Penguatan Rupiah Sepekan Ini Perlu Diwaspadai!

Sepekan terakhir, rupiah menguat tajam. Bahkan hari ini berada di bawah angka Rp 13.000 per dolar Amerika Serikat (AS).

Tribunnews.com/Hendra Gunawan
Ilustrasi rupiah 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- Sepekan terakhir, rupiah menguat tajam.

Bahkan hari ini berada di bawah angka Rp 13.000 per dolar Amerika Serikat (AS).

Hanya saja, jelang rapat Dewan Gubernur Federal Reserve 17 Maret, tren penguatan rupiah akan kembali diuji.

Rully Arya Wisnubroto, Analis Pasar Uang Bank Mandiri mengatakan, kondisi eksternal masih penuh ketidakpastian.

Spekulasi yang berkembang, Fed belum akan menaikkan suku bunga rapat bulan ini.

"Ada risiko perlambatan ekonomi China yang akan mengganggu pemulihan ekonomi AS," ujar Rully seperti dikutip dari kompas.com, Senin (7/3/2016).

Alhasil, investor memburu negara berkembang seperti Indonesia.

Hingga awal Maret, arus modal asing yang masuk hampir Rp 31 triliun, baik di pasar saham maupun obligasi.

Wajar, rupiah menguat. Namun, Rully melihat penguatan rupiah mulai terbatas.

Derasnya dana masuk lantaran inflasi terkendali dan perbaikan neraca dagang serta defisit transaksi berjalan.

Namun, secara fundamental ekonomi Indonesia belum banyak berubah.

"Rupiah bisa melemah jika data-data ekonomi AS membaik.

Biasanya Mei - Juni, permintaan dolar berlimpah," ujar tresuri tersebut, Minggu (6/3).

Lana Soelistianingsih, Ekonom Samuel Aset Manajemen menambahkan, prospek ekonomi Indonesia perlu mendapat konfirmasi dari produk domestik bruto (PDB) kuartal I-2016 yang dirilis awal Mei.

"Kita lihat, setelah PDB kuartal I, apakah dana asing masuk atau keluar dari dalam negeri," ujar Lana.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved