Dokter di Arab Saudi Layani Pasien Umrah dengan Bahasa Indonesia

Hampir semua pedagang mulai dari pedagang perhiasan, perlengkapan, dan lain-lain fasih berbahasa Indonesia.

Dokter di Arab Saudi Layani Pasien Umrah dengan Bahasa Indonesia
Tribunnewsbatam.com/Candra P. Pusponegoro
RUMAH MAKAN INDONESIA - Salah satu rumah makan di Kota Mekkah Arab Saudi. Di rumah makan ini tersedia menu masakan ala Indonesia. Meski para pedagangnya asli orang Arab, namun mereka fasih menggunakan Bahasa Indonesia saat menawarkan masakannya kepada pembeli dari Tanah Air.
Catatan Perjalanan Wartawan Tribunnews.com, Dewi Agustina ke Kota Mekkah dan Madinah 

TRIBUNNEWS.COM, MADINAH - “Ayo hajah lihat-lihat dulu, murah, murah, sepuluh riyal, duapuluh riyal, murah-murah, bisa kurang.” Begitulah kata-kata yang diucapkan sejumlah pedagang di Kota Madinah maupun Kota Mekkah saat mereka melihat wajah-wajah orang Indonesia yang melintas di depan toko mereka. 

Seolah tahu bahwa yang lewat adalah orang Indonesia, para pedagang spontan menawarkan dagangan mereka dengan menggunakan Bahasa Indonesia. Hampir semua pedagang mulai dari pedagang perhiasan, pedagang perlengkapan Islami seperti Alquran, sajadah dan lain-lain hingga pedagang pakaian cukup fasih berbahasa Indonesia. 

Bahkan saat tawar menawar harga pun mereka masih menggunakan bahasa Indonesia. Salah satu pedagang toko Al Rabia di Kota Madinah, Moidin, cukup fasih menggunakan Bahasa Indonesia saat wartawan Tribunnews bermaksud mengisi ulang pulsa dari provider Mobily di tokonya. 

Ditanya dari mana dia belajar Bahasa Indonesia, Moidin mengatakan dia belajar sendiri dari para pembeli yang kebetulan datang ke tokonya. Namun bukan berarti Moidin mengerti semua Bahasa Indonesia. 

Dia hanya bisa mengucapkan kata-kata yang umum utamanya seputar harga barang-barang yang ditawarkannya seperti 5 riyal, 10 riyal, 20 riyal, 50 riyal ataupun 100 riyal. Selebihnya dia akan menggunakan bahasa Arab dan bahasa Inggris. 

“Ya saya belajar sendiri dari para pembeli yang kebetulan orang Indonesia. Tapi tidak semuanya saya mengerti,” kata Moidin dalam bahasa Inggris. 

Tak hanya para pedagang, bahkan para dokter yang bekerja di apotek di Kota Mekkah juga ternyata pandai berbahasa Indonesia. Seorang dokter yang bertugas di salah satu apotek di Kota Mekkah tak jauh dari Masjidil Haram, Al Nahdi Pharmacy bahkan melayani pembeli warga negara Indonesia dengan Bahasa Indonesia. 

“Beli obat apa Bu?” tanya dokter Arab ini kepada seorang ibu jemaah umrah dari PT Nettour Batam yang kebetulan sedang kebingungan hendak membeli obat di tokonya. Ibu ini bingung karena dia tak bisa berbahasa Arab ataupun bahasa Inggris. 

Mendengar sang dokter menggunakan Bahasa Indonesia, akhirnya jemaah tersebut langsung mengatakan kalau dia sedang mencari obat batuk, flu dan demam. Dokter itu lalu memberikan dua jenis obat masing-masing berupa pil dan sirup. 

“Yang ini dosisnya sehari dua kali dan obat sirup sehari tiga kali,” jelas dokter kepada jemaah umrah tersebut. 

Namun ternyata tidak semua pedagang di Mekkah dan Madinah paham berbahasa Indonesia. Tidak sedikit pula mereka yang sama sekali tidak mengerti Bahasa Indonesia. Alhasil transaksi tawar-menawar barang dagangan menggunakan bahasa isyarat karena pedagang tak paham Bahasa Indonesia sementara pembeli warga Indonesia sama sekali tak paham bahasa Arab. 

Perbedaan bahasa tak menjadi halangan bagi para jamaah umrah untuk membeli beragam oleh-oleh khas Arab Saudi. Meski sama-sama tak mengerti bahasa yang digunakan, baik pedagang maupun pembeli dapat bertransaksi dengan lancar menggunakan bahasa isyarat. (*)
Editor: Candra P. Pusponegoro
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved