Opini

Dicari Motivator Sekaliber AA Gym

Dicari Motivator Sekaliber AA Gym

Dicari Motivator Sekaliber AA Gym
Tribunnews Batam / Istimewa
Motivasi. Foto Ilustrasi
Citizen Journalism Rahmat Arif Wibawa

TRIBUNNEWSBATAM, BATAM- Bisnis motivator adalah suatu job yang menjadi salah satu selebritis dikalangan warga metropolis dewasa ini. Hal ini dipicu dengan “uncertainty” perekonomian yang memaksa warga metropolis untuk bisa bertahan hidup melalui usaha maupun pekerjaan yang ditekuninya atau bahkan upaya mendapatkan pekerjaan yang diinginkannya.

Tekanan pekerjaan dan tuntutan ekonomi ini semakin menambah “stressing” mental warga metropolis, dengan demikian berakibat turunnya moralitas kerja, “low spirit” dan “not motivated”. Pemirsa acara motivation talk, seminar-seminar “business motivation” dan forum-forum diskusi motivasi ini benar-benar menjadi suatu acara yang “high rating”, baik yang di adakan oleh motivator-motivator kenamaan dalam negeri maupun luar negeri sebut saja Golden Ways dari Maio Teguh dan Motivatalk atau buku-buku dari Dale Carnegie.

Rupanya acara penyemangatan ini menjadi suatu acara yang penting dalam rangka pembangkitan energi positif dari para peserta atau pemirsanya, yang diharapkan akan dapat memompa semangatnya kembali dalam menjalankan kehidupannya khususnya dalam usaha ataupun pekerjaannya.

Namun sedemikian hebatnya, ibarat minum obat acara ini harus secara berkala dilakukan disaat-saat motivasi sudah mulai turun kembali. Secara umum manusia sebenarnya sudah mempunyai alat motivator dalam kehidupannya jika dia memeluk salah satu agama atau keyakinan religious.

Tetapi, yang menjadi pertanyaan adalah mengapa tidak digunakannya alat motivator ini sebagai penyemangat hidup yang seharusnya sudah sejak awal diciptakan untuk itu ? Beberapa dari mereka mengatakan bahwa agama adalah urusan religius pribadi antara dia dan Sang Pencipta saja.

Artinya mereka tidak mempercayakan urusan agama sebagai suatu alat pemecahan masalah kehidupannya dalam berhubungan dengan manusia, sehubungan dengan usaha dan pekerjaanya. Secara sempit diartikan bahagama adalah urusan ibadah saja.

Kalau kita melihat dan mendengar acara-acara motivasi baik di TV maupun seminar-seminar atau bahkan buku-buku, sebenarnya kata-kata mutiara yang dirangkai dari sang motivator adalah berdasarkan rujukan-rujukan dari kitab suci yang disampaikan secara lugas enak didengar dan mudah dipahami dengan tafsir secara bebas.

Hal ini menunjukkan adanya “miss- link” antara tujuan Tuhan Yang Maha Esa (Allah) menciptakan kitab sebagai pedoman hidup manusia yang sudah barang tentu penuh dengan permasalahan hidup. Ayat-ayat itu adalah petunjuk dan penyemangat, demikian juga bentuk-bentuk peribadatan itupun adalah suatu bentuk motivasi yang tidak sekedar urusan sang pribadi dengan Sang Pencipta. Terlepas semuanya itu berkaitan dengan adanya “reward and punishment” yang juga diatur dalam tiap-tiap kitab agama.
           
Marilah kita mengkilas balik beberapa tahun belakangan ini, adanya seorang dai kondang yang mampu untuk menyampaikan ayat-ayat Al Quran dengan bahasa yang sederhana cenderung gaul, mudah dimengerti, seperti Managemen Qolbu dari Aa Gym dan lain sebagainya. Secara universal hampir semua orang bisa mendengarnya dengan tanpa tersinggung dan termotivasi.

Hal ini tak lepas bahwa sang motivator ini ternyata juga seorang pengusaha yang notabene juga mengalami “stressing” layaknya pengusaha lainnya. Sayangnya kemampuan ini tidak dimiliki oleh para dai-dai lainya yang hanya pandai melafalkan ayat tanpa bisa menerapkan dalam kehidupan nyata khususnya dikalangan pengusaha dan pekerja, karena tidak semua dai pengusaha dan karyawan.

Umumnya motivator-motivator itu adalah pengusaha sukses, mantan CEO perusahaan dan orang sukses lainnya. Jadi, menurut pendapat saya, jikalau masing-masing dari kita mau mempelajari secara seksama ayat-ayat dalam kitab agama yang kita anut dan menerapkannya dalam kehidupan dengan benar maka saya yakin kita pasti bisa menyemangati diri kita sendiri, walau apapun keadaannya.

Tentunya salim menyemangati akan lebih baik karena adanya suasana, nuansa positif dilingkungan tersebut yang mana masing-masing darinya adalah orang-orang yang beriman dan yang mengimani kitabnya dengan benar.

Dai, pendeta, pemuka agama sebaiknya bisa menjadi motivator ulung bagi umat dengan pendekatan ayat dan kehidupan umat secara logis rasional dan bahkan hal-hal yang iirasional/ spiritual dengan penyampaian yang enak didengar dan tidak cenderung menakutkan. Sedangkan motivator lintas agama sebaiknya juga memberikan foot note atau catatan kaki darimana sumber kata-kata yang dia dapatkan secara transparent dengan tanpa memberikan ketersinggungan pemeluk agamanya. Demikianlah seharusnya menjadi warga metropolis yang tangguh, handal, penuh semangat, kreatif dan tentunya agamis.

Penulis : Rahmat Arif Wibawa, QA Section Head,
PT Surya Teknologi Batam Jalan Beringing Lot 312-313, BIP, Mukakuning Batam (rahmatarifwibawa@gmail.com)

Editor:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved