Breaking News:

Agung Mulya Nilai Bulog Salah Paham Soal Instruksi Mendag RI Terkait Beras

Pertemuan tersebut direncanakan untuk membahas permasalah beras di Kepri

Tribun Batam/Argianto
Stok beras di gudang bulog Batam 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, TANJUNGPINANG - Penjabat Gubernur Kepri Agung Mulyana akhirnya memutuskan untuk bertemu dengan Direktur Utama (Dirut) Bulog Jumat (4/12/2015) ini.

Pertemuan tersebut direncanakan untuk membahas permasalah beras di Kepri.

"Saya harus bertemu langsung Dirut Bulog untuk membahas masalah beras di Kepri. Saya berencana akan bertemu dengan Pak Dirut Bulog itu Jumat (4/12/2015)," ungkap Agung kepada awak media, Kamis (3/12/2015).

Keputusan untuk bertemu Dirut Bulog ditempuh setelah Agung memanggil Kepala Bulog Tanjungpinang dan menanyakan tentang pasokan beras yang akan disalurkan kepada masyarakat.

Berdasarkan penjelasan Kepala Bulog Tanjungpinang, Agung akhirnya mengetahui bahwa instruksi Menteri Perdagangan Republik Indonesia (Mendag RI) Thomas Lembong yang menunjukkan Bulog sebagai importir tunggal belum dipahami oleh Bulog sendiri.

"Ini terjadi kesalahpahamanan. Ternyata instruksi Mendag RI itu belum dijalankan Bulog. Saya mengerti bahwa Kepala Bulog Tanjungpinang tidak tahu apa-apa. Karena itu saya ingin berbicara dengan Dirut Bulog-nya. Sayalah yang mau bertemu dengannya," ungkap Agung.

Sebelumnya, dalam sebuah pertemuan dengan Penjabat Gubernur Kepri, Kepala Bulog Tanjungpinang memaparkan persediaan beras untuk orang miskin (Raskin) yang tersedia di gudang Bulog wilayah Tanjungpinang dan Batam.

Pasokan Raskin itu berjumlah 3000 ton dan siap disalurkan kepada masyarakat.

"Sebenarnya bukan beras Raskin itu yang dimaksudkan, melainkan beras premiun yang diajukan ke Mendag RI.

Untuk apa Raskin dibagikan kepada golongan yang mampu seperti saya. Saya bukan mau sombong. Tetapi saya memang tidak mau makan beras itu. Karena berasnya khusus disiapkan untuk orang miskin," kata Agung.

"Yang saya maksudkan adalah Bulog segera menindaklanjuti petunjuk Mendag RI dengan mengimpor beras sesuai dengan kuota yang diminta. Bulog bisa saja mencari importir lain. Tetapi mereka harus tetap berada di bawah pengontrolan Bulog," kata Agung. (*)

Penulis: Thom Limahekin
Editor: Mairi Nandarson
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved