Pengakuan Siswa yang Ditampar Guru Agus, Berujung Ribut dan Pengeroyokan
Siswa inisial MLF membeberkan kronologi lengkap pengeroyokan guru Agus Saputra di SMK Tanjung Jabung Timur, Jambi.
TRIBUNBATAM.id - Siswa inisial MLF membeberkan kronologi lengkap pengeroyokan guru Agus Saputra di SMK Tanjung Jabung Timur, Jambi.
Situasi memanas karena dipicu guru menghina orangtua.
Menurut MLF, ketegangan bermula dari kesalahpahaman di ruang kelas saat jam pelajaran hampir usai.
Situasi kelas yang bising membuat Lupi spontan berteriak meminta rekan-rekannya diam.
Namun hal itu justru memicu reaksi keras dari sang guru.
MLF mengaku terkejut saat guru tersebut tiba-tiba masuk ke kelas tanpa permisi kepada guru yang sedang mengajar dan langsung mencari siapa yang berteriak.
"Tiba-tiba beliau langsung masuk ke dalam kelas tanpa permisi ke guru yang ada di dalam, langsung tanya 'siapa yang bilang woi?'. Terus saya jawab 'saya Prince' kayak gitu, terus spontan saya ke depan langsung ditampar," ungkap MLF.
Menariknya, penggunaan panggilan "Prince" ternyata merupakan permintaan khusus dari sang guru sendiri.
MLF menjelaskan bahwa guru tersebut kerap marah jika disapa dengan sebutan "Bapak" dan lebih memilih dipanggil dengan sebutan tersebut.
Hina orangtua siswa
Situasi semakin memanas ketika para siswa menuntut permintaan maaf sang guru karena dianggap telah menghina orang tua salah satu siswa.
Meski sudah dimediasi oleh guru lain dan komite sekolah untuk berpidato di depan siswa, sang guru justru membahas hal lain yang memicu kekecewaan.
Puncak pengeroyokan terjadi saat sang guru dibawa ke kantor oleh Bapak Komite.
MLF mengeklaim sang guru justru mengejek dan tersenyum sinis ke arah para siswa.
Saat Lupi mendekat untuk meminta kejujuran, ia mengaku justru mendapat bogem mentah.
"Pas saya sampai depan muka dia, dia langsung meninju saya bagian hidung. Pas dia ninju itu, kebetulan kawan saya yang di dekat-dekat dia itu lihat semua. Spontan kawan saya langsung mengeroyok dia. Sebenarnya kalau enggak ada dia ninju duluan, enggak ada pengeroyokan itu," tegas MLF.
MLF menekankan bahwa aksi pengeroyokan tersebut merupakan reaksi spontan rekan-rekannya setelah melihat dirinya ditampar di kelas dan dipukul di bagian hidung saat berada di area kantor.
Hingga kini, kasus tersebut menjadi perhatian serius pihak otoritas pendidikan dan keamanan setempat untuk dicarikan solusi terbaik.
Orangtua tak terima
Keluarga siswa kelas 2 ATP berinisial MUF meminta pihak kepolisian mengusut tuntas dugaan kekerasan yang terjadi di lingkungan SMK Negeri Tanjung Jabung Timur, Jambi.
Kakak kandung MUF, Muhammad Ardi, menyatakan pihak keluarga mempercayakan sepenuhnya penanganan kasus tersebut kepada aparat kepolisian.
“Intinya kita percaya kepada Kapolri dan kepada pihak kepolisian supaya permasalahan ini ditindaklanjuti,” ujar Muhammad Ardi.
Ia mengaku keberatan dengan tindakan yang dialami adiknya, terutama saat dikejar menggunakan dua bilah sabit.
“Saya tidak berkenan adik saya dikejar pakai dua sabit seolah-olah mau dibunuh. Padahal adik saya datang ke sekolah cuma ingin belajar, menimba ilmu,” katanya.
Muhammad Ardi menegaskan pihak keluarga tidak menutup mata apabila adiknya memang terbukti bersalah. Namun ia meminta proses hukum tetap berjalan secara adil.
“Kalau memang adik saya bersalah silakan, kalau memang sebaliknya juga bersalah, silakan dihukum sesuai hukum yang ada di Indonesia,” tegasnya.
Terkait upaya mediasi yang dilakukan, Muhammad Ardi menyebut pihak keluarga tidak menolak penyelesaian secara kekeluargaan, namun meminta penegakan hukum tetap dijalankan.
“Kalau untuk berdamai ya berdamai. Tapi untuk hukum, saya mohon hukum tetap berjalan. Perdamaian jalan, hukum juga jalan,” ujarnya.
Muhammad Ardi yang merupakan warga Kelurahan Simpang ini juga mengungkapkan bahwa pihak keluarga telah membuat laporan polisi.
“Kemarin baru kami masukkan laporan ke Polsek Berbak. Kita lapor yang terdekat dulu,” katanya.
Menurutnya, laporan tersebut dibuat pada malam sebelumnya, dan pihak keluarga akan mengikuti seluruh proses hukum yang berjalan.
“Nanti kalau ada tindak lanjut, baru kita ke atas lagi,” ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian masih mendalami laporan tersebut dan belum memberikan keterangan resmi terkait perkembangan penanganan kasus.(*)
Artikel ini telah tayang di TribunJambi.com dengan judul Kakak Korban Minta Kasus Pengeroyokan di SMKN Tanjabtim Jambi Diusut Tuntas, Laporan Masuk ke Polsek
| Dana Desa 2026 Kota Sungai Penuh Rp 17,5 Miliar Segera Cair, Inilah Rincian tiap Desa |
|
|---|
| Dana Desa 2026 Kabupaten Tebo Rp 38,9 Miliar Segera Cair, Inilah Rincian tiap Desa |
|
|---|
| Dana Desa 2026 Kabupaten Bungo Rp 43,1 Miliar Segera Cair, Inilah Rincian tiap Desa |
|
|---|
| Dana Desa 2026 Kabupaten Tanjung Jabung Timur Rp 24,8 Miliar Segera Cair, Inilah Rincian tiap Desa |
|
|---|
| Dana Desa 2026 Kabupaten Tanjung Jabung Barat Rp 34,6 Miliar Segera Cair, Inilah Rincian tiap Desa |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/151_guru.jpg)