Bos SCI Melarikan Diri

Jangan Sebut THR, Sakit Kami Mendengarnya

Mengenakan daster berwarna ungu tua, sisa-sisa air mata masih terlihat di wajahnya.

Laporan Tribunnews Batam, Anne Maria Silitonga

BATAM, TRIBUN - Mengenakan daster berwarna ungu tua, sisa-sisa air mata masih terlihat di wajahnya. Dengan mata sembab, Gusnida, salah satu karyawan SC mengungkapkan kegundahan hatinya yang tak bisa memegang uang untuk menyambut lebaran tahun ini.

"Jangankan uang THR, kontrakan pun sudah nggak bisa terbayar lagi. Sakit hati kami. Mau kirim ke orangtua untuk berlebaran pun nggak bisa," katanya lirih, Kamis (1/8/2013).

Tinggal di sebuah kontrakan di daerah Tiban, Batam, kata Gusnida suaminya hanya seorang sopir carry. Sehingga tidak banyak membantu.

Bekerja hampir delapan tahun di PT SCI, wanita yang akan menyambut kelahiran anak pertamanya itu pupus harapan, karena sungguh tak menyangka akan menjadi seperti ini nasibnya.

"Dulu tidak pernah ada masalah. Kami pun bingung, semenjak dipegang GM sekarang semua berantakan. Semua gara-gara dialah itu, hancur semua. Padahal seminggu sebelum bos katanya lari, kami masih OT (Over Time). Dan kami lihat dia (investor) masih keliling ngecek pekerjaan," kesalnya.

Untuk makan sehari-hari, kata Gusnida mereka memang hanya mengharapkan belas kasihan dari perusahaan lain dan pemerintah. Belas kasihan itu, kata mereka bisa berupa uang maupun bahan makanan.

"Kemarin buka puasa kami dari pak Riki Syolihin-lah. Sahur kami dikirim dari teman-teman yang di PT. Mereka kan masak, mereka kirim kemari. Bahannya dari perusahaan lain. Syukurlah, kadang ada yang kasih uang, kadang ada yang kasih bahan makanan," tambahnya lagi.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved