Setahun Gempa Ranah Minang (2)

Getaran Gempa Terbawa Mimpi

Entah mengapa saat gempa itu terjadi saya tidak menangis. Padahal saat gempa 2007 yang mana

oleh Ruziana

Entah mengapa saat gempa itu terjadi saya tidak menangis. Padahal saat gempa 2007 yang mana saya mendapat telepon dari Mak, saya langsung menangis membayangkan kondisi di sana. Tapi, malah ketiksa saya mengalami sendiri tahun 2009 itu, saya tidak menangis.

APAKAH karena saya berusaha (sok) tegar dan tabah di hadapan ortu dan adik-adik saya. Apakah karena saya selama ini saya selalu berusaha menjadi contoh yang baik bagi mereka. Memang, ketika gempa reda dan Mak datang dalam keadaan panik melihat kondisi rumah dengan mata basah, saya langsung mencegah untuk tidak meratapi lagi. Saya mengingatkan Mak untuk melihat kondisi orang lain yang lebih parah.

Tapi, semua rasa gundah gulana, resah, sedih yang bercampur aduk dalam ke sok tegaran yang saya simpan dalam hati itu, telah membuat saya trauma hingga sekarang. Suara getaran sedikit saja bisa membuat saya kaget.

Bahkan pernah suatu malam hujan lebat tiba-tiba turun menimbulkan suara getaran kuat di atap, membuat saya yang sedang tertidur di kamar, langsung berteriak gempa sekencang-kencangnya dan lari keluar kamar. Suami yang masih terjaga di depan TV di ruang tengah, kaget dan menenangkan saya.

Ranah Minang saat itu memang lumpuh. Sinyal hanphone pun putus. Saya bingung bagaimana caranya mengabarkan kondisi saya kepada suami dan mertua di Tanjungpinang.

Menurut sejumlah orang jaringan telelpon rumah bisa dipakai. Tapi, kami tak punya telepon rumah dan memang menggunakan handphone semuanya.

Akhirnya keesokan harinya saya bersama mak mencoba meminta tolong tetangga, yang konon punya telepon rumah. Mak mengatakan mau membayar berapa saja asal dia mau meminjamkan telepon rumah untuk saya. Tapi, yang namanya manusia dengan sifat yang tidak sama, keluarga yang punya cucu seorang artis ibukota itu, mengaku teleponnya tak bisa dipakai. Padahal, untuk menghibur hati kami, cobalah perlihatkan dan tunjukan kalau memang tidak bagus.

Tapi, Alhamdulillah ada sebuah keluarga lagi dengan kondisi rumah yang tak kalah parah dengan kami, ternyata mau meminjamkan telepon rumahnya. Beberapa kali saya menghubungi nomor handphone suami tidak tersambung.
Saya coba hubungi nomor keluarga lainnya, masuk, tapi tak diangkat.

Akhirnya nomor salah seorang kawan saya bisa masuk dan saya meminta tolong dia ke rumah saya memberikan kabar ke suami saya, kalau saya dan keluarga baik-baik saja.

Tapi, rasa penasaran berbicara dengan suami tetap membuat saya terus mencoba dan akhirnya tersambung dan diangkat. Luar biasa perasaan ini ketika mendengar suaranya yang penuh keprihatinan tentang saya dan keluarga.

Bahkan suami saya mengaku sedang mencari tiket untuk menjemput saya dan membawa bantuan dari keluarga di Tanjungpinang. Tapi saya mencegah, karena tiket pesawat pastilah sulit didapat dan sejumlah akses jalan rusak dan tertutup.

Lega dengan memberi kabar tentang kondisi saya dan keluarga pada suami. Saya membayar sejumlah uang yang saya rasa cukup kepada tetangga yang baik hati itu. Saya bahkan meminta dia agar mengingatkan saya jika pembayaran telepon dia bulan mendatang, jauh lebih besar. Intinya saya siap membayar tambahannya berapa saja.(bersambung)

Editor: Agus Tri Harsanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved