Selasa, 7 April 2026

Pendidikan

Arizal Pulang Sekolah, Saya Bantu Orang Tua Buat Laksa

Arizal Pulang Sekolah, Saya Bantu Orang Tua Buat Laksa

Laporan Tribunews Batam, Ahmad Yani.

TRIBUNEWSBATAM, TANJUNGBATU- Kehidupan yang semakin keras, dengan tingginya kebutuhan ekonomia saat ini,  menuntut anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah saat ini menjadi salah satu tulang pungung dan harapan bagi orangtua.

Arizal, anak Sungai Buluh, Desa Batu Limau, Kecamatan Kundur ini salah satu pelajar yang masih duduk dibangku sekolah termasuk anak pekerja keras. Sejak ayahnya meninggal dunia, ia pun menjadi salah satu harapan bagi ibunya.

Siswa SMAN 5 Kundur ini adalah anak kedua dari empat bersaudara. Demi membantu ibunya, setelah pulang dari sekolah, Arizal pun kadang bekerja membantu ibunya membuat laksa atau dikenal dengan laksa sagu.

Kadang, ia pun membantu mengantar air galon milik tetangganya setelah pulang sekolah. Semua itu, ia lakukan untuk meringankan dan membantu ibunya yang telah ditinggalkan orangtuanya beberapa tahun silam.
Setelah pulang dari sekolah, ia juga mengambil upah membersihkan kendaraan bermotor di tempat pencucian motor yang tidak jauh dari rumahnya. Ia melakukan pekerjaan ini, juga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari yakni membayar uang sekolah dan untuk uang jajan sehari-hari.

Mantan siswa Madrasah Tsanawiyah Tanjungbatu Kecamatan Kundur ini tidak sungkan melakukan pekerjaan itu. Bagi Arizal pekerjaan apapun yang ia tekuni, yang terpenting halal dan barokah bagi ia dan keluarganya.

Bagi Arizal, ia bekerja saat pulang sekolah sudah menjadi santapan ia sehari-hari. Bahkan, ia bisa mendapatkan sesuatu yang tumbuh dalam  dirinya. Yang tidak dapat dimiliki di bangku sekolah. Selain bisa menumbuhkan nilai-nilai kemandirianya. Sekolah sambil mencari nafkah ternyata bisa menumbuhkan kedewasaan dan kematangan seseorang.

Tidak banyak siswa yang bersekolah sambil bekerja yang bisa dijumpai saat ini. Prilaku ini layaknya patut dicontoh anak-anak sekolah saat ini. Ditengah kehidupan yang hendonis menggerogoti pelajar yang masih duduk dibangku sekolah seperi SMA. 

Namun, tidak terjadi pada Arizal. Baginya kehidupan hendonis, hura-hura adalah sikap yang akan harus ia jauhi. Karena selain melanggar nilai-nilai kemanusia, kehidupan hendonis juga bukan budaya dilingkungan tempat tinggalnya.

"Saya sejak kecil, memang didik orangtua untuk mandiri,"aku Arizal saat dijumpai tribun.

Arizal yang sehari-hari kerab dipangil Ari ini mengatakan, setelah pulang dari sekolah, ia pun membantu orangtunya membuat laksa untuk dijual ke pasar. "Kadang saya ngambil upah bang ngantar air galon dan cuci motor,"kata Ari.

Walaupun Ari hidup pas-pasan, namun ia memiliki tekad agar bisa tamat dari bangku SMA. Bahkan, ia bercita-cita, ingin menjadi sarjana suatu saat nanti. Tetapi, mungkinkah Ari bisa menjadi sarjana. Bagi Ari memang butuh kerja keras dan ketekunan untuk mencapai cita-cita itu.

"Siapa yang tak ingin menjadi sarjana bang. Saya pun ingin suatu saat bisa memakai toga dan kelak menjadi sarjana. Tapi, untuk kuliah membutuhkan biaya yang besar bang,"ungkap Ari anak kedua dari empat bersaudara ini.

Ari menambahkan, sejak ayahnya meninggalkan ia dan keluarganya, ibunyalah yang menjadi tulang pungung keluarganya untuk memenuhi kebutuhan hidup  sehari-hari.

"Pulang dari sekolah, jarang saya main-main, paling bantu orangtua. Kalau pekerjaan udah selesai, baru saya keluar bentar. Habis itu baru belajar buka-buka buku,"kata Ari. (aan)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved