Natal dan Tahun Baru

Rutan Baloi Rayakan Natal Bersama Napi

Rutan Baloi Rayakan Natal Bersama Napi


Laporan Zabur Anjasfianto, wartawan Tribunnews Batam

TRIBUNNEWSBATAM, BATAM-Banyak yang menganggap penjara adalah tempat penyiksaan bagi orang-orang yang bersalah. Selain itu penjara  juga dianggap sebagai tempat yang mengerikan bagi yang sedang menjalankan hukuman.

Namun pandangan ini bertolak belakang dengan pendapat mantan naripidana yang pernah dikurung dibalik teralis besi Rumah Tahanan (Rutan) kelas IIA, Baloi Batam masing-masing Paulus Amat Tantoso dan Jhonson Napitupulu. Mereka menganggap penjara merupakan tempat untuk merenungkan kembali perbuatan yang selama ini sehingga semua akan sadar dan kembali bertobat serta meminta petunjuk kepada sang pencipta.

Semua ini terungkap dalam Perayaan Natal jajaran Kementerian Hukum dan Ham (Kemhumham) RI Kepri wilayah Batam bersama 86 warga binaan Rutan kelas II A Baloi Batam, Sabtu (18/12). Tema yang diambil dalam perayaan Natal itu yakni dengan semangat Natal, mari kita tingkatkan iman dan pelayanan kita bagi masyarakat, bangsa dan negara.

Warga binaan Rutan Baloi ini pun menyaksiakan VCD yang diputarkan atas kesaksian Paulus Amat Tantoso terhadap kehidupannya hingga dijebloskan ke dalam penjara karena melaukan money laundry.

Dalam kesempatan itu Paulus Amat Tantoso sendiri berpesan kepada narapidana yang sedang menjalani hukuman untuk selalu tabah dan sabar. Karena cobaan yang datang dan dihadapi adalah ujian dari Tuhan.

"Yakinlah cobaan yang hadapi semua teman di Rutan ini  tidak melebihi dari kekuatan manusia. Pertolongan Tuhan tidak pernah terlambat, yakinlah itu DIA melihat dan mendengarkan kita,"ujar Amat dihadapan seluruh warga binaan dan staf Kemhumham RI wilayah Batam.

Selama dalam penjara Amat menganggap mendapatkan hikmah karena bisa intropeksi diri dan menjadikan tahanan sebagai tempat untuk berobat dan mendekatkan diri kepata Tuhan. Bahakn dirinya selama didalam Rutan menggangap sebegai tempat untuk belajar dan mendapatkan gelar S3.

"Namun S3 disini bukan mendapatkan gelar Doktor, tapi Sadar atas kesalahan dan dosa-dosa yang diperbuat pada masal lalu, kemudian Sabar dalam menjalani hukuman dengan itropeksi  dan bertobat dan terakhir ucapan Syukur dimana keluarga kita dipulihkan dan diselamatkan Tuhan kembali,"ujarnya. 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved