Kebutuhan Telur Ayam tak Terlalu Signifikan, Mengapa Harganya Naik Tinggi? Begini Jawaban Mendag

Harga telur ayam ras akhir-akhir ini memang mengalami kenaikan yang signifikan.

Kebutuhan Telur Ayam tak Terlalu Signifikan, Mengapa Harganya Naik Tinggi? Begini Jawaban Mendag
net
Ilustrasi 

TRIBUNBATAM.ID, JAKARTA - Harga telur ayam ras akhir-akhir ini memang mengalami kenaikan yang signifikan.

Di Batam sendiri, harga telur yang biasanya berkisra Rp 11 ribu sampai Rp 12.500 per 10 butir, kini naik menjadi Rp 14.500-Rp 15.000 per 10 butir.

Jelang akhir tahun ini, kenaikan harga pangan tidak hanya terjadi pada telur ayam tetapi juga daging dan kebutuhan lainnya.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita mengatakan, lonjakan harga daging dan telur ayam yang terjadi akhir-akhir ini karena masalah pasokan.

Menurut dia,  hal ini tidak perlu dikhawatirkan karena lonjakan harga yang terjadi tidak terlalu besar, dan dalam waktu singkat mestinya kembali normal.

"Sebenarnya kalau ditanya daging ayam dan telur (ayam) tidak terlalu takut karena tidak terlalu besar lonjakannya," ujar Enggar saat ditemui di Kantor Kemendag, di Jakarta, Senin (18/12/2017), seperti dikutip dari kompas.com, Selasa (19/12/2017).

Adapun menjelang Natal dan Tahun Baru 2018, harga telur ayam sudah naik di kisaran Rp 23.000 per kilogram sedangkan daging ayam Rp 33.000 per kilogram.

Baca: PBB Rancang Resolusi Soal Yerusalem, AS Justru Keluarkan Vetonya. Negara-Negara Arab pun Lakukan Ini

Enggar menambahkan, hal paling membingungkan dirinya adalah soal kenaikan harga telur ayam.

Pasalnya jumlah serapan atau konsumsi telur ayam tidak sebesar hari raya Idul Fitri, namun kenaikan harganya justru sama dengan kondisi hari raya tersebut.

Dia mengakui sempat terjadi kekurangan pasokan telur karena ayam petelur yang dipelihara beberapa peternak sakit dan produksinya berkurang.

"Kita evaluasi ternyata karena supply berkurang. Ada beberapa peternak (ayamnya) kena sakit dan kemudian produksi telur berkurang. Biasanya kan ayam tidak bisa ditahan-tahan untuk bertelur," ujarnya.

"Kalau daging ayam, kami perintahkan agar peternak besar tidak menaikkan (harga) dengan semena-mena. Tetapi saya tidak mau menekan terlalu jauh,juga tidak mau harga naik dan memberatkan pembeli. Harus ada keseimbangan," pungkasnya.

(srimurni/kompas.com/Yoga Hastyadi Widiartanto)

Editor: Sri Murni
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved