Selasa, 7 April 2026

Drywall Jawab Karut marut Pemukiman

Hidupkan Semangat Warga untuk Relokasi dan Atasi Masalah Ruli

Kehadiran drywall, karya inovasi dari Ir Sulistyana MT, tak sekadar berkaitan dengan ekonomi.

Laporan Tribunnews Batam,  Purwoko

TRIBUNNEWS.COM, BATAM -  Kehadiran drywall, karya inovasi dari Ir Sulistyana MT, tak sekadar berkaitan dengan ekonomi. Aplikasi teknik baru itu juga diharapkan bisa mengurai persoalan sosial di Batam, terutama pemukiman masyarakat kalangan bawah, termasuk fenomena ruli.

Kesuksesan pembuatan rumah dalam waktu singkat, biaya murah dan hasil memuaskan, memantik rasa penasaran warga di Tiban, Batam. Bahkan berdirinya rumah contoh aplikasi drywall milik Mbah Petir di Perumahan Tiban Madani, Sekupang, dalam beberapa hari ini banyak didatangi orang yang ingin membuktikan langsung.

Mbah Petir juga mengaku saat belum selesai pengerjaan rumahnya, beberapa tetangga sudah ngantre untuk dikerjakan dengan sistem serupa. "Setelah ini, Yono, Nurkan, Wagiman, Karyo, dan ada lagi warga sini minta dibuatkan seperti ini. Katanya kepingin, cepet dan tak repot-repot," ujar Mbah Petir.

Sarwo, salah satu warga selama ini banyak kenal dengan pemborong dan developer di Batam, mengakui saat banyak orang penasaran dengan drywall tersebut. Ia sendiri telah mengajak setidaknya 4 developer dan pemborong datang ke rumah contoh di Tiban Madani.

"Umumnya sebelumnya tak percaya, saya ajak untuk membuktikan langsung. Akhirnya langsung ngobrol dengan tukangnya, Pak Sulistyana atau pimpro (Roni) di sini. Ya tentu kepingin bisa kerja sama," kata Sarwo.

Bagi Sarwo, inovasi drywall ini dengan gampang dipahami oleh masyarakat dengan cara cukup membandingkan cara konvensional membuat rumah. Jika biasanya dengan batako perlu waktu pengeringan untuk melanjutkan pekerjaan, dengan drywall cukup sekali cetak. Bahkan drywall juga langsung halus, siap finishing.

"Dinding sudah langsung halus tak harus pakai melapis semen dari awal. Soal siku-siku bangunan, itu sudah otomatis. Berapa lama mengerjakan masalah itu. Bah, memasang pondasi (yang sudah dicetak-red) cukup tiga jam," ucapnya santai saat diminta komentarnya.

Ketertarikan juga telah disampaikan Kol Hari Suyanto dari Litbang Mako TNI AL Jakarta. Ia telah melakukan pembicaraan dengan Sulistyana guna merealisasikan perumahan prajurit di kesatuannya. Hal serupa disampaikan Ketua Real Estate Indonesia (REI) Palembang, Syaiful, yang berencana mengaplikasikan sistem ini untuk proyek di Sumatera Selatan.

Menurut penemu sistem drywall, Sulistyana, memang banyak kelebihan dari teknik cetak kering ini. Karena manajemen yang simpel itulah aplikasi drywall juga tidak terbatas pada rumah sederhana. Drywall mudah diaplikasikan untuk dinding rumah bertingkat, dinding hotel, bahkan tembok pembatas. Sebab semua tinggal mengatur molding atau cetakannya.

Namun demikian, karena drywall ia kaji berawal dari rasa keprihatinan persoalan perumahan warga kalangan bawah, ia pun lebih memfokuskan diri untuk mengenalkannya alternatif ini untuk pembuatan rumah sederhana, termasuk dalam program Kapling Siap Bangun (KSB) di Batam yang selama ini masih terganjal berbagai persoalan.

Jadi Solusi Persoalan Ruli


Masalah KSB di wilayah Batam yang cukup kompleks diakui oleh Direktur Direktorat Pemukiman dan Lingkungan (Dir Kimling) BP Batam, Tato Wahyu. Menurutnya, relokasi warga penghuni lahan ilegal (ruli) untuk menempati KSB yang telah dialokasikan, tak bisa mulus karena banyak kendala. Salah satunya kemampuan pemegang hak KSB.

"Umumnya alokasi lahan sudah ada, tapi warga tak mampu membangun rumah karena biaya. Jika ada solusi dengan rumah murah, hal itu jelas sebuah prospek yang sangat bagus," kata Tato Wahyu kepda Tribun, Jumat malam.

Tato mengaku mengapresiasi dan mendukung penuh kehadiran drywall, khususnya bagi kalangan biasa. Menurutnya dengan rumah yang terjangkau, rasa memiliki dan perhatian untuk memanfaatkan KSB kian meningkat, sebab selama ini diakuinya banyak yang terbengkalai.

" Dengan melihat biaya membuat rumah lebih terjangkau, maka rasa memiliki itu meningkat. Mereka semangat untuk mengurus persyaratan hingga membayar WTO-nya," kata Tato.

Ia pun berharap ini menjadi solusi masalah pemukiman. Kalaupun harus dilakukan pendampingan, ia pun optimis banyak pihak yang bisa memfasilitasi karena nominal jauh lebih rendah dari pembiayaan rumah (KPR) selama ini.

Diakui Tato, fenomena ruli menjadi persoalan krusial di Batam. Cost sebuah proyek pun bertambah tinggi dengan keberadaan ruli-ruli. Di sisi lain, alokasi KSB juga kurang efektif karena terkait banyak faktor.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved