Budaya
Soerya Juga Terlibat Dalam Atraksi Bambu Gila
Soerya Juga Terlibat Dalam Atraksi Bambu Gila
Laporan Thomlimah Limahekin, Wartawan Tribunnewsbatam.com
TRIBUNNEWSBATAM.COM, TANJUNGPINANG_Tertarik akan pentas budaya yang disuguhkan Ikatan Masyarakat Maluku (Ikmal) dari Batam, Tanjungpinang, Bintan dan sekitarnya di lapangan Pamedan kota Tanjungpinang Sabtu (19/5) malam, mendorong wakil gubernur Kepri, HM Soerya Respationo untuk terlibat langsung dalam atraksi Bambu Gila.
"Asyik. Memang agak berat bambunya," aku Soerya mengomentari atraksi Bambu Gila dalam acara peringatan hari Pattimura ke-195 itu.
Bambu Gila merupakan satu dari sekian pentas budaya yang ditampilkan Ikmal Batam, Tanjungpinang, Bintan dan sekitarnya di lapangan Pameda malam itu. Dalam atraksi ini beberapa pria diharuskan menahan pergerakan sebilah bambu yang sebelumnya sudah dimantrai.
Dan, Soerya beserta beberapa pejabat lain seperti Frengky Renyaan (asisten pemerintahan provinsi Maluku_red), Lis Darmasyah (wakil ketua II DPRD Kepri_red), Sarafuddin Aluan (Ketua Komisi I DPRD Kepri_red) dan Rudy Chua (anggota Komisi II DPRD Kepri_red).
Pada acara peringatan hari Pattimura itu, digelar juga beberapa hiburan lainnya. Misalnya, tari Cakalele, Gaba-Gaba, Soya-Soya, Dala-Dala dan lantunan lagu Ambon yang dibawakan oleh penyanyi asal Maluku Yopi Latul dan Yoce Amos.
"Saya terkesan akan ungkapan yang disampaikan Pattimura saat hendak wafat yakni kita jangan sekali-kali menjual kehormatan kita, keluarga, bangsa dan negara. Itu sangat relevan dengan generasi muda kita sekarang ini, bahwa kehormatan berada di atas segala-galanya," tegas wakil gubernur Kepri usai menghadiri acara di lapangan Pamedan ini.
Acara peringatan hari Pattimura yang berpuncak di lapangan Pamedan ini diawali di Ocean Corner. Sewaktu menghadiri acara tersebut di Ocean Corner, asisten II pemerintah kota (Pemko) kota Tanjungpinang, Wan Samsi mengaku merasa seperti berada di kota Ambon.
"Rasanya saya seperti ada di kota Ambon. Dengan kehadiran api Pattimura mari kita bangun kebersamaan. Kita semua bersaudara. Karena itu, Pemko mendukung 100 persen kegiatan ini. Ale rasa beta rasa," aku Wan ketika berpidato di hadapan ratusan warga Maluku di Batam, Bintan, Tanjungpinang dan sekitarnya yang memadati Ocean Corner.
Pengakuan Wan tersebut cukup beralasan. Betapa tidak, hampir semua warga yang hadir di Ocean Corner saat itu menampilkan kekhasannya sebagai warga Maluku baik dari bahasa, pakaian adat yang dikenakan, tarian Cakalele yang disuguhkan dan semangat kepahlawanan Pattimura yang dibatinkan mereka.
"Mari kita tetap bersaudara, hidup dan bersikap baik di mana kita berada," ajak M.A.S Latuconsina, wakil walikota Ambon mengingatkan warga Maluku di perantauan, dalam pidatonya.Dia menjelaskan, obor Pattimura adalah sebuah ritus yang selalu dilakukan secara turun-temurun oleh warga Maluku.
Ritus tersebut sudah dirayakan warga Maluku di kota Ambon, 15 Mei 2012 lalu, pada hari peringatan hari Pattimura ke-195. Di Ambon, cerita Latuconsina, ritus ini mulai digelar di puncak gunung Eyen (pulau Saparua_red), lokasi dahulu Pattimura bersama pasukannya menyusun kekuatan perang, kemudian diarak menuju kota Ambon, tempat Pattimura wafat digantung.
"Obor itu diarak dari pulau Saparua ke kota Ambon. Kami maknai itu dengan mengarak api obor ini dari Batam ke Tanjungpinang," tegas Marthin Luther Maromon, ketua panitia pelaksana kegiatan kepada awak media.Menurut Marthin, acara ini bukan merupakan awal melainkan lanjutan dari perjuangan yang sudah dimulai oleh Pattimura. Dia berharap, dengan acara arakan api obor Pattimura tersebut, seluruh masyarakat Maluku di Kepri yang saat ini berjumlah 15 ribu itu, bisa meneladani semangat perjuangan Pattimura.