Pendidikan
Guru SD Favorit Barelang Mogok Ngajar
Buntut Pemecatan Bendahara dan Pemalsuan Tandatangan Komite
TRIBUNNEWSBATAM.COM,BATAM -Sedikitnya 11 orang guru SD Favorit Barelang menggelar aksi mogok mengajar, akibatnya ratusan siswa terlantar, Senin (20/2). Para guru ini menolak jika sudah menerima berbagai tunjungan dan kegiatan sekolah sesuai dengan usulan kepala sekolah, Elysabeth Funay.
Padahal lapaoran kegiatan seperti tunjangan dan lainnya tidak pernah
diterima sama sekali oleh para guru. Tidak itu saja aksi mogok mengajar
para guru ini juga terkait dengan masalah dana BOS 2011 yang memalsukan
tandatangan ketua Komite dan pemecatan bendahara TU sekaligus Bendahara
BOS, Chusnul Alaratmala yang dilakukan secara sepihak.
Debora Nababan salah satu orang tua siswa yang datang ke sekolah untuk
melihat anaknya, mengaku para guru ini melakukan aksi mogok belajar
karena tidak menerima apapun tunjangan dan kegiatan dari pihak sekolah.
Selain itu para guru ini juga menuntut status karena tidak jelas sebagai
tenaga honor atau kontrak.
Kasus ini semakin mencut setelah masa jabatan Agustien selaku Ketua
Komite berakhir, dan pemberhentian sepihak yang dilakukan pihak sekolah
terhadap Chusnul Alaratmala.
"Dulu saat saya menjabat ketua Komite sekolah tahun 2009-2010
tandatangan saya juga pernag dipalsukan untuk mencairkan dana BOS oleh
kepala sekolah,"ujarnya.
Sementara Chusnul Alaratmala mengaku pemberhentian dirinya dilakukan
oleh pihak sekolah maupun yayasan lantaran tidak mau menutupi pemalsuan
tanda tangan yang dilakukan Kepala sekolah dan juga karena
mempertanyakan sejumlah kejanggalan tentang penggunaan sisa Dana
BOS. "Sisa dana BOS sempat saya pertanyakan dan hasilnya banyak yang
tidak masuk akal dan mencurigakan,"ujarnya.
Kecurigaan itu salah satunya ada beberapa nama guru yang ditulis Kepala
sekolah mendapat beberapa tunjangan, tapi setelah ditanya langsung ke
guru yang bersangkutan dana tersebut sama sekali tidak pernah diterima
para guru, dan itu merupakan laporan fiktif.
"Saat Juni 2011 lalu sekolah libur, namun anehnya laporan fiktif yang dibuat kepala sekolah mengatakan beberapa guru mendapat tunjangan termasuk kepala sekolah itu sendiri. Padahal tidak satupun guru mendapatkan tunjanag dari sekolah,"terangnya sambil menunjukan laporan fiktid dari kepala sekolah.