Saat Dibawah petugas BNN, Bupati Ahmad Wazir Noviadi Dalam Kondisi 'Teler'
"Yang bersangkutan masih terpengaruh narkoba jadi belum bisa diperiksa. Jadi ditunggu dulu kurang lebih tiga hari kedepan,""
BATAM.TRIBUNNEWS.COM - Bupati Ogan Ilir Ahmad Wazir Noviadi (27) diketahui masih dalam pengaruh narkotika, saat dbawa tim penyidik dari Palembang, Sumatera Selatan ke gedung Badan Narkotika Nasional (BNN) di Cawang, Jakarta Timur, Senin (14/3/2016).
Alhasil, petugas belum bisa memintai keterangan dari yang bersangkutan.
"Yang bersangkutan masih terpengaruh narkoba jadi belum bisa diperiksa. Jadi ditunggu dulu kurang lebih tiga hari kedepan," kata Kepala BNN Komjen Budi Waseso, Senin (14/3/2016).
Pria yang akrab disapa Buwas tersebut menceritakan bahwa kedatangan sang bupati ke gedung BNN untuk menjalani pemeriksaan lanjutan.
Hal ini penting untuk mengetahui penanganan terhadap yang bersangkutan. "Hari ini dibawa ke BNN untuk lanjutan pemeriksaan darah dan rambut," tambahnya.
Bagi Buwas, setiap pengguna narkoba harus ditahan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya karena bagian dari penyalahgunaan.
Hal ini sekaligus juga sebagai efek jera agar para penyalahguna narkoba menghentikan kebiasaannya tersebut.
"Namun, apabila dari hasil assessment terbukti sebagai pengguna, baru akan direhab," ungkapnya.
Sang bupati yang dihadirkan dalam jumpa pers tersebut hanya bisa terdiam seribu bahasa. Sesekali kedua tangan sang bupati memegang kepalanya yang tengah menunduk.
Pria yang menggunakan kemeja biru dan celana coklat itu juga terkadang melihat dengan tatapan kosong ke arah awak media.
Tiga Bulan Diintai
Badan Narkotika Nasional (BNN) sudah tiga bulan lamanya mengintai Bupati Ogan Ilir Ahmad Wazir Noviadi (27) terkait kasus penyalahgunaan narkotika.
Hal itu dilakukan setelah petugas mendapatkan laporan dari masyarakat sekitar.
"Kita sudah tiga bulan dapat laporan dari masyarakat kalau yang bersangkutan sudah sering menggunakan narkotika," ungkap Kepala BNN Komjen Budi Waseso, Senin (14/3).
Pria yang akrab disapa Buwas tersebut menceritakan petugas sengaja baru bergerak usai pilkada rampung. Ini untuk mencegah pemahaman bahwa BNN memiliki kepentingan terhadap calon kepala daerah.(*)