Pemilik Hotel Pacific Batam Meninggal
Istri Eddy Hendry Terseduh-seduh Peluk Foto Suaminya
Ketika foto almarhum diturunkan dari altar, ia langsung memeluk foto tersebut. Ia menangis, terseduh-seduh sambil memanggil nama suaminya.
Laporan Wartawan Tribunnews Batam, Rio Bara
BATAM, TRIBUN - Soetidjah Koh, Istri almarhum Eddy Hendry, tak kuasa membendung kesedihannya.
Ketika foto almarhum diturunkan dari altar, ia langsung memeluk foto tersebut. Ia menangis, terseduh-seduh sambil memanggil nama suaminya.
Seorang kerabatnya datang untuk menenangkan ibu lima anak ini. Soetidjah pun pasrah dibimbing kembali ke tempat duduknya. Tepat pukul 11.00 WIB, jenazah diberangkatkan.
Dedy Cahyono anak sulung Eddy Hendry berada di bagian depan untuk memimpin, Ibu dan keempat adiknya.
Berpakaian putih hitam, dipadu dengan kain sarung yang disandingkan di bahu kanannya, ia melangkah maju menuju mobil jenazah yang berjarak 10 meter. Dedy juga membawa keranjang rotan berisi dupa dan uang kertas. Dibelakangnya berjalan David Candra, adiknya yang membawa foto almarhum Eddy Hendry beserta seorang kerabat lainnya.
Iring-iringan tersebut diikuti peti mati almarhum yang diangkat oleh delapan orang. Sontak, tangisan terdengar pada keluarga inti Eddy Candra. “papa ..papa,” ucap Soetidjah yang didampingi kerabatnya.
Setelah peti mati diletakkan di mobil jenazah, dengan berjalan kaki Dedy membimbing iring-iringan memutari Hotel Pacific sebelum di berangkatkan ke tempat pemakaman Sambau, Nongsa.
“Saya turut berduka cita kepada keluarga Eddy Hendry. Bapak Eddy Hendry adalah sosok yang tidak asing lagi bagi keluarga saya. Beliau adalah teman kecil ayah saya, jadi keluarga kami sudah dekat,”ujar Ketua INTI Kepri, Benny Suwandi yang memberikan penghormatan terakhir bersama 20 anggota INTI lainnya, Senin (24/2).
Ia mengatakan, kehilangan sosok yang tegas dan berjiwa sosial tinggi. “’ Beliau itu Pembina INTI dan selalu mau membantu orang. Apa yang dikatakan akan dilakukannya. Jadi kami kehilangan beliau,”paparnya.
Dalam waktu 30 menit iring iringan jenazah tiba di tempat pemakaman Sambau, Nongsa. Terlihat ratusan orang yang datang untuk memberikan penghormatan terakhir. Soetidjah Koh yang datang belakangan langsung menuju pemakaman untuk melihat peti jenazah suaminya.
“papa..papa..papa,”tangisnya melihat peti mati suaminya mulai dimasukkan ke liang kubur. Seruan panggilan juga dilontarkan kerabatnya yang memanggil orang tersayang yang sudah meninggalkan mereka.
Dedy Cahyono menunjukkan wajah yang tabah dengan mengikuti seluruh prosesi pemakaman ayahnya. Ia pun memimpin kerabatnya untuk memberikan penghormatan terakhirnya. Hal yang yang sama ditunjukkan David Candra, ia tampak tenang dan memegang erat foto almarhum.
“ Kami mengucapkan terimakasih kepada seluruh pelayat yang datang hari ini. Kami memohon maaf apabila ada kesalahan beliau di waktu lalu. Sekarang ayah kami, sudah beristirahat dengan tenang,”ujar dedy ketika proses pemakaman selesai. Ia dan adiknya pun pulang menaiki mobil jenazah ayahnya menuju ke kediamannya di Nagoya Permai.
Dari ratusan pelayat terlihat Ketua Apindo Kepri, Cahya yang datang bersama mantan Komandan Korem (Danrem) 033/ Wira Pratama, Brigadir Jendral (Brigjen) TNI Deni K Irawan. “Kami datang kesini untuk memberikan penghormatan terakhir kami untuk bapak Eddy Hendry. Beliau orang sangat berjiwa sosial,”kata Cahya.
Brigjen TNI Deni K Irawan pun menyempatkan diri dari Jakarta untuk datang langsung datang ke tempat pemakaman. “Dengan banyaknya pelayat yang memberikan penghormatan terakhir, ,itu menunjukkan bapak Eddy Hendry ini sosok yang di cintai. Ya beliau, sangat suka menolong orang lain. Hasilnya ia pun di sukai banyak orang,” ceritanya.
Eddy Hendry, pengusaha kakap asal Batam ini menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit Mount Elizabeth, Singapura, Selasa (18/2) pada pukul 11.22 waktu setempat.
Pria kelahiran Urung Tanjung Batu 14 Februari 1949 lalu merupakan pengusaha yang ulet. Ia berhasil membangun hotel berbentuk kapal pertama kali di Batam, bahkan Indonesia. sejak 1,5 tahun lalu, Almarhum berjuang melawan penyakitnya, namun hal tersebut tak menyurutkan semangatnya. Semangat juang tetap tinggi demi anak-anak dan istri. Beliau meninggalkan lima anak dan satu istri.