Pengawasan Imigran Longgar, Teroris Incar Kota Batam?

Statusnya pencari suaka, kalau melihat kartu yang diberi UNHCR. Tapi kami juga masih mendalami, jangan-jangan mereka ini korban perdagangan manusia.

TRIBUN BATAM/ARGIANTO DA NUGROHO
Para imigran yang terlunta-lunta di Taman Inspirasi Batam Centre, Senin (19/10/2015) 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, BATAM - Imigran dari luar negeri membanjir di Kepri, khususnya Batam. Di balik sisi kemanusiaan, kedatangan warga asing secara ilegal itu juga menyimpan kerawanan terhadap munculnya aksi-aksi radikalisme, seperti halnya gerakan ISIS, yang mutlak perlu perhatian.

Hingga saat ini di Kepri masih terdapat sejumlah kantong imigran gelap ataupun imigran terdata yang belum menentu nasib masa depannya. Keberadaan Rumah Detensi Imigrasi (Redenim) milik Kantor Imigrasi seakan tak mampu berbuat banyak menampung gelombang imigran di Kepri.

Keberadaan para pendatang gelap itu bahkan tak terpantau secara khusus. Mereka berasal dari berbagai penjuru belahan dunia, seperti Suriah, Afghanistan, Sudan, Somalia, Irak, dan lain-lainnya.

Berdasarkan pantauan Tribun, ratusan imigran yang ada di Batam terpencar setidaknya di dua tempat, yakni di sekitar Kantor Imigrasi Batam, yakni sebuah taman tak jauh dari kantor DPRD Batam dan di Hotel Kolekta, Lubukbaja.

Meski demikian, keberadaannya cenderung tak terawasi sehingga mereka tetap bebas kemana-mana dengan segala aktivitasnya.

Duduk bersantai, jalan-jalan keliling hotel dan ngobrol di lobi hotel. Seperti inilah aktifitas keseharian yang dilakukan sebanyak 178 imigran yang berasal dari Suriah, Sudan, Somalia, Yaman, Irak, dan Afganistan,yang ditampung di Hotel Kelekta Batam.

Tak ada petugas Imigrasi atau kepolisian yang mengawasinya. Bagi warga, keberadaan mereka tak ada bedanya dengan wisatawan ataupun tamu hotel.

"Mereka hanya duduk-dudk santai, jalan-jalan keliling hotel, dan ngobrol," kata Henpriadi, karyawan senior di Hotel Kolekta, kepada Tribun Batam Rabu (18/11).

Dia menjelaskan, imigran yang ditampung di Hotel Kolekta tersebut ditanggung oleh International Organization for Migration (IOM). "Semua biaya penginapan dan makanan para imigran tersebut mereka tanggung," kata Henpriadi.

Sementara pihak hotel sendiri menurut Henpriadi, tidak ada urusan dengan para imigran tersebut. Pihak hotel hanyalah sebagai penyedia kamar untuk disewakan.

"Kalau dari pihak hotel, imigran ini adalah tamu kita, yang harus kita layani," kata Henpriadi.

Meski demikian, untuk keseharian para imigran, Henpriadi menjelaskan, tidak ada yang memiliki tingkah laku aneh-aneh selama ini.

"Mereka itu biasa saja, sama seperti warga lainnya. Bagi yang muslim mereka melaksanakan salat lima waktu, setelah selesai salat para imigran tersebut kembali ke hotel. Ada yang duduk-duduk santai, ada yang jalan-jalan, dan ngobrol di lobi hotel," lanjutnya.

Dia juga mengatakan, para imigran yang ada di hotel Kelekta, kesehariannya relatif tenang tanpa ada keributan.

"Tidak ada yang aneh-anehlah. Untuk di kamar hotel para imigran itu juga tidak ada yang melakukan aksi-aksi mencurigakan lainnya," jelasnya.

Sementara saat ditanya sampai kapan para imigran tersebut berada di hotel itu, Henpriadi mengatakan, tidak mengetahuinya.

"Mereka ini tamu kita yang di biayai oleh IOM, jadi kita tidak ada tahu menahu terhadap hal tersebut," kata Henpriadi.

Pantauan tribun di lapangan para imigran terlihat bersantai dan duduk di lobi hotel, ada juga yang jalan dan duduk-duduk de depan hotel. Keceriaan juga terlihat di wajah anak-anak mereka.

Ada yang berlari-lari di tangga dan ada juga yang bermain-main di depan hotel Kolekta. Mereka imigran yang rela lari dari negaranya demi mengadu nasib lebih aman, meskipun hal itu tetap rawan disusupi kepentingan lain.

Lain lagi nasib imigran gelap yang ada di Batam Centre. Sedikitnya 16 imigran terlunta-lunta di sebuah taman kosong tak jauh dari Kantor Imigrasi.

Tak jarang, karena merasa iba dengan penderitaan mereka, beberapa pihak sempat memberikan bantuan bagi mereka.

Bekal kartu UNHCR
Berbondong-bondongnya imigran ke Batam akhir-akhir ini cukup menyita perhatian. Bahkan diduga kedatangan mereka ada yang mengkoordinir atau masuk dalam sebuah jaringan layaknya jaringan perdagangan manusia (human trafficking).

Terkait masalah ini Kepala maupun pejabat di Imigrasi Batam belum bisa dimintai penjelasannya pada Rabu kemarin. Mereka menyatakan, pihak Kantor Wilayah Depkum HAM yang lebih berwenang memberikan penjelasan.

Namun demikian, pada sepekan lalu, pihak Imigrasi Batam bersama Walikota Batam Ahmad Dahlan sempat mendatangi tempat penampungan para imigran tersebut di Hotel Kolekta.

Saat itu belasan imigran yang terlunta-lunta di Batam Centre dievakuasi dijadikan satu ke Hotel Kolekta. Selepas itu, imigran gelap lainnya datang lagi ke Batam Centre.

Rafli Kabid Wasdakim Imigrasi Batam mengatakan, 178 imigran yang ada di hotel itu datang dari berbagai negara, seperti Sudan, Irak, Afghanistan, Suriah, Pakistan, Mesir, Somalia, Yaman.

Berbekal kartu identitas yang dikeluarkan oleh United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR), mereka meminta untuk bisa ditampung di hotel tersebut. Biaya ditanggung sepenuhnya oleh IOM.

Rafli menyatakan saat ini, pihak imigrasi masih mendalami status sebenarnya dari para imigran tersebut. Rafli berpendapat, ratusan imigran itu patut diduga adalah korban penyelundupan manusia.

"Statusnya pencari suaka, kalau melihat kartu yang diberi UNHCR. Tapi kami juga masih mendalami, jangan-jangan mereka ini korban perdagangan manusia. Faktanya, mereka sampai ke sini pun membayar dengan uang hingga 10 ribu dolar. Mereka masuk lewat pelabuhan tikus. Jadi ada indikasi seperti itu," kata Rafli.

Selain hal itu, indikasi lainnya semakin banyak imigran yang sengaja diletakkan di Batam akhir-akhir ini. Setiap kali pihaknya menjemput imigran yang terlihat di jalanan, satu jam kemudian akan muncul lagi imigran lainnya.

Menurut Rafli, kedatangan para imigran gelap harus diminimalisir. Selain menambah pekerjaan pemerintah, kedatangan mereka pun bisa menimbulkan masalah baru bagi lingkungan masyarakat setempat dimana mereka tinggal.

"Kita tahu, kasus sama juga terjadi di daerah lain. Seperti di Medan, itu sampai pembunuhan. Lalu di Puncak (Jawa-Barat) mereka diusir warga karena membuat keributan," kata Rafli.

Ditegaskan bahwa para imigran tersebut tidak memiliki kekebalan hukum selama tinggal di Indonesia. Jika kedapatan melakukan kejahatan umum, maka tetap akan ditindak.(Tribun Batam Cetak)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved