Kamis, 11 Juni 2026

Budaya

Abdul Razak Pimpin LAM Kepri Lagi

Abdul Razak Pimpin LAM Kepri Lagi

Tayang:
Laporan Iswidodo Wartawan Tribunews Batam

TANJUNGPINANG, TRIBUN- Melayu jangan cengeng, apalagi sampai menangisi masuknya budaya asing yang bisa berpengaruh negatif terhadap mental generasi muda. Jauh lebih penting daripada itu semua adalah menciptakan benteng-benteng untuk menepis budaya asing yang bisa berdampak negatif tersebut.

“Patut diakui, kita tidak akan mampu menolak masuknya budaya asing di era globalisasi saat ini karena Kepri berada pada jalur internasional. Jangan tangisi itu,” ujar  Gubernur Kepri, HM Sani ketika membuka acara Mubes LAM Kepri di Gedung Daerah Tanjungpinang, Sabtu (14/01) malam.

Karena itu, kata Sani, perlu dibangun benteng agar era globalisasi yang menyeret budaya asing tidak merusak moral generasi muda di Kepualauan Riau. Tak ada lain, menanam budi pekerti berbasis kemelayuan sejak usia dini menjadi pilihan penting. Ini tidak saja menjadi tanggung jawab LAM, tetapi semua pihak.

Sani mengaku sangat risau bahwa  saat ini teridentifikasi telah terjadinya degradasi moral di kalangan anak muda di Kepulauan Riau. “Melayu, misalnya, tidak mengenal aksi demo, yang sampai melakukan perusakan. Sekarang, ini terjadi. Silakan melakukan protes, tapi tempuhlah dengan cara-cara santun dan bertujuan untuk membangun. Saling mengingatkan, itu memang dianjurkan agama." ujarnya.

Jati diri Melayu adalah santun, terbuka, toleransi, dan suka menolong, yang semua itu terangkum dalam sikap Islami. Sikap ini harus dapat merasuk ke berbagai suku yang ada di Kepulauan Riau sehingga terjalin pencapaian persatuan dan kesatuan sebagai modal penting untuk mendukung pelaksanaan pembangunan, masih lanjut Sani.

Setelah dibuka oleh Gubernur pada Sabtu malam di Gedung Daerah, kemudian musyawarah besar (mubes) dilanjutkan pada Minggu (15/1) di hotel Laguna. Dalam Mubes II tersebut, Haji Abdul Razak AB kembali memimpin Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepri periode lima tahun ke depan, setelah dalam musyawarah  yang digelar Minggu (15/01) ia terpilih secara aklamasi.

Bagi Razak, kepemimpinannya di LAM ini merupakan yang kedua kalinya atau belum tergantikan sejak lembaga ini terbentuk lima tahun lalu.  Diketahui, ada sembilan suara yang berhak memilih terdiri dari tujuh kabupaten dan kota, satu dari provinsi, dan satu dari unsur tokoh masyarakat.  Razak berhasil meraup 8 suara dari total 9 suara yang berhak. Hasil pemilihan itu dibacakan oleh pimpinan sidang, Minggu (15/1) sekitar pukul 16.30 WIB.

Ada poin penting dalam Mubes ini yaitu untuk memperkokoh keberadaan LAM Kepri telah disepakati untuk mendesak pemda menerbitkan Perda dalam waktu selambat-lambatnya setahun terhitung sejak Mubes ini dilaksanakan. Rekomendasi itu disampaikan komisi C dipimpin Abdul Malik MPd dalam pleno III Mubes II LAM Kepri.

Pemikiran tersebut didasari bahwa keberadaan LAM diharapkan benar-benar dapat berfungsi menjadi payung negeri, terutama di bidang adat dan budaya. Untuk itu, dirasakan sangat perlu lembaga ini dibentengi dengan sandaran hukum tertinggi di suatu daerah.

Selain memperkokoh keberadaan LAM itu sendiri, Perda tersebut juga dirancang memuat anggaran. Selama ini, penganggaran LAM tak beda dengan ormas atau LSM, yakni berdasarkan pengajuan proposal. Tak kalah penting dari itu adalah mengatur bagaimana pemberian nama tempat atau jalan, pendirian bangunan, berpakaian, dan pemberian gelar adat. (wid)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved