Anambas Terkini

Pelajar Wanita Ini Alami Trauma. Disuruh Melayani 13 Pria, Tapi Masih Punya Hutang ke Bos Kafe

NR diketahui baru dua bulan bekerja di kafe remang-remang milik Akai di Air Belimbing Desa Batu Berapit Kecamatan Jemaja

Pelajar Wanita Ini Alami Trauma. Disuruh Melayani 13 Pria, Tapi Masih Punya Hutang ke Bos Kafe
TRIBUNBATAM.id/DOK POLSEK SIANTAN
Mulyati dan Moh. Surya yang diamankan dalam kasus dugaan perdagangan orang di Anambas 

TRIBUNBATAM.id, ANAMBAS - NR, korban dugaan tindak pidana perdagangan orang masih mengalami trauma.

NR diketahui baru dua bulan bekerja di kafe remang-remang milik Akai di Air Belimbing Desa Batu Berapit Kecamatan Jemaja.

Dijanjikan Bekerja di Restoran. Remaja ini Justru Dipekerjakan di Kafe Remang-Remang

Sang Ayah Ungkap Kisah Kelam Vanessa Angel, Daddy Sayang Kamu, Keluarga Semua Support Kakak

Kasus Prostitusi Online Artis. Polda Jatim Temukan Ribuan Foto & Video Syur dari Ponsel Mucikari ES

Wanita yang berdasarkan identitas KTP berusia 16 tahun serta berprofesi sebagai pelajar itu ditawarkan oleh temannya yang berinisial R untuk bekerja sebagai pelayan restoran setelah satu minggu tidak mendapat pekerjaan di Jakarta.

"Korban ini ditawarkan oleh temannya untuk bekerja sebagai pelayan restoran dengan gaji sebesar 2 juta rupiah dan transportasi ditanggung," ujar Erda pendamping korban dari Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak Kabupaten Kepulauan Anambas, Jumat (25/1/2019).

Selama dua bulan bekerja di sana, NR diketahui telah melayani 13 lelaki hidung belang. Dari 13 kali melayani, ia hanya dihitung 8 kali karena dianggap memiliki hutang oleh pemilik kafe.

Ia pun hanya mengharap tip dari pengunjung antara 50 ribu sampai 100 ribu rupiah. Bahkan, untuk membawa keluar korban, biaya sebesar 500 ribu ditambah biaya lain sebesar 200 ribu rupiah harus diberikan kepada tersangka.

"Uang itu tidak diterima korban, tetapi langung diambil oleh bos. Jelas korban masih trauma atas peristiwa ini," ungkapnya.

Beban korban pun semakin bertambah, setelah diberikan baju yang dihitung hutang oleh pemilik kafe tersebut. Praktek dugaan perdagangan manusia ini pun mulai terkuak setelah ada pria yang serius ingin menikahi korban.

Ketika itu, korban sempat ditahan oleh pemilik kafe dengan alasan memiliki hutang saat henda dibawa ke Tarempa untuk mengurus dokumen pernikahan.

Uni, saudara dari calon suami korban pun, sempat khawatir dengan perangai pemilik kafe. Mereka pun, akhirnya memutuskan untuk melaporkan persoalan ini ke pihak kecamatan.

"Rencananya korban dengan sepupu saya ini ingin menikah di Dabo, Kabupaten Lingga. Kami sempat melaporkan hal ini kepada pihak kecamatan karena takut dengan perlakuan pemilik kafe," ungkapnya.

Dari koordinasi dengan pihak kecamatan, dan dibantu oleh warga dan aparat keamanan, akhirnya langsung membuat laporan ke kepolisian dan mengambil korban yang sempat ditahan di kafe remang-remang itu.

"Ibu-ibu dengan dibantu oleh pihak keamanan langsung mendatangi cafe itu dan mengambil korban yang sempat ditahan di kafe. Selanjutnya, melaporkan hal itu ke pihak kepolisian," ungkapnya.(*)

Penulis: Septyan Mulia Rohman
Editor: Ucu Rahman
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved