastikan dari pihak sekolah, dia tidak makan dari MBG," katanya.
Terkait perbedaan keterangan ini, Cyntia menyampaikan rencana investigasi langsung. Sebab, informasinya simpang siur.
"Rencana kami mau mendatangi anak tersebut, karena dari pihak sekolah mengatakan dia memang tidak makan pada hari itu," ucapnya lagi.
BERITA SELENGKAPNYA >>>>>>>>>>
5. Serpihan Kaca di MBG SMAN 4 Batam
Warga SMAN 4 Batam dikejutkan dengan temuan serpihan kaca pada nasi Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang disajikan Selasa (23/9/2025).
Peristiwa ini sontak ramai dibicarakan di media sosial setelah beredar foto kotak nasi berisi pecahan kaca.
“Ditemukan ada serpihan kaca di nasinya. Waduh makin was-was nih. Coba deh lebih diperhatikan lagi bagi pihak yang terkait. Ini yang makan anak-anak loh,” tulis salah satu akun media sosial, sembari mengunggah foto nasi MBG.
Kepala SPPG SMAN 4 Batam, Rafael Christian, membenarkan adanya insiden tersebut. Ia menjelaskan, serpihan kaca diduga berasal dari penutup teflon pemasak telur yang pecah di dapur sekolah.
“Diduga itu kaca dari penutup teflon. Saat dibersihkan dan dirakit kembali, ternyata masih ada serpihan kecil yang tertinggal hingga masuk ke nasi lemak,” ujarnya, Jumat (26/9).
Rafael menegaskan insiden ini murni akibat kelalaian dalam pengawasan dapur, bukan unsur kesengajaan. Ia berjanji akan melakukan evaluasi menyeluruh.
"Ke depan kami akan memperketat pengawasan penyajian MBG agar kejadian serupa tidak terulang,” tegasnya.
Ketua Koordinator SPPG Batam, Defri Rinaldi, menambahkan, insiden bermula sekitar pukul 01.00 dini hari saat seorang juru masak memperbaiki tutup penggorengan berbahan kaca yang pecah.
“Serpihan saat itu langsung disaring dan dibersihkan. Bahkan juru masak sempat terluka di lengannya. Tapi rupanya masih ada potongan kecil yang terbawa ke makanan,” jelas Defri.
Ia menyampaikan permohonan maaf kepada pihak sekolah dan masyarakat. “Ini jadi pembelajaran penting bagi kami agar lebih berhati-hati,” katanya kepada saat dihubungi TribunBatam.id, Jumat (26/9).
6. Ulat di Menu MBG SMKN 7 Batam
Temuan ulat sebelumnya ditemukan pada menu makanan bergizi gratis pelajar SMKN 7 Batam.
Ulat tersebut ditemukan pada timun yang menjadi isian burger pada menu Makanan Bergizi Gratis di Batam itu.
Sejumlah pelajar yang melihat ini, sontak kaget dan enggan menyantap menu MBG saat itu.
Kejadian ini sempat viral di medsos.
7. MBG di SDN 016 Sagulung
Sebanyak 18 pelajar SDN 016 Sagulung, Kota Batam dilarikan ke rumah sakit terdekat, setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan pada Jumat (26/9/2025).
Para siswa yang diketahui masuk pada kelas siang ini merasakan mual, pening, hingga muntah.
Setidaknya sebanyak 17 siswa dibawa ke Rumah Sakit Elisabeth Sei Lekop.
Sementara satu siswa mendapatkan penanganan di Puskesmas terdekat, karena mual yang dirasakan terjadi pada waktu pulang sekolah.
Dari informasi yang dihimpun, mayoritas siswa yang mengalami gejala ini diketahui baru menyantap beberapa suap menu MBG yang disajikan.
Alih-alih MBG dihabiskan, mereka mengalami gejala tersebut ketika makan.
Mereka merupakan siswa-siswi yang duduk di kelas 3 dan 4 yang masuk siang, sementara kelas pagi dilaporkan aman.
Kepala Sekolah SDN 016 Sagulung melalui guru SDN 016 Emi Afriani membenarkan kejadian tersebut.
"Benar, 17 siswa di RS Elisabeth Sei Lekop, 1 di Puskesmas. Hari ini semuanya sudah masuk. Enggak sampai menginap, penanganan selama lebih kurang 4 jam," ujar Emi saat ditemui di sekolah, Senin (29/9/2025).
Ia menyebut kejadian itu terjadi ketika siswa-siswi yang tengah makan, langsung menyampaikan keluhan mereka.
Dokter Umum RS St Elisabeth Sei Lekop, dr Erie mengatakan, meski belasan siswa sempat diperiksa di Instalasi Gawat Darurat (IGD), tidak ada satu pun pasien yang dirawat inap atau menjalani pemeriksaan khusus seperti tes darah.
"Memang ada beberapa murid bersama guru yang datang dengan keluhan pusing, mual, ada yang muntah. Tapi semuanya hanya perlu pemeriksaan awal dan observasi singkat," ujar dr Erie saat ditemui di rumah sakit, Selasa (30/9/2025).
Ia melanjutkan, tidak lebih dari 3 jam penanganan, sejumlah anak sudah dalam kondisi membaik.
"Bisa dikatakan tak lebih dari 3 jam bisa dipulangkan. Untuk yang mengalami muntah juga tak lebih dari 5 siswa," katanya.
Dokter menegaskan, seluruh siswa tidak perlu menjalani pemeriksaan lanjutan seperti tes darah ataupun uji toksikologi.
Keluhan yang datang hanya bersifat ringan, sehingga cukup ditangani dengan observasi singkat dan terapi rawat jalan.
"Semua pasien kondisinya membaik setelah pemeriksaan standar, jadi tidak ada perawatan khusus," tutur dr Erie lagi.
Ia juga meluruskan kabar yang menyebut belasan pelajar itu keracunan makanan. Menurutnya, istilah tersebut tidak tepat, karena tidak ada pemeriksaan laboratorium yang bisa menguatkan klaim tersebut.
“Kami tidak pernah menyatakan ini keracunan. Untuk menyebut itu harus ada uji toksikologi, sementara di sini tidak dilakukan,” katanya.
8. Menu MBG di Bintan Bau dan Disebut Basi
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) viral di medsos alias media sosial.
Itu setelah muncul narasi yang menyebut jika menu MBG di Bintan mengeluarkan bau tak sedap bahkan dididuga telah basi.
Hal ini membuat sejumlah pelajar takut mengkonsumsi makanan bergizi program andalan Presiden RI, Prabowo Subianto tersebut.
Kabar itu tersebar di sejumlah media sosial hingga viral.
Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), Gilang Restu Aji yang dikonfirmasi mengenai hal ini membantah adanya makanan bergizi gratis yang bau.
"Tidak ada makanan bergizi bau atau basi di wilayah Kecamatan Seri Kuala Lobam," tegasnya, Rabu (24/9/2025).
Menanggapi hal itu, petugas Puskesmas Teluk Sasah mengecek langsung Makan Bergizi Gratis (MBG) di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kecamatan Seri Kuala Lobam, tepatnya di jalan Indunsuri, Kelurahan Tanjungpermai.
"Kami sudah turun ke dapur SPPG. Ada beberapa rekomendasi yang diberikan untuk SPPG," sebut Kepala Puskesmas Teluk Sasah, dr Kurniawan, Rabu (24/9/2025).
Beberapa rekomendasi yang diberikan antara lain mencakup penanganan bahan makanan dan tempat sampah.
9. Belasan Pelajar SMPN 2 Karimun Mual dan Muntah Usai Santap Menu MBG
Sedikitnya 14 pelajar SMPN 2 Karimun dilaporkan mual dan muntah setelah menyantap menu MBG pada Kamis (25/9/2025).
Beberapa dari mereka bahkan sempat dibawa ke Puskesmas Tanjung Balai Karimun untuk mendapat perawatan medis.
"Hasilnya sudah keluar tinggal tunggu dirilis saja, soalnya hasilnya belum kami terima. Insya Allah kalau sudah diterima kami akan rilis," ujarnya, Senin (25/9/2025).
Sementara Kepala SMPN 2 Karimun, Dra.Abriany,M.M mengungkap jika belasan pelajar yang bereaksi usai menyantap menu MBG sudah kembali mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Hanya satu anak yang masih diistirahatkan di rumah.
"Satu anak yang kemarin sempat dibawa ke RSBT. Kami minta istirahat dulu agar sembuh total," ungkapnya saat dihubungi TribunBatam.id.
Hasil pemeriksaan medis terhadap seorang pelajar SMPN 2 Karimun itu mengungkap jika tidak indikasi keracunan makanan.
Abriany mengungkap jika pelajar tersebut hari itu sedang datang bulan.
Ia menjelaskan jika darah yang keluar saat buang air besar merupakan datang bulan yang ia alami.
BACA BERITA SELENGKAPNYA >>>>>>>>>>>
(TribunBatam.id/Ucik Suwaibah/Bereslumbantobing/Ronnye Lodo Laleng)
| Kepala BGN Tanggapi Protes Guru yang Bandingkan Gaji Mereka Dengan Pencuci Ompreng |
|
|---|
| Diduga Keracunan Ayam Panggang, Belasan Siswa SD As Syifa Alami Mual dan Muntah |
|
|---|
| Polsek Daik Lingga Kawal Distribusi 1.554 Porsi Makan Bergizi Gratis |
|
|---|
| Akhirnya Kepala BGN Bantah Harga Motor Listrik MBG Rp58 Juta, yang Benar itu Rp42 Juta Per Unit |
|
|---|
| Menteri Purbaya Sebut Presiden Prabowo Tak Tau Ada Anggaran Motor Untuk MBG, Kemenkeu Kecolongan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/Potret-siswa-mengangkut-ompreng-MBG-untuk-dikonsumsi.jpg)