Pemilik Hotel Pacific Batam Meninggal
Bapak Saya Suka Minum Kopi di Restoran Hotel Pacifik
Restoran Pacific Palace Hotel di Jalan Duyung, Jodoh, Batu Ampar, Batam, Kepri, menjadi tempat favorit almarhum Eddy Hendry.
Laporan Wartawan Tribun Batam, Rio H Batubara
BATAM, TRIBUN - Restoran Pacific Palace Hotel di Jalan Duyung, Jodoh, Batu Ampar, Batam, Kepri, menjadi tempat favorit almarhum Eddy Hendry.
Ia selalu duduk di meja yang sama, ditemani secangkir kopi hitam. Kebiasaan ini dilakukannya setiap hari. Bahkan, ketika menjamu tamu selalu di tempat yang sama.
Ini seperti yang diungkapkan anak sulungnya, Dedy Cahyono kepada Tribun, Jumat (22/2/2014). Ia mengatakan, kebiasaan tersebut dilakukan ayahnya selama hidupnya.
"Setiap hari, Bapak akan pergi ke Pacific Hotel untuk bersantai dan minum kopi. Bapak perginya tak tentu, sebangun tidurnya. Terkadang pagi atau siang. Biasanya kan kalo malam Bapak suka menjamu teman-temannya," ujarnya.
Dedy mengungkapkan kopi adalah minuman favoritnya ayahnya. Tiada hari tanpa kopi, setiap hari bisa beberapa kali, Eddy Hendry meminum kopi.
"Nah, kebiasaan ini selalu dilakukan di tempat yang sama, meja yang sama. Bahkan kalo bertemu dengan teman-temannya selalu di situ.
Ini sama saja seperti kita yang sering nongkrong di kedai kopi, kalo Bapak di restoran Pacific," ceritanya.
Untuk mengenang orangtuanya, Dedy pun mendatangkan kursi dan meja yang biasa diduduki ayahnya ke tempat persemayaman di Pacific Carwash.
Meja dan kursi tersebut ditempatkan di bagian kiri berdekatan dengan meja keluarga.
Meja tersebut terbuat dari batu pualam berwarna putih dengan kaki meja yang terbuat dari besi Dipadu dengan kursi berwarna hijau kualitas hotel.
Layaknya meja di restoran hotel, meja ini pun desain rapi dengan serbet yang ditata apik beserta dengan garpu dan sendok. Tidak ketinggalan dengan gelas yang terisi minuman.
"Untuk meja bagian kanan, sengaja kami tuangkan kopi berikut gula. Di situlah Bapak sering minum kopi. Kami khusus membuat kopi untuk Bapak di sini," ungkapnya.
Khusus untuk meja tersebut sengaja dibiarkan kosong untuk menghormati almarhum Eddy Hendry.
Tak banyak yang tahu, kehadiran meja dan kursi tersebut, begitu juga dengan para pelayat. Hanya keluarga besar saja yang mengetahui keberadaan meja tersebut.