Kamis, 21 Mei 2026

Pendapatan Supir Truck Menurun karena Antre Solar

Pendapatan Supir Truck Menurun karena antre solar

Tayang:

TANJUNGPINANG, TRIBUN- Untuk ke sekian kalinya para supir truck atau lori mengeluhkan pendapatan menurun gara gara membeli solar di SPBU harus antre lama berjam-jam dan dibatasi kapasitasnya. Selain itu mereka tak berani lagi angkut antar barang jarak jauh karena stok solar di tanki tak mencukupi, ditambah lagi pungutan liar di beberapa lampu merah dan perempatan seolah tak mau mengerti dengan kondisi sulit ini.

"Kami tak tahu lagi harus mengeluh kepada siapa. Antre berjam jam di SPBU menghabiskan waktu sehingga jatah untuk mengangkut pun hilang. Kalaupun dapat solar sesuai giliran masih juga dibatasi pembeliannya. Bagaimana ini cara mengaturnya kok mempersulit rakyat kecil. Teman teman malah sering ketiduran di truck karena kelamaan antre solar dan kehabisan stok. Kami ini mau kerja baik baik dan membeli solar untuk mencari nafkah kok sulit memperolehnya," kata Yanto seorang supir lori yang dijumpai Tribun di pelabuhan Sri Payung Batu Enam, Kijang Lama, Sabtu (4/6).

Beberapa temannya sesama sopir lori bahkan tak beroperasi mengangkut karena tak ada solar di tangki. Biasanya para supir berangkat kerja sekitari pukul 08.00 hingga sore hari. Satu hari hanya mampu mengangkut dua trip dari pelabuhan ke tujuan antar. Jarak jauh seperti Kijang mulai dihindari karena stok solar di tanki tak mencukupi menjangkau tempat tersebut. Padahal makin jauh bisa mendapatkan ongkos lebih besar dan efektif bongkar muatnya.

Yanto, Ismail dan beberapa supir tergabung dalam organisasi KOPANDA (Koperasi pelabuhan angkutan darat) beranggotakan sekiar 180 truck atau lori yang sebagian dimiliki sendiri dan yang lain adalah milik bosnya. Mereka rata rata berpenghasilan Rp 3  jutaan perbulan dengan memiliki dua anak. Sebagaimana Yanto yang punya anak baru lulus SMK dan duduk di bangku SD. Sebentar lagi harus mengeluarkan biaya besar karena anaknya minta kuliah. Sementara penghasilan malah menurun akibat sulit memperoleh solar.

"Belum lagi pungutan di beberapa titik juga harus dikasih. Razia di lampu merah entah apa yang dirazia, ada ada saja sehingga kami para supir harus merogoh kocek. Penghasilan kami hanya bertumpu pada trip, sehari dua trip. Bisa dihitung sendirilah," ujar Ismail menimpali ingin mengadu.  Kadang mereka pun dikomplain pemilik ruko karena pintu akses konsumen tertutup oleh lorinya yang antre. Padahal hal itu tak sengaja dilakukan, dan tak bisa maju atau mundur karena penuh kendaraan berbaris sepanjang jalan.

Pemandangan pelabuhan Sri Payung tampak sibuk aktivitas bongkar muat dari kapal ke beberapa truk yang sudah antre. Sri Payung merupakan pelabuhan bongkar muat terbesar di Tanjungpinang, dan satu lagi pelabuhan di Kijang. Akses jalan raya dari pelabuhan ke jalan DI Panjaitan sudah aspal bagus dan lebar, hanya berjarak sekitar 1,5 kilometer saja. (wid)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved