Pilwako Tanjungpinang

Rabu 31 Oktober Digelar Pilwako Tanjungpinang

Hari ini 31 Oktober warga Tanjungpinang memilih diantara empat pasangan calon Walikota untuk periode 2013-2018.

Laporan Tribunnews Batam, Alfian

TRIBUNNEWSBATAM.COM- Rabu hari ini, warga Kota Tanjungpinang akan menentukan siapa yang akan memimpin kota itu untuk lima tahun ke depan. Empat pasangan calon yang tampil dalam Pilwako sudah menunjukkan visi dan misi mereka di hadapan masyarakat, kendati hal itu belum tentu menentukan bahwa hal itu akan membawa perubahan.

Kenapa? Dalam politik, setiap calon sudah biasa berjanji dan sudah biasa mengingkari. Para pemilih pun sudah terbiasa untuk melupakannya. Sebagus apapun program, belum tentu calon pemimpin itu bisa menjalankannya. 
Tetapi, tentunya kita berharap para calon yang maju untuk memimpin ibokota Provinsi Kepri ini paham bahwa Tanjungpinang lima tahun lagi, adalah kota yang sangat dinamis dan akan berubah dengan cepat. Problem sosial dan ekonomi perkotaan yang sebelumnya belum muncul, akan mencuat dengan cepat bila tidak diantisipasi sejak dini.

Mari kita lihat data Badan Pusat Statistik dan Bank Indonesia yang menggambarkan bagaimana Tannungpinang saat ini. Kota Gurindam ini pertumbuhan ekonominya sangat tinggi. Tahun 2012 ini diperkirakan mencapai 7,08 persen. Lebih tinggi disbanding Batam yang diprediksi hanya 6,7 persen. Sedangkan Provinsi Kepri juga 6,94 persen dan nasional 6,4 persen. 

Pertumbuhan ekonomi di kota ini didukung oleh naiknya produk domestik regional bruto (PDRB) dengan sembilan indikator. Pada tahun 2011, PDRB Kota Tanjungpinang atas dasar harga berlaku Rp 5,76 miliar. Kontribusi terbesar ada di sektor perdagangan, hotel dan restoran.

Hanya saja, sumbangan PDRB Tanjungpinang terhadap Provinsi Kepri masih sangat kecil, hanya sekitar 7,5 persen. Masih jauh dibanding Batam yang mencapai 69 persen. Naiknya pertumbuhan kota berdampak pada naiknya pengeluaran per kapita warga Tanjungpinang yang saat ini mencapai Rp 1 juta lebih per tahun. Dari belanja itu, hampir separuh dihabiskan untuk makanan, sebesar Rp 466.878 atau 46 persen. 

Sisanya? Ini yang menarik. Warga Tanjungpinang menghabiskannya untuk belanja properti dan fasilitasnya serta kendaraan. Lihat saja pertumbuhan penjualan kendaraan bermotor yang sangat tinggi, terutama kendaraan roda empat. Tahun 2011, penjualan kendaraan roda empat naik 26,7 persen dibanding tahun sebelumnya. Sedangkan roda dua sekitar 10,9 persen. 

Di satu sisi, angka-angka tersebut menggembirakan karena memperlihatkan tumbuhnya kelas menengah. Namun di sisi lain, ini tantangan dalam melakukan penataan kota, bila kepala daerah terpilih tidak bisa menertibkannya. Sebagai kota yang sangat tua, Tanjungpinang infrastrukturnya sangat terbatas. Sebagian jalan di kota ini masih didominasi oleh jalan-jalan tua yang kecil dan sangat tidak nyaman. Karena itu, sektor transportasi ini perlu mendapat perhatian serius.

Sebagai pusat perdagangan, Tanjungpinang juga tidak hanya milik warga kota, tetapi juga "milik" masyarakat Bintan yang saat ini juga tumbuh sangat pesat. Lihat saja, pertumbuhan industri di Bintan menyumbang 54 persen dari total PDRB kabupaten itu, dan sisanya adalah sektor perdagangan dan pariwisata. 

Tentunya pertumbuhan yang tinggi itu akan berdampak pada pertumbuhan sektor konsumsi di Tanjungpinang, karena saat ini, daerah tinggal dan belanja masyarakat Bintan, masih di pusat kota. Pemimpin mana yang cocok untuk memimpin Tanjungpinang, tentunya masyarakat Tanjungpinang yang bisa memilih dan memilah. Indikator hanya pada tiga hal: manakah dari empat pasangan calon yang bisa memenuhi kebutuhan, keinginan dan harapan Anda. (*)
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved