Rabu, 10 Juni 2026

Kelangkaan BBM

Nelayan di Pulau Buru Karimun Sulit Dapatkan Solar

Nelayan di Pulau Buru Karimun Sulit Dapatkan Solar

Tayang:
Laporan Tribunnews Batam, Sarih

KARIMUN, TRIBUN – Setelah minyak tanah yang terancam laka di Kecamatan Buru, Rabu (16/5) kemarin, giliran nelayan kelimpungan. Mereka mengaku sudah tidak dapat lagi melaut karena tidak lagi mendapatkan solar sebagai bahan bakar kapal melaut.

            “Kami sudah tak bisa melaut lagi pak. Hampir dua pekan kami tidak bisa mendapatkan solar,” kata Mail selaku Ketua Kelompok Masyarakat Pengawas Nelayan Kecamatan Buru melalui sambungan telepon, Rabu (16/5) .
           
Saat ini, lapor Mail, puluhan nelayan di Kecamatan Buru terpaksa hanya bisa menyandarkan kapal-kapalnya di bibir pantai. Sementara sebagian nelayan yang masih bisa melaut karena masih tersedia bahan bakar dari pembelian sebelumnya.
.
            Saat ini, jelas Mail, nelayan tradisional di Kecamatan Buru masih bingung  mencari tempat penjualan solar. Pasalnya, di daerah itu belum terdapat agen solar bersubsidi yang disebutkan pemerintah bagi nelayan nelayan. Saat ini, tambahnya, sebagian nelayan membeli solar ke Moro.

“Tapi di Moro pun kemarin stoknya habis untuk nelayan setempat sana saja. Terbatas juga buat nelayan dari kecamatan lain,” terangnya.

            Tak hanya sulit mendapatkan solar,  Mail juga mengatakan untuk mendapatkannya, nelayan juga harus merogoh kocek dalam-dalam. “Kalau beli di Karimun harganya sampai Rp7.000 per liter. Padahal harga eceran tertinggi (HET) solar bersubsidi itu kan cuma Rp4.500 per liter ya?” imbuhnya.

Hampir 80 persen jumlah penduduk Kecamatan Moro merupakan  nelayan tradisional. Sehingga sebagian besar masyarakatnya masih mengandalkan mata pencaharian dari ikan. “Kalau tak melaut seperti ini, warga kami terancam kelaparan ini,” tegasnya.    

Satu-satunya harapan, Mail meminta perhatian pemerintah daerah atas kondisi yang sedang terjadi tersebut. “Kami meminta dengan sangat agar pemerintah dareah segera mengatasi persoalan langkanya solar ini. Ini juga menyangkut hajat hidup warga kami yang kebanyakan nelayan,” katanya.

            Sebenarnya, Mail dan warganya sudah  melaporkan perihal langkanya solar ini kepada instansi terkait. Hanya saja hingga kemarin belum ada solusi yang dapat mengatasi kondisi tersebut.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved