Defisit Anggaran Pemkab Anambas Berdampak pada Usaha Masyarakat. Ini Buktinya
Akibat kondisi ini, ada niat ibu dua orang anak ini untuk pulang ke kampung halamannya di Pulau Jawa
BATAM.TRIBUNNEWS.COM, ANAMBAS - Defisit keuangan daerah tak hanya dirasakan kalangan pegawai.
Pedagang yang biasa berjualan makanan pun mengeluhkan omset yang turun akibat minimnya pembeli, terlebih pada tahun ini.
Nur, seorang pedagang warung nasi, mengaku sudah beberapa bulan terakhir sejak awal tahun 2016 ini mengalami penurunan pendapatan.
"Turunnya hingga 30 persen lho pak. Biasanya sehari, bisa dapat sampai Rp 300 ribu. Tahun 2015 kemarin memang sepi, tapi tidak seperti tahun ini.
Mau dapat Rp 100 ribu satu hari saja susah," ujarnya Selasa (19/7/2016).
Akibat kondisi ini, ada niat ibu dua orang anak ini untuk pulang ke kampung halamannya di Pulau Jawa.
Tidak hanya Nur, sejumlah tempat kontrakan yang terpaksa menurunkan harga sewa rumah karena kondisi keuangan seperti saat ini.
Salahsatu pemilik usaha kontrakan bahkan menurunkan harga sewa rumah per tahun hingga 50 persen akibat sepinya penyewa rumah untuk saat ini.
"Biasa kan Rp 35 juta per tahun. Sekarang ini sepi betul. Kalau mau Rp 15 juta silahkan. Kamar ada tiga, berikut dengan pendingin ruangan," ujar seorang pemilik rumah kontrakan yang meminta namanya tidak dikorankan.
Ia menambahkan, penyewa rumah miliknya kebanyakan pegawai di Pemkab Anambas.
"Kondisinya sama-sama tahu lah. Dia pun sudah betah tinggal di sini. Namun, dia dan dua orang kawannya keberatan kalau bayar seperti itu. Kami pun tak bisa paksa. Ya, semoga saja perekonomian Anambas semakin baik lah," katanya.
Defisit keuangan di Anambas setidaknya disebabkan oleh penyaluran dana dari pusat maupun provinsi yang belum dibayarkan ke daerah. Seperti diketahui, mayoritas pendapatan Anambas bersumber dari dana transfer pusat.(*)
* Baca berita terkait di Harian TRIBUN BATAM edisi Rabu, 20 Juli 2016
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/ilustrasi-defisit-anggaran_20150908_202549.jpg)