Selasa, 26 Mei 2026

Idap Kelainan Jantung, Tubuh Gadis Ini Kian Kurus

Kesedihan dan rasa sakit terpancar jelas di wajah Wulan April Yanti Mole. Bocah berusia tujuh tahun ini harus menderita penyakit kelainan jantung.

Tayang:
Laporan Tribunnews Batam, Anne Maria

TRIBUNNEWSBATAM.COM, BATAM - Kesedihan dan rasa sakit terpancar jelas di wajah Wulan April Yanti Mole. Bocah berusia tujuh tahun itu harus menderita penyakit kelainan jantung di usianya yang tergolong masih kecil. 

Duduk di atas pangkuan ibunya, puteri pertama dari pasangan La Uceng dan Iramaya Sopa itu hanya terdiam dan sesekali memandangi wajah tamu-tamu asing yang bertandang ke rumahnya di Perumahan Purnayuda Blok D Nomor 7 Kelurahan Kabil, Kecamatan Nongsa, Batam, Kepri, Selasa (18/3/2013).

Tak banyak bicara, sesekali Wulan hanya bisa meringis kesakitan sambil merengek ke ibunya. Selama kurang lebih tujuh tahun, anak perempuan ini harus menderita dan hidup dengan bantuan obat-obatan akibat penyakitnya.

"Waktu lahir sehat, tidak ada masalah apa-apa. Selepas tujuh bulan tiba-tiba dia suka muntah-muntah dan sakit-sakitan. Sempat saya bawa ke kampung, tapi di kampung pun dia nggak sembuh juga," kata Iramaya, ibunda Wulan mulai bercerita.

Sesampainya di kampungnya di Lampung, kondisi Wulan justru semakin memburuk. Berat badan Wulan, katanya susut drastis, hingga anak itu berusia tiga tahun. Bukannya tanpa usaha, di Lampung pun Wulan kerap diperiksakan di pusat kesehatan setempat. Hingga selepas tiga tahun, Iramaya pun kembali membawa puteri tercintanya itu kembali ke Batam.

"Di kampung dokter puskesmas bilangnya cuma kurang gizi sama asma. Sesampai disini kami bawa lagi ke RSUD di Batuaji. Katanya paru-paru, dan cuma di kasih obat saja," terangnya lagi.

Selama bertahun-tahun mendapatkan jawaban yang sama atas kelainan kesehatan yang dialami puterinya, begitu kagetnya Iramaya dan suaminya La Uceng saat mengetahui ternyata anaknya mengalami penyakit jantung bocor tanggal 5 Maret lalu. Melalui pemeriksaan di Rumah Sakit Awal Bros, diketahui juga apa yang menjadi penyebab Wulan "berbeda" dengan anak-anak lainnya.

"Selama inikan katanya memang asma. Sebab, kalau dia kecapekan, atau makan makanan yang salah, malamnya langsung sakit. Suka batuk-batuk, flu, sampai nggak bisa ngomong kadang-kadang. Bahkan bisa kedinginan dan wajahnya membiru," terang Ira sambil membelai kepala Wulan yang tertutupi kerudung.

Di usianya yang sekarang, beberapa kejanggalan fisik pun terlihat di tubuh Wulan. Meski sudah mencapai usia tujuh tahun, berat badan Wulan hanya 15 kilogram. Dengan badan sekecil itu, bagian dada Wulan pun nampak bengkak. 

Tidak bisa bermain dengan anak-anak seusianya, sehari-hari anak berbaju pink itu hanya ditemani adiknya Siti Aisyah dan beberapa boneka barbie kesayangannya. Jangankan bermain, untuk makan pun, Wulan mengalami kesulitan. Karena tidak semua jenis makanan bisa di konsumsi bocah itu. 

"Wulan mau sekolah, mau jadi dokter anak," ujar Wulan saat ditanyai di kediamannya di Perumahan Purnayuda Blok D Nomor 7 Kelurahan Kabil, Kecamatan Nongsa, Batam, Kepri. 

Di tempat bersamaan, La Uceng, ayah dari Wulan hanya bisa berbesar hati menerima kondisi puterinya saat ini. Keadaan ekonomi yang serba pas-pasan ini, membuat pekerja salah satu subcon PT Semen Bosowa itu hanya bisa berpasrah diri.

"Dia (Wulan) nggak bisa sekolah karena kondisinya. Kamipun sudah usaha. Setahun ini kami bahkan sudah kasih obat yang dari RSAB. Di RSAB selain jantung bocor, katanya ada virus juga di paru-paru Wulan," papar La Uceng.

Padahal, obat-obatan yang terus diberikan kepada Wulan bukanlah obat untuk menyembuhkan. Melainkan hanya untuk mencegah kondisi Wulan semakin drop saja. 

"Kemarin katanya harus segera di operasi. Biayanya sekitar Rp 80 juta ke atas. Itu cuma operasinya saja, belum lagi obat-obatan yang harus kami tanggung. Kalau yang obat sekarang dari Jamsostek, cuma yang pertama saja kami bayar Rp1,2 juta," tambahnya.

Jangankan untuk operasi, dengan penghasilannya yang setara UMK, untuk kebutuhan sehari-hari saja ia merasa kesulitan. Seperti mengerti kesusahan kedua orangtuanya, kata La Uceng, Wulan begitu pengertian dan tidak suka rewel.

"Nggak rewel, paling dia main saja di rumah. Makannya sama minum obatnya juga mudah, cuma memang dia cuma bisa makan bubur saja," kata pria itu lagi.

Dengan kepolosan khas anak kecil, Wulan mengatakan sangat suka memakan buah-buahan. Apel menjadi salah satu buah favoritnya.

"Nggak suka nasi, bubur saja sama apel. Suka sakit sih di dada, kalau nangis mama kasih obat," ujar Wulan pelan saat berkomunikasi.

Hari itu menjadi hari spesial bagi Wulan. Selain mendapatkan banyak tamu, Wulan pun bertepatan diberangkatkan ke Rumah Sakit Otorita Batam (RSOB) untuk segera menjalani proses operasi. Menggunakan bantuan program Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda), keluarga Wulan dihantarkan langsung oleh salah satu anggota DPRD kota Batam, Aris Hardi Halim.

"Kami sangat sayangkan, di tengah-tengah masyarakat kami ada yang kurang mampu dan harus terkena penyakit mahal. Untungnya ada Jamkesda. Cuma memang sosialisasinya kurang, tidak banyak masyarakat yang tahu," ujar Aris saat menghantarkan keluarga Wulan.

Terakhirnya, penggunaan anggaran ini untuk masyarakat, kata Aris kurang maksimal. "Karena kami tahu aksesnya makanya kami bantu," kata Aris.

Politis PKS itu meminta agar Pemko bisa mengoptimalkan perangkatnya, seperti RT dan RW untuk mensosialisasikan Jamkesda ke tengah-tengah masyarakat di wilayahnya. 

"Apalagi RT/RW kan sudah dikasih insentifnya. Bisa ini menjadi bagian kerja mereka. Jangan sampai terjadi nanti di masyarakat kita karena ketidaktahuan, di tolak di Rumah Sakit," ujarnya. (*)
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved