Stok Menipis, Harga Gula Naik Dua Kali Lipat
ok gula di Tanjunguban, Bintan mulai mengalami kekurangan. Akibatnya harga di pasar mulai melambung tinggi
Laporan Tribunnews Batam, Ahmad Yani
TRIBUNNEWSBATAM.COM, BINTAN - Stok gula di Tanjunguban, Bintan mulai mengalami kekurangan. Akibatnya harga di pasar mulai melambung tinggi.
Naiknya harga gula dipasaran karena adanya kebijakan pemerintah pusat terkait larangan impor.
Kondisi ini membuat warga mengeluh. Yanti (28), seorang ibu rumah tangga di Tanjunguban mengaku berat dengan harga gula dipasaran saat ini. Biasanya harga gula perkilogram hanya Rp 8 ribu hingga Rp 10 ribu, tapi saat ini sudah tembus Rp 15 ribu per kilogram.
"Harga gula sekarang sangat tinggi Pak, dua kali lipat naiknya. Ini berpengaruh kepada masyarakat kecil. Kan kasihan masyarakat bawah kena dampaknya langsung," keluh Yanti warga Tanjunguban.
Untuk itu, ibu rumah tangga tersebut berharap, agar antara pemerintah daerah dan pusat bisa mengambil langkah strategis untuk mengatasi permasalahan yang menyangkut masyarakat dengan ekonomi dibawah rata-rata.
"Ya semoga saja, masalah ini bisa diantisipasi sebelum berdampak besar ke depannya. Kita masyarakat kecil juga berharap, kalau bisa harga kebutuhan pokok itu tetap terlalu mahal lah," harapnya.
Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Bintan, mengaku kenaikan harga gula ini disebabakan adanya kebijakan baru pemerintah pusat, terkait laranngan impor gula.
Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Disperindag Bintan, Setia Kurniawan mengatakan, dengan adanya kebijakan larangan impor barang dari negara tetangga juga sebagai penyebab menipisnya kebutuhan gula di wilayah Bintan.
Apalagi, selama ini kebutuhan gula pasir masyarakat Bintan dan Tanjungpinang, selalu dipasok dari negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia.
"Memang laporan yang kita terima stoknya sudah tipis saat ini, harganya juga tinggi sekitar Rp 450 ribu per karungnya (50 Kg). Untuk itu, kita nunggu kebijakan dari pusat soal pengecualian larangan impor daerah perbatasan seperti apa," ungkap Setia, Selasa (22/9).
Jika dibandingkan harga normal biasanya, kenaikan harga gula saat ini sudah mencapai 30 persen atau sekitar Rp 110 ribu setiap karungnya untuk harga di tingkat distributor.
"Kalau normal (Harga-red) itu biasanya Rp 340 ribu saja," tambahnya lagi.
Pria yang akrab disapa Iwan itu juga menambahkan, jika wilayah perbatasan seperti Kepri tetap diterapkan untuk tidak melakukan impor barang seperti kebutuhan-kebutuhan pokok termasuk gula.
Maka bukan tidak mungkin harga gula di wilayah Bintan dan Tanjungpinang bakal diprediksi akan melambung tinggi dikisaran angka Rp 13 hingga Rp 15 ribu setiap Kg, jika dibandingkan harga gula impor yang saat ini masih berkisar Rp 8 hingga Rp 10 ribu.
"Kalau kita tetap memaksa harus memasok barang dari wilayah seperti Jawa, harganya pasti akan tinggi. Karena disana (Jawa-red) harganya sudah berkisar Rp 13 ribu setiap Kg. Dengan jarak pengiriman yang jauh dari pulau Jawa ketimbang dari negara tetangga, harganya bisa semakin tinggi," pungkasnya. (*)