Alamak! Gang Dolly ada di Natuna

Sebuah lokasi hiburan kelas bawah di bilangan Jalan Dt. KWM Benteng memang cukup terkenal sejak lama. Lokasi itu adalah pelantar kawasan bar karpet.

Laporan Tribunnews Batam, Muhammad Ikhsan

TRIBUNNEWSBATAM.COM, NATUNA - Sejak Ranai berkembang dan disinggahi banyak pendatang, hingga kini, prostitusi terselubung memang tetap menjadi warna bagi kehidupan malam. Belum ada upaya pemerintah menekan ataupun melokalisir dengan baik.

Sebuah lokasi hiburan kelas bawah di bilangan Jalan Dt. KWM Benteng memang cukup terkenal sejak lama. Lokasi tersebut adalah pelantar kawasan bar karpet di dekat area Batu Kapal.

Sejenak saat memasuki tempat ini kita seakan memasuki pemukiman nelayan atau pemukiman warga pesisir. Namun jangan salah, lokasi itu merupakan bar, tempat minum dan karaoke.

"Banyak para wanita yang didatangkan dari luar daerah ke tempat ini. Mereka kemudian bekerja melayani tamu, untuk sekedar minum atau permintaan 'short time' bisa juga," ujar Lala, nama samaran pekerja malam di area itu.

Bau-bau beraneka rasa bisa terdeteksi indera penciuman kita saat jalan di pelantar tradisional yang terdiri dari rumah-rumah dan lorong-lorong gelap di kawasan ini, saat malam. Mulai dari bau parfum yang beraneka ragam, bau balsem, bau minuman alkohol, bau keringat, hingga bau laut dari bawah pelantar ini. Saat siang, praktis area ini sepi.

Namun jika matahari mulai terbenam, area ini akan berubah menjadi ramai, biasanya yang mampir para kalangan menengah ke bawah, walaupun ada secuil kalangan menengah ke atas juga yang kadang menjadi tamu di tempat ini.

Walau lokasinya sederhana, namun tempat ini sangat favorit bagi para pria-pria yang ingin mendapatkan kesenangan sejenak. Banyak wanita-wanita berpakaian seksi di dalamnya, mengumbar dada dan paha, dengan mike-up yang sedikit menor. Ops, namun memang wanita pekerja malam di sini sudah sedikit berumur.

Biasanya tempat ini didatangi oleh petugas Dinas Kesehatan untuk membagi-bagikan kondom ataupun penyuluhan terkait bahaya HIV/AIDS. Namun kadang juga menjadi lokasi target razia formal yang dilakukan aparat. Rata-rata tiap razia, pasti informasi selalu bocor ke area ini.

Fian, salah seorang aktivis peduli HIV/AIDS dari STAI Natuna mengaku cukup miris melihat lokasi tersebut berada di tengah-tengah area kota. Bahkan tidak jauh dari Mesjid Agung Natuna.

"Kadang kami menggelar kegiatan sosialisasi tentang bahaya HIV/AIDS dan juga membagikan alat pengaman sebagai salah satu upaya menekan penyebaran. Rata-rata para cewek di sana senang diberi kondom gratis. Cuma mereka ngakunya, banyak yang minta nggak pake kondom," ujar Fian.

Kamar-kamar petak berukuran 3 X 3 meter banyak berada di area karaoke-karaoke ini. Salah seorang pemilik karaoke pelantar kayu ini mengatakan itu tempat kos. Hanya saja area itu biasanya tempat tinggal para wanita pekerja malam yang bekerja di sana.

Tiap razia kadang kamar-kamar ini turut diperiksa. Bau parfum aneh pun menyeruak dari dalam kamar. Nampak, sebuah kasur spring bed terletak di lantai. Ada lemari plastik dan sebuah ember berisi celana dalam kotor yang akan dicuci di belakang pintu kamar berdinding kayu itu.

Di dalam lemari plastik itu ternyata ada sebuah laptop kecil. Saat razia yang dilakukan Sabtu malam (7/2), polisi menanyakan barang elektronik itu kepada wanita bernama Silvia (nama samaran).

"Itu laptop tamu bang. Kebetulan duit dia habis karaoke malam itu, dan nggak ada lagi sisa bayar minuman, jadi laptopnya saya pegang," ujar Silvia.

Aneh memang, selama ini tempat prostitusi yang ada di depan mata seakan dibiarkan oleh pemerintah daerah. Peranan Satpol PP pun selama ini tidak berjalan semestinya sebagai penegak Perda. Mirisnya lokasi ini hanya berjarak beberapa ratus meter dari Kantor Satpol PP yang ada di pintu keuar Mesjid Agung Natuna.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved