KALEIDOSKOP KEPRI 2015
Ini Dia Pasukan 'Simpanan' Polda Kepri. Mampu Lacak Bom hingga Narkotika
Kinain merupakan tulang punggung keberhasilan tugas-tugas Polri khususnya dalam pencarian narkotika, SAR dan tugas-tugas lainnya.
BATAM.TRIBUNNEWS.COM, BATAM - Unit Satwa Direktorat Sabhara Polda Kepri menyiapkan kurang lebih sepuluh ekor anjing pelacak atau dikenal dengan kinain untuk menunjang kinerja dalam pengungkapan sejumlah kasus.
Kinain merupakan tulang punggung keberhasilan tugas-tugas Polri khususnya dalam pencarian narkotika, SAR dan tugas-tugas lainnya.
"Kinain adalah tulang punggung keberhasilan tugas Polri. Kita tahu penciuman anjing lebih baik dari tugas manusia. Kita membesarkan kinain agar masyarakat tambah merasa nyaman," kata Dir Sahbara Unit Satwa Kombes Anwar," Senin (2/3).
Kata Anwar dalam setahun Polda Kepri mengeluarkan biaya pemeliharaan, makan dan kesehatan kinain sebesar Rp 270 juta. Kinain dibeli dengan harga per ekornya Rp 145 juta.
Untuk di Polda Kepri ada enam ekor kinain yakni untuk narkoba terdiri dari tiga ekor, untuk peledak satu ekor, untuk pelacak umum dua ekor, SAR satu ekor dan untuk ketaatan kepatuhan ada satu ekor.
"Untuk narkoba kinainnya nama Bob Lexus, dan Tanja. Untuk pelacak bahan peledak namanya Max, pelacak umum namanya Cobra dan Scoot. Sedangkan untuk SAR dinamai Doni dan untuk ketaatan kepatuhan (membubarkan kerumunan massa dll) namanya Boni. Kebanyakan anjing-anjing ini dari Belanda," jelas Anwar.
Pantuan Bnews, Senin (2/3) Kinain atau anjing pelacak tersebut diberikan pelatihan oleh para pawang unit satwa Polda Kepri. Kinain yang berjumlah delapan ekor tersebut diberikan latihan sesuai dengan bidangnya masig-masing.
Seperti untuk pelacakan narkoba, Bob, Lexus dan Tanja dilatih untuk mencium deretan beberapa kotak yang berisi narkoba. Dan mereka berhasil mencium kotak mana yang disimpan narkoba.
Begitu juga dengan Max yang dilatih mendeteksi kotak yang berisi bahan peledak.Selain itu, latihan spesifik juga diberlakukan untuk Cobra, Scoot, Doni dan Boni. Anjing-anjing itu dilatih sesuai bidangnya.
Kata Anwar, kinain-kinain itu sebelumnya akan dilatih dengan terlebih dahulu tes mainan, dengan mengikat bahan yang akan dicium. Setelah itu dikembangkan dengan teknik lain agar penciuman lebih tajam.
" Rata-rata di sini usianya dua tahun. Yang paling tua empat tahun, sekarang di Polres Tanjung Pinang. Masa pensiun delapan tahun dan bisa dihibahkan kepada orang lain," kata Anwar. (Tribun Batam/Alv)