Rabu, 8 April 2026

Eksekusi Terpidana Mati

Yang Tersisa, Duka Seorang Ayah Setelah Anaknya Dieksekusi Mati

Sesudah liang lahat ditutup, Andi masih berdiri mematung sampai orang-orang di sekitarnya saru-persatu meninggalkan pemakaman.

TRIBUNNEWSBATAM.COM, CIANJUR— Takbir dan Ikamat menggema di tengah pemakaman Rani Andrianidi pemakaman keluarga di RT 1/8 Kampung Ciranjang, Desa Ciranjang, Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, Minggu (18/1).

Di tengah-tengah hujan gerimis, tepat pukul 11.30, almarhum Rani Andriani dikebumikan. Suara tangis dari keluarga, kerabat dan warga terdengar sampai jarak belasan meter. Sesuai wasiatnya, Rani Andriani, dimakamkan di samping makam Ibundanya.

Selain keluarga, ratusan warga memadati pemakaman Rani untuk menyaksikan prosesi pemakaman. Warga menyaksikan prosesi pemakaman di luar area pemakaman sedangkan keluarga berada di dalam area pemakaman.

Sang ayah, Andi Sukandi (60) berusaha tegar ketika jenazah mulai diturunkan ke liang lahat. Andi yang mengenakan jaket berwarna biru dongker berdiri di ujung makam. Rambut lelaki ini sudah putih sementara mukanya banyak tahi lalat. Meski mencoba tegar matanya terlihat sembab.

Sesudah liang lahat ditutup, Andi masih berdiri mematung sampai orang-orang di sekitarnya saru-persatu meninggalkan pemakaman. Air matanya meleleh. Andi menangis di depan gundukan tanah yang masih merah. Beberapa kerabat mendekati Andi, menenangkan dan meminta Andi tabah. Andi pun tersenyum sambil menundukkan kepala.

Saat pemakaman, langit di Kampung Ciranjang, Desa Ciranjang, Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur mendung. Dan tak satupun keluarga sanggup menahan tangis. Paman Rani, Obar Sobari (48), bercucur air mata. Padahal dulu, saat ayah dan ibunya atau kakek nenek Rani meninggal, Obar sanggup tak menangis. "Saya tak tahan untuk menangis. Dia tetap keponakan saya. Dulu waktu ayah ibu saya meninggal saya bisa menahan tangis. Masalahnya cara Rani meninggal yang buat saya sedih," kata Obar.

Menurut Obay, Rani lebih pintar dibanding kedua adiknya Nelly dan Popy. Setelah lulus di SMA Negeri Cianjur, Rani melanjutkan sekolah ke Bandung. "Begitu lulus sempat sekolah lagi ke Bandung," ujar Obay.

Pernah suatu hari, menurut Obay, keponakannya tersebut menunjukan sertifikat komputer. hal itulah yang membuat anak ke tujuh dari delapan bersaudara tersebut bangga mempunyai keponakan seperti Rani.

"Bangga, itulah yang membuat saya menyesal, mengapa orang sepintar Rani, yang pintar berbahasa asing dan komputer, takdirnya harus mati ditembak," katanya.

Menurutnya keahlian yang dimiliki Rani tersebut dimanfaatkan oleh Ola untuk hal negatif. Kemampuan berkomunikasi Rani dimanfaatkan Ola untuk berbisnis narkoba dengan orang asing. "Keahlian tersebut dimanfaatkan Ola. Harusnya Ola yang dihukum mati, bukan sebaliknya," ujar Obay.

Dalam kasus yang sama, Ola atau Meirika Franola bersama Deni Setia Marhawan juga telah divonis mati oleh pengadilan. Hanya saja Ola dan Deni mendapatkan grasi dari presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2012 lalu. (ote/tribun)

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved