Bos SCI Melarikan Diri

Keberadaan Direksi SCI Misterius

Sodikin, Ketua PUK FSPMI PT SCI mengatakan, sampai saat ini semua pekerja belum menerima sisa gaji dan pesangon dari perusahaan.

Laporan Tribunnews Batam, Muhamad Munirul Ikhwan

BATAM, TRIBUN - Sodikin, Ketua PUK FSPMI PT SCI mengatakan, sampai saat ini semua pekerja belum menerima sisa gaji dan pesangon dari perusahaan.

Menurutnya General Manager PT SCI yang dimintai pendapat juga merasa pusing dan tidak bisa memberi jawaban kepada karyawasn terkait nasib mereka.

Oleh karena itu sebagai wujud perjuangan karyawan SCI pada Senin (29/7/2013) Sodikin dan kawan-kawan akan melakukan aksi menunggu di Gedung DPRD Kota Batam guna mendapatkan kepastian nasib mereka.

"Kami akan bersantai menggelar tikar di Gedung DPRD Batam untuk mendapatkan kepastian tentang nasib kami," ujarnya kepada Tribun, Minggu (28/7/2013).

Lebih lanjut ia mengatakan samapai saat ini ia dan rekannya terus menjaga aset perusahaan yang ada. Penjagaan tersebut dilakukan bergilir masing-masing karyawan selama 24 jam. Hal ini duilakukan mereka untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Nasib karyawan PT SCI yang terlunta-lunta ini berawal dari kaburnya bos PT SCI ke Jepang beberapa pekan lalu. Bahkan menurut pengakuan manajemen perusahaan, mereka pun tidak mengetahui perihal kaburnya bos perusahaan tersebut.

Berbagai upaya telah dilakukan untuk menghubungi bos perusahaan melai dari email telefon sampai menyuratinya tak ada tanggapan.

Proses produksi PT SCI berhenti beroperasi sejak (27/6/2013), karena pasokan material sudah dihentikan dan orderan (PO) permintaan barang dari customer sudah tidak ada.

Kuat dugaan terjadi, karena barang produksi dihentikan atas permintaan manajemen. Di mana, sebelum terhenti beroperasi, tiga hari sebelumnya, manajeman asal Jepang sudah meninggalkan Batam.

Perusahaan asal Jepang yang beralamat di Komplek Tunas Industrial Estate Tape 1C Batam Centre, Batam, tersebut memroduksi barang elektronik sejak beberapa tahun lalu. Indikasi perusahaan tersebut akan tutup sudah dirasakan karyawan.

Mulai dari pengurangan jumlah karyawan yang semula ribuan menjadi ratusan sampai hal-hal lain yang bertujuan merampingkan perusahaan.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved