Kim Jong Un Perintah Warganya Kirim Tinja 100 Kg Per Hari, Buat Apa?
Kim Jong Un menuntut agar setiap warga yang berbadan sehat menghasilkan dan mengirimkan 100 kg tinja per hari
TRIBUNBATAM.id - Pemerintah Korea Utara dan pemimpinnya, Kim Jong-un telah mengeluarkan sebuah perintah.
Kim Jong Un menuntut agar setiap warga yang berbadan sehat menghasilkan dan mengirimkan 100 kg tinja per hari untuk mengatasi krisis pupuk yang menjadikan perekonomian negara menurun.
Mengingat berat total rata-rata kotoran manusia kurang dari 99 kg per hari, pemerintah Korea Utara telah menambahkan bahwa siapa pun yang gagal harus menyerahkan kompos makanan seberat 300kg.
Diktator berusia 35 tahun itu mengumumkan upaya ini dalam pidatonya saat Tahun Baru 2019 lalu.
Dia juga menjelaskan bahwa kotoran manusia akan menjadi kunci pertumbuhan ekonomi Korea Utara.
Penggunaan kotoran manusia sebagai pupuk sendiri sudah digunakan bahkan sejak era Yunani Kuno terdahulu.
• BREAKINGNEWS! Satgas Antimafia Bola Geledah Apartemen Milik Joko Driyono, Ini Barang yang Disita
• Heboh! Penumpang Lion Air JT-293 Temukan Kalajengking di Kabin Pesawat, Ini Penjelasan Lion Air
• Kondisi Terkini Ani Yudhoyono, Dikunjungi PM Singapura Hingga Harapan & Doa SBY untuk Sang Istri

Penduduk Yunani Kuno akan mengumpulkan kotoran Athena di waduk dan kemudian mengangkutnya ke lembah sungai Cephissus untuk menumbuhkan tanaman.
Fakta bahwa rata-rata orang menghasilkan 320 kg tinja dalam satu tahun membuat pendekatan Kim Jong-un tidak dapat dipertahankan.
Meskipun demikian, dia tentu saja tampak yakin tentang rencana tersebut selama pidato pidato berlangsung.
“Pihak berwenang di masing-masing daerah memberi tugas kepada pabrik, lembaga, dan kelompok warga dengan memberikan tanda kutip produksi untuk setiap individu,” kata sumber DPRK.
Tapi bagaimana mungkin satu orang bisa menghasilkan 3 ton kotoran manusia dan mengirimkannya?”
"Kebanyakan orang tidak dapat (membuat atau mengumpulkan) 100kg per hari, sehingga mereka akhirnya memberikan apa yang mereka anggap cukup," kata sumber itu.
“Kuota karenanya tidak ada artinya. (Kuota) sama di kota dan desa karena kuota berlaku untuk semua orang secara merata. Ketika pabrik pakaian dan makanan kota (beroperasi dengan kapasitas penuh), pekerja akan mencoba segala cara untuk mengisi permintaan kuota.”
Sumber menambahkan bahwa warga juga dapat membayar biaya tunai, atau membeli pupuk dari pedagang untuk memenuhi tuntutan harian itu.
Kebijakan Kim Jong-un itu dengan cepat mengundang kebencian di Korea Utara dari semua pihak.
