Citizen Journalism

Tindakan Advokasi Berbuahkan Tuntutan 4 Tahun Penjara

dituntut empat tahun penjara oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Batam ini mengaku ia melakukan tindakan advokasi

Tindakan Advokasi Berbuahkan Tuntutan 4 Tahun Penjara
tribunnews batam / istimewa
Hukum dan timbangan. foto Ilustrasi
Pledoi Rizaldy Ananda Terdakwa Kerusuhan HNSI

TRIBUNNEWSBATAM, BATAM- Terdakwa Rizaldy Ananda yang juga sebagai aktifis lingkungan tidak mengerti dengan tuduhan yang diberikan kepadanya sebagai provokator. Sehingga kerusuhan puluhan nelayan yang mengakibatkan terjadinya pengrusakan di kantor Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kota Batam, Jumat 21 Juni 2010 lalu.

Ayah dua anak yang dituntut empat tahun penjara oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Batam ini mengaku ia melakukan tindakan advokasi kepada nelayan.

Pernyataan Direktur Eksekutif Cisha ini disampaikan melalui sidang pledoi di Pengadilan Negeri Batam yang diketuai Rudi Rafli Siregar dengan beranggotakan Kartijono dan Melfi Haryati, Senin (22/11/2010). Dalam sidang yang kelima kali ini, dengan tegas Rizaldy menyesali terjadinya kerusuhan di kantor HNSI itu. Kejadian yang terjadi begitu cepat dan amuk nelayan kepada HNSI tidak terbendung itu telah memberikan hukuman yang setimpal selama di tahanan.

"Tidak ada tersirat dan terbersit, saya menyuruh dan mendorong para nelayan untuk menghancur kantor HNSI," ujarnya. Yang ada, lanjutnya, ia mengajak pihak kepolisian untuk menjadi penengah hingga benih-benih konflik tidak terjadi.

Tindakan yang dilakukannya ini bukan suatu alasan atau pembenaran. Sejujurnya, ia ingin menghadirkan Kapolda Kepri, Brigjen Pol Pudji Hartanto dan Kapoltabes Barelang, Kombes Pol Lenidas Braksan yang saat itu menjabat.

"Dengan kedua pejabat yang sudah mutasi ini, saya membicarakan untuk menciptakan kondisi yang kondusif di lapangan. Karena saat itu, kondisi memanas," ujarnya.

Dia menjelaskan, awal Februari 2010 lalu, ia diundang terdakwa Yosep Dias yang juga didakwa sebagai aktor dalam kerusuhan HNSI untuk melihat-lihat keadaan masyarakat di Pulau Gare, Pulau Lingke dan Pulau Bertam. Dan sekalian untuk melihat ekosistem yang terjadi di sepanjang Selat Bulang, Tanjung Uncang.

"Laut bukan open stroage (gudang terbuka) bagi para industri galangan. Dimana potongan besi yang ada di dasar laut dan diambil nelayan yang sudah beralih profesi sebagai penyelam besi, notabene mengajarkan kepada mereka itu sebagai tindakan untuk melakukan pembersihan lingkungan," katanya.

Tindakan mengambil besi yang masih mempunyai nilai ekonomis itu, katanya, di lihat negatif Ketua HNSI Awang Herman. Dan para penyelam ini dikejutkan oleh Ketua HNSI yang mengatakan penyelam sebagai pencuri besi dan wajar di tembak.

"Stetmen demi stetmen, baik dari pengurus HNSI memancing reaksi penyelam. Dan tidak berhenti dengan pernyataan, HNSI menindak lanjuti dengan demo ke Mapoltabes Barelang. Mereka meminta agar polisi menangkap Yosep," ujarnya.

Rangkaian penekanan yang dilakukan HNSI itu yang merupakan faktor terjadinya kerusuhan kantor HNSI. Tetapi dengan kejadian ini, tambahnya, ia terperangkap dan saat ini duduk di kursi pesakitan sebagai provokator.

Saksi dan pertanyaan JPU telah memberatkan. Dimana, ia mengaku tidak pernah melakukan komunikasi bahkan tidak begitu mengenal saksi tersebut. Dan pernyataan JPU yang mengatakan Rizaldy berbelat-belit dan menghambat persidangan terlalu berlebihan. Padahal, tambahnya, dalam kasus ini ia hanya berbeda pendapat saja.

"Apakah saya harus mengakui sesuatu yang tidak saya lakukan?," ujarnya bertanya. (dikirim oleh eddy supriatna)

Editor:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved