Terungkap! Calon TKI Ilegal Gagal di Nongsa Bayarnya Beda-beda. Begini Pengakuan Mereka    

Kendati sama-sama ke Malaysia dengan kapal dan rombongan sama, namun besarnya ongkos keberangkatan calon TKI ilegal gagal di Nongsa berbeda

Terungkap! Calon TKI Ilegal Gagal di Nongsa Bayarnya Beda-beda. Begini Pengakuan Mereka      
tribunbatam/efendi wardoyo
Suasana penggagalan keberangkatan TKI ilegal Malaysia di pantai Teluk Mata Ikan, Nongsa 

TRIBUNBATAM.id, BATAM-Kendati sama-sama ke Malaysia dengan kapal dan rombongan sama, namun besarnya ongkos keberangkatan masing-masing calon TKI ilegal gagal di Nongsa berbeda.

Seorang korban bernama Oki Supriadi, warga Jambi mengaku dirinya berangkat ke Batam dari Muara Tungkal, Kabupaten Tanjab Barat menumpang ferry, Kamis (18/7/2018). Dia kemudian mengontak seseorang berinisial Sumantri.

Baca: Polairud Polda Kepri Gagalkan Penyelundupan TKI Ilegal ke Malaysia di Nongsa

Baca: Inilah Fahmi, Keluarga Terpandang dan Suami Inneke yang Terseret Kasus Kalapas Sukamiskin

Baca: Simak! Inilah Kumpulan Lengkap Contoh Soal Tes CPNS 2018, Unduh dan Baca Syarat-syaratnya

Baca: Terungkap! Kesaksian Juru Masak: Inilah Makanan Pantangan Pak Harto dan Bu Tien Semasa Hidup

"Sumantri ini orang yang biasa mengantarkan TKI melalui jalur belakang atau illegal," ungkap Kepala Ditpolairud Polda Kepri, Kombes Pol Benyamin, Minggu (22/7/2018).

Sampai di Pelabuhan Sekupang, oleh Sumantri dirinya diminta meluncur ke penampungan di Batu Besar, Nongsa. Sesampainya di lokasi, dia bertemu Sumantri dan menyerahkan ongkos menyeberang ke Malaysia sebesar Rp 2 juta. Di lokasi, Oki mengaku dirinya juga melihat adat 22 orang lainnya dengan tujuan sama.

Sekitar pukul 21.99, dirinya dijembut orang yang mengaku anak buah Sumantri menggunakan mobil Avanza menunju pantai Teluk Mata Ikan di Nongsa. "Kemudian kami disuruh sembunyi di semak-semak tepi pantai agar tidak terlihat petugas sambil menunggu speedboat datang," jelas Oki.

Namun belum sempat berangkat, dirinya keburu disergap petugas Polairud dan dibawa ke markasnya. Senada dengan Oki, Taufik warga Tulungagung, Jawa Timur mengaku dirinya berangkat ke Batam bersama tiga rekannya. Mereka naik pesawat dari Surabaya. Setibanya di Bandara Hang Nadim, Batam menurut pengakuannya, rombongannya diantar ke pantai Teluk Mata Ikan.

"Kami disuruh sembunyi di semak-semak tepi pantai bersama TKI lainnya," tuturnya. Sekitar dua jam menunggu sejak pukul 19.00 WIB, speedboat yang dijanjikan datang. Saat pengisian BBM, dia mengatakan sejumlah anggota Polairud Polda Kepri datang menyergap.

Suasana penggagalan keberangkatan TKI ilegal Malaysia di pantai Teluk Mata Ikan, Nongsa
Suasana penggagalan keberangkatan TKI ilegal Malaysia di pantai Teluk Mata Ikan, Nongsa (tribunbatam/efendi wardoyo)

Namun berbeda dengan Oki, dirinya hanya membayar Rp 1,7 juta kepada seseorang bernama Sultan. Dia meneleponnya setibanya di Bandara Hang Nadim.

Seperti diberitakan, sekurangnya 24 orang diduga calon TKI ilegal ke Malaysia digagalkan keberangkatannya di Nongsa, Rabu (18/7/2018). Ditpolairud Polda Kepri selanjuntnya mengamankan mereka guna penyelidikan lebih lanjut.

Penggagalan berawal dari informasi warga ke Ditpolair soal adanya aktivitas mencurigakan di pantai Teluk Mata Ikan, Nongsa.

Direktur Polairud Polda Kepri, Kombes Pol Benyamin Sapta mengatakan, saat penyergapan pihaknya mengamankan juga speedboat tanpa nama bermesin tempel 2x200 PK.

Sekitar pukul 22.00 WIB, pihanya menyergap di pantai. "Di situ, kita amankan dua calon TKI dan dua ABK sedang isi bahan bakar speedboat," jelasnya, Minggu (22/7/2018). Berbekal informasi di loksi, pihaknya berhasil menemunkan 22 orang lainnya di sebuah gubuk diduga tempat penampungan sementara.

Benyamin menduga, ini bagian sindikat. Karena terorganisasi, termasuk penjemputan calon TKI ilegal ke bandara dan pelabuhan.

"Ini masuk dalam tindak pidana tentang Perlindungan Pekerja Migran Indonesia sebagaimana dimaksud dalam rumusan pasal 81 jo pasal 69 jo pasal 86 huruf c jo pasal 72 huruf c Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2017 tentang Perlindungan Pekerja Migran Indonesia jo pasal 55 ayat (1) Ke-1 KUHPidana," jelasnya. (*)

Penulis: Efendi Wardoyo
Editor: Agoes Sumarwah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved