Perang Dagang AS vs China Masih Bergolak, Pemerintah Siapkan Strategi Ekspor dan Percepatan KEK
Kepastian perang dagang saya kira setelah pertumbuhan (ekonomi AS) triwulan kedua. Kalau menurun, perang dagang pasti tidak akan berlangsung lama
TRIBUNBATAM.ID, JAKARTA - Tanda-tanda berakhirnya perang dagang AS vs China , bahkan terlihat semakin bergolak karena Presiden Donald Trump terus memberi ancaman.
Sementara itu, China juga membalas perlakuan AS terhadap produk-produk asal China dengan melakukan hal yang sama.
Akibat perang dagang AS vs China itu semakin menimbulkan ketidakpastian dalam perekonomian dan perdagangan dunia.
Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kemenko Perekonomian Iskandar Simorangkir memandang, arah perang dagang antara AS vs China memang sulit diprediksi.
Namun, menurut dia, ada potensi AS kembali bersikap melunak jika pertumbuhan ekonomi negeri Paman Sam tersebut terkoreksi di akhir kuartal kedua nanti.
“Kepastian perang dagang saya perkirakan setelah pertumbuhan (ekonomi AS) triwulan kedua. Kalau menurun, perang dagang pasti tidak akan berlangsung lama. Saya yakin AS tidak mungkin ngotot terus seperti sekarang ini,” ujar Iskandar seperti dilansir KONTAN.
Setidaknya, AS sudah menunjukkan sikap lebih lunak kepada Meksiko.
Akhir pekan lalu, Presiden AS Donald Trump memutuskan untuk menunda kenaikan tarif bea masuk untuk produk impor Meksiko sebesar 5% setelah tercapainya kesepakatan Meksiko mengurangi arus imigran masuk ke wilayah AS.
Namun, Iskandar juga tak menampik kemungkinan perang dagang berlanjut dan semakin panas.
Terutama jika pertumbuhan ekonomi AS melaju lebih tinggi di kuartal kedua.
Soalnya, pada kuartal pertama lalu, ekonomi AS berhasil tumbuh pada level 3,2%, jauh melampaui perkiraan Federal Reserve yang hanya 2,4%.
Oleh karena itu, Iskandar mengatakan, pemerintah terus fokus mengantisipasi dampak dari keberlanjutan perang dagang.
Utamanya, dampak terhadap perdagangan internasional Indonesia yang tecermin dari neraca perdagangan.
“Ekspor sudah jelas menurun. Tapi impor kita masih lebih besar kontraksinya. Negara-negara berkembang saya lihat turun semua pertumbuhan ekspornya, kecuali Vietnam dan India,” ujarnya.
Menghadapi itu, pemerintah melakukan langkah identifikasi produk untuk mengambil peluang mengekspor barang yang tadinya diekspor China ke AS.