Potensi Besar Laut Natuna Tak Tergarap Maksimal, Ilyas Akui Akibat Solar
Saat ini Natuna masih kekurangan kuota BBM jenis solar, terutama solar subsidi untuk nelayan.
Laporan Tribunnews Batam, Muhammad Ikhsan
TRIBUNNEWSBATAM.COM, NATUNA -NATUNA - Kendati punya potensi perikanan yang luar biasa, banyak faktor yang membuat sektor ini sulit berkembang di Kabupaten Natuna.
Bupati Natuna, Ilyas Sabli mengatakan jika nelayan Natuna mayoritas adalah nelayan tradisional, yang sejak nenek moyang melaut menggunakan kolek dayung atau pompong dibawah 3 ton, dengan alat pancing, atau bubu. Mereka adalah nelayan individu, bukan nelayan pengusaha, bahkan sekelas UKM pun belum ada.
Pemeritah Natuna dikatakannya bukan tidak ingin membuat nelayan tradisional Natuna meningkat menjadi pengusaha nelayan yang punya armada kapal seperti daerah lain.
"Saat ini Natuna masih kekurangan kuota BBM jenis solar, terutama solar subsidi untuk nelayan, sejak Natuna terbentuk menjadi kabupaten 15 tahun lalu sampai sekarang tidak pernah dapat tambahan kuota BBM," kata Ilyas belum lama ini.
Pemerintah Natuna diakuinya sudah mengajukan permintaan ke pemerintah terdahulu melalui PT Pertamina dan BPH Migas, tetapi belum ada respon.
"Untuk mengajukan sekelas ijin APMS atau SPDN saja hingga kini tak terwujud, seorang pengusaha mengurus ijin APMS yang sudah direkomendasi bupati, dan minta tambahan kuota sejak 2008 hingga hari ini tak tembus, alasannya klasik, kuota BMM Natuna tak mencukupi," ujar Ilyas.
Nelayan pun sulit berkembang karena bahan bakarnya terbatas, dengan pompong 3 ton saja rata-rata nelayan membutuhkan minimal 50 Liter untuk melaut 5 hari, tetapi sekarang untuk dapat 10 liter sangat sulit, karena kuotanya tentu saja tidak mencukupi.
"Jangan bayangkan nelayan Natuna bisa pakai armada kapal diatas 3 ton atau hingga 30 ton, mereka dijamin tidak akan mendapat BBM, Jika mereka harus menggunakan BBM industri tentu tidak akan balik modal," ujarnya.
Selain BBM, faktor lainnya juga belum sepenuhnya mendukung, listrik salah satu hal vital yang hingga saat ini belum sepenuhnya menyala 24 jam, terutama di kepulauan. Nelayan dikatakan Ilyas butuh es, butuh sarana pengolahan dan sarana pendukung lainya seprti coolstorage misalnya, tetapi jika listriknya pas-pasan tentu juga akan sulit terwujud.
"Tetapi kendala ini tentu tidak mengendurkan semangat pemerintah Natuna membangun sektor kelautaan, kita tetap membangun sebisa mungkin sambil menunggu saat yang tepat," ulasnya.
Ilyas mengatakan pihaknya mengajukan permintaan melalui Menteri ESDM agar diberikan jatah kuota gas untuk menyuplai pembangkit listrik di Natuna, karena ada investor yang bersedia membangunnya tetapi terkendala kuota gasnya, tentu saja jika memungkinkan gas ini juga bisa untuk mengerakkan armada nelayan seperti program Menteri KKP RI, Susi Pudjiastuti, agar nelayan tradisonal tak tergantung sepenuhnya dengan solar yang saat ini kuotanya tidak cukup.
"Kami mengajukan penambahan kuota BBM untuk Natuna, BBM ini untuk nelayan juga untuk pembangkit listrik disejumlah pulau yang berada di perbatasan," sebut Ilyas lagi.
Selain itu ditegaskan Ilyas, Natuna butuh bantuan pemerintah pusat untuk membangun dermaga atau pelabuhan bagi perahu nelayan di sejumlah pulau, agar bisa meningkatkan kesejahteraan dan memudahkan mobilisasi hasil tangkap nelayan.
Total ada 25 pelabuhan yang tengah direncanakan dibangun secara bertahap dan berkelanjutan. Ia menganalogikan, jika di Laut Natuna ada ribuan kapal Asing beroperasi mengambil ikan, kenapa pemerintah pusat tidak membangun armada tangkap untuk menyaingi kapal ikan asing ini. Pemerintah Natuna berharap pemerintah pusat memfasilitasi terbentuknya armada tangkap milik BUMN yang berpangkalan di Natuna.