Yang Tersisa dari World Cup 2010

Begadang Nungguin Loket Internet

World Cup 2010 Afrika Selatan, telah berakhir. Ada kenangan indah bagi Wiwit Tirayoh dan Samuel Tirayoh. Sambil merayakan 15 tahun

Begadang Nungguin Loket Internet
oleh : Wiwit Tirayoh

World Cup 2010 Afrika Selatan, telah berakhir. Ada kenangan indah bagi Wiwit Tirayoh dan Samuel Tirayoh. Sambil merayakan 15 tahun pernikahannya, Wiwit dan suaminya berangkat ke South Africa. Berikut catatan Wiwit Tirayoh.

KAMI berangkat ke Afrika Selatan, berawal dari keinginan suami saya yang sejak kecil selalu bercita-cita ingin nonton piala dunia secara langsung. Selain itu suami saya, Samuel Tirayoh, juga beringinan menyalurkan hobi memotretnya (photography).

Karena itu ketika niat itu sudah muncul, kami berdua jauh-jauh hari sudah mulai menabung. Uang hasil keringat suami saya yang bekerja di salah satu perusahaan tambang di Kabupaten Sumbawa Barat Nusa Tenggara Barat, kami kumpulkan sedikit demi sedikit. 

Bahkan, kami telah mempersiapkan rencana perjalanan itu setahun sebelum Piala Dunia 2010 digelar. Mulai dari mencari informasi penerbangan, jadwal pertandingan dan juga booking tiket pertandingan.

Dan yang paling seru adalah saat booking tiket untuk pertandingan melalui online. Gara-gara itu suami saya harus begadang nungguin loket tiket di internet dibuka dan berebut dengan calon penonton lainnya dari senatero dunia. 
Untuk mendapatkan tiket, suami terpaksa hunting tiket sejak tujuh bulan sebelum piala dunia digelar. Sebelum berangkat,  kami mendapatkan 10 tiket pertandingan. Harga selembar tiket untuk nonton satu kali pertandingan mencapai 200 dollar AS.

Kami nonton di Soccer City, Pretoria, Rustenburg dan Elispark. Pertandingan yang kami saksikan diantaranya Spain Vs Honduras, Cameroon Vs Denmark, Ghana vs German, Japan vs Paraguay dan Argentina vs Mexico. Hari pertama kami sempat nonton Korea Vs Argentina.

Saya sendiri sebenarnya suka nonton bola. Tidak hanya itu, saya juga kerap bermain bola. Itupun sekedar fun saja. Kalau enggak percaya, lihat saja aksi futsalku di salah satu album yang ada di Facebook. Sebenarnya, nendang bola sih gampang. Tapi yang susah adalah mencetak golnya.

Buat saya ikut nonton World Cup 2010 bukan hanya karena saya suka nonton bola, melainkan saya ingin melihat Afrika Selatan. Dan yang membuat saya tertarik adalah negara ini dikenal sebagai negara yang gersang dengan tingkat kriminal yang tinggi. Sebagian besar penduduknya berkulit hitam. 

Kenapa saya tidak takut walau Afsel memiliki catatan buruk di dunia kriminal? Sebenarnya kondisi negara seperti itu  bukan hanya di Afsel saja. Di Indonesia banyak diberitakan soal terorisme dan copet. Anehnya, kita sendiri ngerasa biasa saja kan. Jadi saya pikir Fédération Internationale de Football Association (FIFA) enggak akan ambil resiko dan pasti mereka meningkatkan keamanan di negara itu.

Selain itu kepergian kami berdua sekalian untuk merayakan pernikahan kami yang ke 15 tahun. Bagaimana dengan anak-anak saya? Mereka sengaja tidak kami ajak, karena perjalanan kami kali ini merupakan yang pertama ke South Africa.(*)
Editor: Agus Tri Harsanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved