Sabtu, 11 April 2026

Menelusuri Kejayaan Natuna Tempoe Doeloe

Ditemukan Kerangka Manusia Kuno Terkubur Bersama Keramik di Natuna

Natuna diduga kuat sebagai pusat transit mobilitas manusia di pertengahan era globalisasi kuno sekitar abad ke-12.

tribunnews batam/m ikhsan
Penggalian kerangka manusia kuno di Desa Sepempang, Kecamatan Bunguran Timur Laut, Natuna, oleh tim arkeologi nasional, Senin (25/5/2015). 

Laporan Tribunnews Batam, M Ikhsan

TRIBUNNEWSBATAM.COM, BATAM-‎ Para peneliti Pusat Arkeologi Nasional semakin penasaran dengan Natuna.

Wilayah kepulauan yang berada di Laut Cina Selatan ini diduga kuat sebagai pusat transit mobilitas manusia di pertengahan era globalisasi kuno sekitar abad ke-12.

Dari empat kali penelitian di Natuna dalam waktu berbeda, mereka kini berada dalam tahapan identifikasi terkait kebudayaan apa yang ada di Natuna saat itu.

Beberapa keramik - keramik kuno zaman dinasti song ditemukan di situs-situs yang terindikasi sebagai kuburan kuno di wilayah pesisir pantai.

Di jumpai di salah satu situs penggalian di pesisir Desa Sepempang, Kecamatan Bunguran Timur Laut, Senin (25/5/2015), Sony Wibisono, arkeolog yang tergabung dalam tim ini mengatakan pihaknya menemukan beberapa kerangka manusia kuno di Natuna yang terkubur bersama beberapa atribut benda-benda yang bernilai.

"Rata-rata mereka dikubur bersama keramik, keris, gelang dan sebagainya. Kalau dari posisi kepala yang menghadap barat daya, yang jelas mereka bukan beragama Islam," kata Sonny.

Ia mengaku belum bisa menyimpulkan kepercayaan yang dianut masyarakat Natuna pada era itu.

harta karun natuna

Foto: Penggalian kerangka manusia kuno di Desa Sepempang, Kecamatan Bunguran Timur Laut, Natuna, oleh tim arkeologi nasional, Senin (25/5/2015).

Arkelogi menurutnya akan menganalisa, terkait kapan dan dari mana serta cara hidup masyarakat kuno, hingga nantinya dicari tahu kenapa mereka bisa sampai ke Natuna.

Ia berkeyakinan jika Natuna pada abad ke -2 menjadi pusat transit dari peradaban awal globalisasi.

"Ya Natuna ini dulu ibarat Singapura yang mulai dipakai sebagai wilayah transit perdagangan itu sekitar abad 14, memang tidak ada apa-apa, namun banyak disinggahi orang dengan tujuan ke nusantara," ujar Sony.

Menurutnya yang perlu dicari tahu adalah bagaimana Natuna kemudian bisa ditinggalkan dan perkembangannya berhenti di situ saja.

Padahal sebagai gateway (gerbang masuk) ke wilayah nusantara baik oleh pelaut Cina atau Eropa, Natuna harusnya bisa terus berkembang seperti Singapura saat ini.

"Kami menemukan banyak barang-barang keramik dari Cina yang terkubur bersama kerangka kuno ini. Posisi kerangka selalu kita jumpai menghadap timur laut, mengarah kepala ke barat daya. Tidak ada yang mengarah ke utara atau selatan," jelasnya lagi.

Pihaknya pun dibantu masyarakat lokal dalam menemukan lokasi-lokasi untuk digali.

Dalam penggalian di Desa Sepempang, letak kerangka kuno ini ternyata tidak begitu dalam, hanya sekitar 60-50 centimeter dari permukaan tanah yang dipapari ilalang dan ditumbuhi pohon-pohon kelapa itu.

Namun dari pola tanah, dikatakannya terjadi pengikisan sehingga posisi kerangka kuno ini kelihatannya dangkal dari permukaan tanah saat ini.

Dijelaskannya, jika dari referensi penelitian sebelumnya, wilayah Selatan Cina dalam manuskrip Cina kuno disebut Nanhai, dan Natuna disebut sebagai Nan An, atau pulau tapal kuda, sama seperti bentuk pulau bunguran besar ini.

Sejarah terkait perkembangan Natuna seakan hilang ditelan waktu seiring dengan masuknya zaman kolonial. Catatan sejarah di manuskrip Cina kuno itu pun sangat minim tentang Pulau Nan An.

Menurut Sony, beberapa lokasi akan diteliti lagi seperti di Teluk Buton dan Kelarik.

Tim ini terdiri dari delapan orang dan ada empat arkeolog.

Wilayah Natuna juga diteliti oleh tim Kemendikbud lainnya terkait arkeologi zaman pra sejarah dan benda bawah laut.

Beberapa bangkai kapal kuno juga djumpai

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved