Pendidikan
Kebutan di Sekolah, Orang Tua Malah Laporkan Guru ke Polisi
Tiga Murid Ditempeleng Guru, Ganggu Ujian Terganggu Knalpot Racing
Laporan Muhammad Sarih Wartawan Tribunnews Batam
BINTAN, TRIBUN - Terik matahari terasa menyengat kulit di wilayah perbukitan Tembeling, Sabtu (17/3). Enam orang ABG nampak serius ambil ancang-ancang dengan sepeda motor yang diberi knalpot racing. Mereka ingin mencoba aksi nge-track di jalanan sepi. Namun disaat bersamaan test jelang UN sedang dilakukan di ruang kelas gedung sekolah yang tak jauh dari jalan tersebut
Suasana di kelas, para siswa tengah konsentrasi penuh. Namun diluar enam orang pembalap juga ingin mencoba aksi nge-track. Mereka bukan pembalap asli, namun siswa kelas 1 SMP 3 Bintan yang saat itu kebetulan tidak menjalani aktifitas belajar.
Motor mulai digeber, knalpot sepeda motor merekapun mulai meraung. Sudah ditebak, susana sekolah yang saat itu hening terganggu oleh raungan suara knalpot dari luar sekolah. Suara berisik, konsentrasi siswa kelas III yang tengah test jadi buyar
Beberapa guru di sekolah langsung melempar pandangan ke luar. Mereka mencari tahu asal suara gaduh ini. Us dan Sy dua orang guru ini langsung menuju lokasi. Mereka kemudian berusaha menghentikan aktifitas murid-murid yang menggaggu proses ujian tersebut.
Keduanya meminta supaya aksi nge-track segera dihentikan. Namun teguran ini tak diindahkan. Hasilnya, tiga orang murid Ar, Ds dan Ak ini lalu dikejar dan 'dihadiahi' tempelengan dari Us, yang merupakan guru agama di sekolah ini
Tapi, penamparan yang dilakukan Us ini sampai ke telinga Karim, salah seorang wali murid. Hal ini membuatnya tak terima dengan perlakuan yang didapatkan anaknya. Sekitar pukul 18.30, ia kemudian mengadukan masalah ini ke kantor Mapolsek Teluk Bintan. Karim juga membawa 2 teman anaknnya yang ikut terkena tamparan.
Kapolsek Teluk Bintan, AKP Wisnu Edhi Sadono menyayangkan hal ini. Pihaknya kemudian memanggil pihak-pihak terkait, yakni guru yang melakukan penamparan beserta wali murid ini.
Untungnya kejadian tersebut tak berlanjut ke proses hukum lebih jauh. Kedua pihak pilih damai dengan menandatangani surat pernyataan. Sang guru menyatakan akan lebih bersikap hati-hati dan tidak akan mengulangi hal serupa.
Wali murid yang membuat pengaduan pun berharap jika terjadi permasalahan terhadap murid di sekolah sedianya diselesaikan secara kekeluargaan, tidak dengan cara kekerasan.
"Gurunya menyesal. Tapi katanya perbuatan itu spontan karena muridnya dilarang tapi tak mau. Sebetulnya murid yang ngetrek sepeda motor itu 6 orang. Tapi yang kepergok cuma 3 orang. Tapi kita tetap berupaya melakukan upaya agar permasalahan ini tidak terulang lagi. Baik dari sisi guru, murid dan juga wali murid," jelas Wisnu, usai mediasi tersebut, kemarin di SMP 3. (san)